Tugu Nasional

Tugu Nasional
Tugu Nasional

Selepas berputar-putar dengan Bus Tingkat Pelancongan, St. Rajo Basa dan kawan-kawan memutuskan turun di tempat perhentian di Tugu Nasional yang menjadi icon dari Bandar Raya ini. Dia dan beberapa orang kawan belum pernah ke sini, sebagian sudah. Tatkala baru turun ada yang mengatakan kalau kawasan ini telah tutup, namun mereka tetap saja mencoba masuk, dan tiada melarang. Kena ota i mereka oleh orang nan tak jelas asal-usulnya itu.

Tatkala hendak pergi ke Museum Nasional tadi, mereka lalu ke hadapan kawasan ini. Tampak oleh mereka beberapa orang berseragam sedang melakukan unjuk rasa, menuntut hendak dijadikan pegawai penuh mereka ini. Banyak Satuan Parit Pagar dan para juru berita disana.

Sungguh aksi unjuk rasa ini bagi orang udik seperti St. Rajo Basa menjadi salah satu pertunjukan pelancongan nan menarik di bandar raya ini. Selama ini ia hanya melihat aksi unjuk rasa di tipi saja. Namun sayangnya pada aksi unjuk rasa kali ini jumlah orangnya tak terlalu banyak dan tak pula terjadi saling dorong atau saling pukul antara pengunjuk rasa dengan petugas keamanan.

Para pengunjuk rasa
Para pengunjuk rasa

Kalau di bandarnya ada Jam Gadang maka di bandar raya ini ada Tugu Nasional nan dipucuknya terdapat bongkahan emas yang konon kabarnya hasil sumbangan dari saudagar asal Aceh. Sesuatu nan jarang disebut orang apabila mengenang perihal Tugu Nasional ini.

Tugu ini berada di tengah-tengah taman nan luas, konon kabarnya dahulu banyak pedagang kaki lima berjualan disini namun sekarang tak satupun nan tampak. Kecuali beberapa orang pedagang nan tengah mencari rupiah di luar gerbang taman, di dekat para pengunjuk rasa.

Semua ini berkat Tuan Gubernur nan hebat, tatkala dalam perjalanan dari bandara tengah hari tadi, sopir taksinya juga memuja-muja Tuan Gubernur dan Tuan Besar. Menurut Si Sopir nan berasal dari bagian tengah pulau ini, berdua mereka ialah pasangan nan cocok. Ketika itu Si Sopir menunjukkan perihal sebuah batang aia – yang orang sini sebut kali – yang sudah dibersihkan dari para penghuni liar nan membuat batang aia itu kotor.

Para pengunjuk rasa, diambil dari arah tunas (Tugu Nasional)
Para pengunjuk rasa, diambil dari arah tunas (Tugu Nasional)

St. Rajo Basa diam saja, tak hendak menjawab, dia sedang di negeri orang.

Tak lama ia berada di kawasan taman Tugu Nasional ini, beberapa orang kawannya telah mendesak untuk kembali ke hotel. Walau kecewa ia tak hendak berdebat dengan kawannya. Dia hanya dapat memandang tugu ini dari jarak beberapa meter, menaiki tangganya saja tak dapat. Belakangan ia tahu, kawannya tersebut telah pernah datang ke sini makanya ia tak ada minat, dasar jenis orang nan suka mementingkan diri sendiri.

Memanglah tugu ini sudah tutup semenjak pukul tiga tadi, nan tutup ialah apabila hendak masuk ke dalam tugu, memandangi bandar raya ini dari puncak tugu. Bermain-main dibawahnya tampaknya tak mengapa.

Mungkin bukan jodohnya untuk dapat sekadar mengamati tugu ini dari dekat. Mungkin nantin, entah bila..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s