Balik Pulang

Ilustrasi Gambar: Internet*
Ilustrasi Gambar: Internet*

Hari Jum’at ialah hari terakhir mereka di Ibu Negeri Periangan, berangkat ke bandara di Cingkareng dari bandar ini tak lagi menggunakan kereta api melainkan menggunakan angkutan darat, kawannya telah menyewa dua buah oto[1] Toyota Hi Aces . Konon kabarnya oto ini memiliki rancangan dalam nan (Disign Interior) mewah, dan memang benar memiliki tiga baris tempat duduk pada bagian belakang. Jarak masing-maisng tempat duduk cukup lapang sehingga kaki mereka tak lagi kepenatan karena dilipat. Dua kursi pada baris pertama, dua kursi pada baris kedua yang terletak pada sisi kiri dan kanan serta bagian tengahnya tempat lalu ke belakang. Adapun nan di belakang terdapat tiga kursi, masing-masing kursi lapang dan dapat direbahkan serta memiliki sandaran tangan.

Semalam St. Rajo Basa telah berpesan kepada petugas hotel agar jadwal makan pagi mereka dicepatkan “Kalau dapat pukul setengah tujuh makan paginya engku..” pinta St. Rajo Basa kepada petugas hotel, si engkupun menyanggupi bahkan ditawari pula “Hendak kami bangunkah engku esok pagi?” tanyanya.

Ibu Negeri Periangan diambil dari atas jalan tol
Ibu Negeri Periangan diambil dari atas jalan tol

“Bagus sekali engku, senang hati kami..”jawab St. Rajo Basa

“Pukul berapa engku hendak dibangunkan..?” tanya petugas hotel

“Pukul setengah enam saja engku..” jawab St. Rajo Basa

Esoknya, pukul setengah enam telpon di samping dipan[2] sudah berdering, ketika itu St. Rajo Basa sedang bersiap-siap hendak mandi, St. Palindih nan meangkat. Terdengar olehnya St. Palindih menjawab dan mengucapkan terima kasih.

Pukul tujuh lewat seperempat mereka telah berangkat dari hotel, menuju bandar ibu republik mereka melalui jalan tol nan dua hari nan lalu dipandanginya dari atas kereta api. Di tengah jalan mereka sempat berhenti untuk buang air dan berbelanja serta sempat pula mengambir gambar bersama-sama kawan-kawannya. Lepas dari sini, oto nan mereka tumpangi melaju tanpa henti ke bandara.

Dua orang kawannya sedang berpose di tempat perhentian
Dua orang kawannya sedang berpose di tempat perhentian

Pukul sebelas mereka telah sampai di bandara, sedangkan jadwal keberangkatan mereka pukul satu. Walau disangka terlalu cepat rupanya tak jua, karena tatkala ia dan dua orang kawannya mencari makan, cukup lama juga mereka tertahan di tempat makan karena menanti pesanan. Pukul setengah satu mereka baru kembali ke ruang tunggu penumpang. Tentu saja shalat Jum’at tak dapat mereka tunaikan, melainkan shalat zuhur saja, maklumlah kan musafir..

Sudah lewat pukul satu, telah siap-sedia pula St. Rajo Basa dan kawan-kawannya hendak naik pesawat namun kemudian terdengarlah pemberitahuan dari pengeras suara, suara seorang encik, memberitahukan perihal keterlambatan pesawat mereka disebabkan ada beberapa masalah pada pesawat nan hendak mereka tumpangi.

Cukup lama mereka menanti, sudah habis pula beberapa batang rokok, telah bolak-balik pula ke kamar kecil agak beberapa kali. Diambilnya tempat duduk nan agak dekat ke pintu agar ia cepat masuk ke pesawat dan dapat mengatur dengan bebas barang-barangnya ke atas bagasi di kabin pesawat. Ia duduk tepat dihadapan seorang rangkayo nan membawa cucunya, lelaki. Terkenang ia akan si buyuang, sebesar ini pulalah kiranya badan anak bujangnya. Bedanya, anaknya masih kecil walau badannya besar, menegakkan kepala belum pula pandai. Akhirnya pukul setengah tiga kurang tiba pemberi tahuan untuk naik pesawat. Dan untuk pertama kalinya St. Rajo Basa menjadi nan pertama dicabik tiket pesawatnya, senang hatinya, namun hanya sekejap.

Rombongan St. Rajo Basa
Rombongan St. Rajo Basa

Tatkala keluar dari lorong nan menghubungkan ruang tunggu dengan pesawat ia termenung karena rupanya sudah dinanti petugas, hendak disuruh naik bus mereka “Sia-sia usaha awak menjadi nan pertama..” umpatnya dalam hati. Di atas bus berdesak-desakan dan tiba di atas pesawat bukan pula nan pertama namun masih dapat mengatur bagasi kabin walau agak tersendat. Syukur  ia mendapat tempat duduk di dekat jendela, puas ia mengambil gambar.

Tiba di Bandar Bingkuang hari hujan, ia berencana hendak singgah ke rumah mertuanya di bandar ini, kawan-kawannya telah setuju. St. Rajo Basa diturunkan di simpang di luar kawasan bandar di tengah hujan lebat. Untung ia mendapat pinjaman payung dari kawannya, kalau tidak tentulah sudah basah kuyup badannya.

Hujan lebat, walau sudah berteduh tetap terkena hujan, demikianlah. Semenjak mendapati anak bujang di bandara sebesar anaknya hatinya semakin dikuasai rindu-dendam kepada anak bujangnya. Tak sabar ia melihat rupa anaknya, begitu sampai ia dapati si buyung sedang terlelap, sungguh damai tidur kanak-kanak.

*http://www.toyota.com.au/hiace/range

[1] Mobil

[2] Ranjang, tempat tidur

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s