Diziarahi Maling

Ilustrasi Gambar: Internet
Ilustrasi Gambar: Internet*

Petang hari begitu sampai di rumah tatkala pulang dari kantor, St. Malenggang mendapat kabar nan mengejutkan dari adik perempuannya “Ada maling masuk rumah kita tuan, ke bilik tuan ia masuknya..” lapor adiknya sambil tersenyum.

“Bagaimana ceritanya dinda, bilakah kejadiannya?” tanya St. Malenggang cemas.

“Tadi pagi, pukul sepuluh tuan. Dinda tak pula mendapati sebab ketika itu dinda sedang berada di pasa[1] membeli barang untuk diniagakan. Abang nan mendapati maling itu tatkala pulang hendak makan. Bunda ketika itu menolong ayah di lepau sebab orang ramai..” jelas adiknya.

“Orang sedari tadi tiada henti ke rumah tuan..” tambah adiknya.

Terkenang ia akan kejadian kemalingan di bulan puasa nan lalu di rumah bakonya. Ketika itu ramai pulang orang datang ke rumah bakonya silih berganti, menjanguk istilahnya. Melihat apa nan berlaku, bertanya kepada nan menjadi korban kemalingan, serta memberikan nasehat ataupun menyampaikan rasa sedih nan juga turut dirasakan atas musibah nan berlaku.

Ketika ia sampai di rumah, didapatinya ipa[2]nya beserta isteri dan anaknya, kemudian paktangahnya[3] sedang ada di rumah. Adik lelakinya yang menghadapi si maling juga ada.

Menurut cerita dari adik lelakinya, ketika dia baru sampai rumah ia mendengar ada seseorang di bilik tuannya – bilik St. Malenggang – diapun berucap dalam hati “Ah, sudah tak ke kantor pula tuan” dan segera ia menengok ke arah tempat parkir onda. Tersirap darahnya karena onda sudah tak ada, berarti tuannya telah berangkat ke kantor. Lalu siapa nan ada di bilik itu?

Dengan cemas ia segera menuju bilik tersebut, membuka bilik itu secara perlahan namun anehnya serasa ada orang dibalik pintu. Segera di tengoknya, alamak, ada orang asing, seorang anak bujang nan dikeluarkan di sekolahnya di SMK. Pernah pula ketahuan mencuri uang di warnet milik keluarganya.

Segera ditariknya anak kurus kerempeng namun lebih tinggi dari dia agak beberapa senti. Terjadi saling tarik-menarik, mukanya ditundukkan dengan harapan agar tak ketahuan, namun sia-sia, mukanya sudah ketahuan.

“Maling engkau..!!” bentak adik St. Malenggang sambil tarik-menarik.

“Tak..!!” jawabnya. Lagi pula mana ada maling dan mengaku maling, maling jujur.

Dalam usaha tarik-menarik itu, si kerempeng berhasil meloloskan diri. Lari ke belakang rumah dan segera lari ke perak belakang. Adik St. Malenggang segera pergi ke lepau memberitahukan kepada kedua orang tuanya serta Kepala Jorong nan sedang berada di labuh melihat orang kerja mencor tepi jalan.

Mulanya Kepala Jorong Binguang ini tak menanggapi laporan dari adiknya namun kemudian ia pergi ke rumah memangil-manggil dan kemudian baru ditanya. Tampaknya orang nan ditinggikan seranting, di dahulukan selangkah di jorongnya ini tak memiliki rasa dan tanggung jawab sebagai pemimpin. Setelah mendapat nasehat dari orang kampung baru ia hendak.

Maka pergilah adik St. Nagari ke labuh menceritakan kepada orang kampung nan telah ramai. Maklumlah hari itu hari Selasa merupakan hari pekan di kampung mereka. Menurut Kepala Jorong pasti lari ke Kabun ia, sebuah kampung nan terletak di belakang perak rumah St. Malenggang. Nan lain berkata mungkin ke Mangkudu larinya, sebuah kawasan perak di kampung mereka tak jauh di belakang rumah St. Malenggang.

