Blok M

Masjid Nurul Iman, tampak dari hadapan.
Masjid Nurul Iman, tampak dari hadapan.

Blok M ialah sebuah kawasan nan sangat terkenal sekali pada masa dahulu, setidaknya masa St. Rajo Basa masih bujang jolong gadang dahulu dimasa akhir tahun 1990an dan awal tahun 2000an. Namun sekarang telah banyak Mall nan dibuat orang. Letaknya menarik karena berada di bawah tanah, terhubung langsung ke halte busway.

Dahulu – lima tahun nan silam – St. Rajo Basa pernah dibawa oleh Marah Magek ke kawasan ini, tepatnya ke Blok M Square. Disini mereka mencari buku murah dan kemudian menonton di bioskop duo-ciek nan terletak di lantai lima. Sebelum menonton mereka shalat dahulu di masjid – Nurul Iman – nan terletak di atap bangunan pasar ini.

Sungguh menarik, karena dimana-mana di bangunan pusat perbelanjaan masa kini – nan hanya menyediakan mushalla – meletakkan ruangan tempat shalat di lantai bawah (basement). Namin berlainan dengan tempat perbelanjaan ini. Kini, masjid itu telah diperancak memikat hati, ada Ka’bah tiruan tempat orang berlatih manasik haji.

Disini St. Rajo Basa membeli buah tangan untuk keluarganya dan juga mencari buku untuk dibeli. Lepas itu mereka makan di lantai lima, di dekat bioskop dan kawasan bermain (gamezone). Lepas itu mereka duduk-duduk di lantai paling puncak menanti waktu magrib. Rupanya ramai pula orang nan sepemikiran dengan mereka. Satu lagi nan menarik hati, tempat parkir kendaraan ada di dua lantai paling puncak dari bangunan ini.

Ka'bah tiruan di dalamkawasan masjid
Ka’bah tiruan di dalamkawasan masjid

Lepas shalat mereka turun ke bawah, semenjak dari tempat bilik sewaan Marah telah disampaikan oleh St. Rajo Basa kalau ia hendak mencari kursi nan bisa mengurut. Marah kata lebih baik di tempat nan akan mereka tuju saja lagi. Maka jadilah selepas magrib mereka diurut di hadapan orang ramai. Tiada malu mereka..

Banyak nan menyediakan jasa mengurut. Ada nan urut kaki saja, urut badan saja, ada jua nan urut sepenuhnya. Untuk nan pertama dan kedua, tempatnya hampir tersedia tiap lantai. Apabila diurut tak perlu membuka baju, tak serupa dengan tukang urut di kampungnya. Tak pula pakai minyak nan berbaun dan lengket dibadan dan baju. Biaya upah tukang urut ini ialah 10 ribu untuk 15 menit, 30 menit menjadi 20 ribu. Adapun di tempat tukang urut nan lain, menurut keterangan dari Marah ialah 60 ribu.

DSC09697Ia dan Marah minta diurut, sedangkan St. Palindih tiada, badannya tiada penat, maklumlah pekerja keras ia. Cukup lumayan rasanya, penat-penatnya agak berkurang. Hanya saja sakit di kepala tiada hilang. Padahal telah dimintanya tukang urut mengurut kepalanya.

Selepas itu mereka segera menuju ke halte busway dengan tujuan Kota Tua di bagian utara. Tujuan semula ialah Menara Nasional namun diurungkan atas saran Marah Magek “Tiada menarik di kalam malam..” katanya.

Di busway, untung ia mendapat tempat duduk. Kalau tidak, badannya tentulah akan penat kembali di tambah kepalanya nan semakin mendengak-dengak[1]. Apalagi ia mesti menjinjing plastik asoi[2] nan berisi buah tangan untuk keluarganya.

[1] Mendenyut-denyut

[2] Kantong plastik, kantong kresek

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s