Iradah

Dari Jam Gadang ke Istana Bung Hatta. Pada suatu petang di hari Kamis pada pekan awal bulan November
Dari Jam Gadang ke Istana Bung Hatta. Pada suatu petang di hari Kamis pada pekan awal bulan November

Akhir bulan ke sepuluh pada tahun 2015 ini merupakan hari-hari bersejarah di negeri kami. Selepas di dera hujan lebat nan diiringi hujan biasa beberapa hari kemudian, langit di negeri kami berangsur-angsur tampak. Kabut asap mulai hengkang, perlahan-lahan tentunya. Bersyukur kami karena setidaknya beberapa hari ini udara nan dihirup agak lebih bersih dari hari-hari nan lalu. Berharap pula kami agar selepas ini jangan datang kembali kabut asapnya.

Pelajaran dari masa beberapa pekan nan lalu, tatkala hujan datang kabut asap tiada berkurang. Kalaupun ada berkurang itupun sedikit dan keadaan akan kembali sedia kala.

Menarik perhatian kami tatkala membaca berbagai status di fesbuk. Ada nan mengucapkan syukur kepada Allah Ta’ala atas berkah hujan dan berkurangnya kabut asap. Ada nan menautkan berita perihal Shalat Istisqa (Shalat Minta Hujan) di beberapa daerah, termasuk di bandar kami. Ada pula nan menautkan berita perihal himbauan dari Raja Saudi Tuanku Salman kepada rakyat dan ulama di negerinya agar mereka melaksanakan Shalat Istisqa untuk saudara mereka di republik ini. Subhanallah..

Namun ada nan ganjil, ada pula berita nan mengabarkan bahwa Tuan Besar berpendapat hujan itu turun karena dilakukan penebaran garam di atas awan, dengan kata lain hujan buatan. Singkat kata, manusialah nan berjasa perihal hujan nan turun itu. Entah iya, entah tidak.

Suatu pagi di hari Kamis pada pekan pertama bulan November
Suatu pagi di hari Kamis pada pekan pertama bulan November

Terkenang kami dengan kaji di surau semasa mengaji dahulu. Ketika itu tuanku[1] nan memberi pengajian mengambil tajuk “syirik nan tak disengaja”. Seingat kami, tuanku memberikan contoh serupa ini “Kita mesti berhati-hati dalam berucap dan bersikap dalam keseharian, agar jangan terjerumus kepada syirik. Syirik itu tak hanya perkara mengaku tuhan selain Allah. Marilah awak beri contoh umpamanya. Apabila engku, rangkayo, serta encik sekalian sakit maka akan pergi berobat ke dokter. Lazim kita temui di tengah-tengah masyarakat kita pada masa ini mereka akan saling menyarankan ‘Pergilah berobat ke engku dokter fulan, ia hebat mengobati orang. Awak ini telah lama sakit, telah pergi ke beberapa orang dokter bahkan dukun, tiada sehat-sehat. Tatkala awak pergi ke engku dokter fulan, awak langsung sehat beberapa hari selepas minum obat nan diberikannya’ demikiankan engku-engku, rangkayo, serta encik sekalian?”

Darri Jam Gadang arah ke Pasa Ateh. Pada suatu petang di hari Kamis pada pekan awal bulan November
Darri Jam Gadang arah ke Pasa Ateh. Pada suatu petang di hari Kamis pada pekan awal bulan November

Orang-orang nan hadir di surau ketika itu tiada menjawab, hanya tersenyum saja. Tuankupun kembali melanjutkan kajinya “Itu telah termasuk kepada perkara Syirik engku-engku sekalian. Kenapa demikian? Padahal  engku sudah terbiasa dengan perkara tersebut..”

“Dengan berkata demikian, engku, rangkayo, serta encik sekalian telah mengakui ada kekuatan lain selain Allah di muka bumi ini. Nan benar ialah Allah Ta’alalah nan menyehatkan engku, rangkayo, serta encik sekalian. Adapun dengan engku dokter itu perantaranya saja. Kalau Allah tak menggerakkan hatinya, tak menajamkan fikirannya, takkan berlaku kesehatan nan diharapkan itu..” terang tuanku.

Kami hanya tersenyum saja tatkala membaca tautan berita tersebut, tak mengaji mereka ini agaknya.

[1] Tuanku atau buya ialah gelar atau panggilan kepada ulama di Minangkabau

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s