Namun rupanya, si kerempeng sembunyi di perak di belakang surau di sebelah rumah St. Malenggang. Dengan santai ia berjalan, menaiki ondanya, tampak oleh adik St. Malenggang “Hah.. itu dia orangnya..” berlarilah adik St. Malenggang dengan salah seorang orang kampung mereka mengejar.

Orang kamung nan ikut mengejar berteriak “Hei, berhenti engkau di situ..!!” melihat ada nan mengejar, segera ia pacu ondanya, kabur ia.

Salah seorang rangkayo menyesali “Kenapa diteriaki, engkau kejarlah dengan onda pula..” namun sudah terlambat. Si kerempeng telah berhasil lari. Kata orang nan berselisih dengan ia di Kampung Tapi, Si Kerempeng hampir terjatuh tatkala melintasi tanggul (polisi tidur) di hadapan Surau Tapi.

Berita dengan cepat menyebar, orang kampung ramai datang, dan orang di pekanpun ramai menyampaikan kabar tersebut. Rupanya pelakunya merupakan anak nagari jiran. Kepala Nagari jiran langsung dikabari, dan mereka menganjurkan agar laporan dimasukkan ke kantor mereka agar mereka dapat membuatkan surat perintah untuk menjemput. Tanpa adanya surat perintah itu, mereka tak dapat berbuat apa-apa.

Segera adik St. Malenggang melaporkan dan segera pula orang tua beserta mamak Si Kerempeng dipanggil ke kantor Wali Nagari. Kabar terakhir nan di dengar, perkara ini sedang dalam proses.

Sebenarnya sempat diusulkan oleh Ketua Pemuda Nagari hendak melaporkan ke polisi namun tak berapa lama kemudian disarankannya agar tak usah dahulu. Lebih baik diselesaikan di tingkat nagari.

St. Malenggangpun berpendapat demikian, demi menimbang raso lebih baik diserahkan ke pihak nagari. Lagipula tak ada nan dimaling ataupun terluka. Dicemaskan oleh St. Malenggang kalau sampai ia dipenjara nanti kepandaiannya bertambah selama di penjara. Bisa juga orang tua, keluarga, dan diri si kerempeng sendiri akan menyimpan rasa dendam kepada keluarga St. Malenggang.

Kabarnya, pada malam hari baru Si Karempeng bersua setelah dicari bersama-sama oleh orang kampung.

Beberapa hari kemudian datanglah panggilan kepada keluarga St. Malenggang dari Kantor Wali Nagarinya. Panggilan perihal penyelesaian perkara maling ini. Fihak Kantor Wali Nagari Jiran beserta keluarga Si Karempeng turut hadir. Adapun fihak keluarga St. Malenggang diwakili oleh adik lelakinya.

“Ibu Si Karempeng tampak menangis saja tuan..” kisah adiknya “Rupanya ayahnya telah lama pergi merantau dan belum ada kabar beritanya hingga saat ini. Abangnya bekerja dengan orang selepas pulang sekolah. Sedangkan Si Karempeng sendiri sudah berhenti sekolah..”

“Rupanya mereka bukan orang kampung jiran tuan, ayahnya nan orang sana..” Lanjut adiknya.

Akhirnya dibuatlah kesepakatan damai. Dalam kesepakatan tersebut, fihak keluarga St. Malenggang takkan menuntut Si Karempeng. Namun Si Karempeng dikenakan larangan mendekat ke rumah dan lepau keluarga St. Malenggang.

Demikianlah hasil akhir penyelesaian perkara kemaliangan ini. Rupanya perkara kemalingan ini tak hanya berlaku pada rumah keluarga St. Malenggang saja. Sudah banyak berlaku perkara nan serupa akhir-akhir ini di kampungnya. Sungguh semakin hari, negeri ini semakin tak aman saja.

* http://ikhwansaputera.com/pencuri-buah/

[1] Bagi penduduk Agam Timur, Bukit Tinggi disebut dengan Pasa.

[2] Sepupu, anak saudara lelaki ibu

[3] Ipa bundanya

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s