Stasiun Kereta

Masjid Raya Republik dari bilik hotel St. Rajo Basa
Masjid Raya Republik dari bilik hotel St. Rajo Basa

Esok mereka hendak berngkat ke bandar nan menjadi ibu negeri Pariangan. Rancangan telah dibuat, mereka akan berangkat dengan menggunakan kereta api. Pilihan ini diambil karena di negeri mereka angkutan kereta api ialah jenis angkuta langka.

Dahulu hanya dipakai untuk meangkatu batu bara ke Teluk Bayur, semenjak tahun 2003 tiada dipakai lagi akhirnya mati. Beberapa tahun kemudian diaktifkan jalur kereta api wisata, ke dua bandar di negerinya setiap akhir pekan Sabtu dan Ahad. Kemudian mulai dicoba menjadikannya angkutan umum namun hanya untuk satu bandar nan terletak di pesisir. Sekarang, jalur-jalur kereta api itu sedang dalam tahap perbaikan guna digunakan kembali. Konon kabarnya, jalur lama nan dibuat oleh orang Belanda dahulu akan kembali digunakan.

Demikianlah, kelompok orang udik ini memutuskan untuk naik kereta api. Tiket telah dipesan melalui internet oleh St. Rajo Basa tinggal mencetaknya saja lagi. Setelah bertanya kepada petugas nan berjaga di Stasiun KRL tak jauh dari hotel tempat dia menginap. Didapat keterangan kalau tiket dapat ditukarkan dari pukul 7 pagi – 7 malam. Maka bersegeralah ia bersama St. Palindih kawannya ke stasiun tempat penggantian tiket.

Mereka berangkat dengan menaiki oto sewaan[1] namun ketika hendak pulang mereka memutuskan untuk berjalan kaki saja. Seluruh tiket telah selesai dicetak melalui mesin cetak tiket (setelah bertanya dan meminta tolong dahulu kepada salah seorang petugas).

Menjelang magrib ketika mereka mulai meninggalkan stasiun tersebut. Mereka memutuskan untuk singgah dahulu ke Masjid Raya Republik nan terkenal itu guna menunaikan shalat magrib. Masjid nan konon kabarnya terbesar di Asia Tenggara.

Dia pergi dengan tiada minat, entah mengapa semenjak pertama melihat masjid ini secara langsung beberapa pekan nan silam ia kurang berkenan. Entah dimana kuranya, setelah menapaki kakinya di kawasan masjid ini baru diketahuinya alasannya. Cukup banyak kurang berkenan nan terasa namun usah kita sebutkan disini daftarnya, takut kami kalau dikenakan Pasal Hate Speech..

Usi shalat mereka makan nasi uduk di bagian muka masjid. Cukup ramai orang nan makan disini dan harganyapun cukup pula menguras kantong. Setahunya nasi ini terkenal dengan harganya nan ramah “Ini kan termasuk kepada tempat pelancongan..” ujar kawannya.

Demikianlah, entah kenapa tatkala ia pandangi masjid ini na terasa ialah perasaan hampa dan gersang..

[1] Taksi

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s