Melalar*

Pemandangan dari salah satu tempat penyeberangan menuju halte busway di sekitar hotel tempat St. Rajo Basa menumpang
Pemandangan dari salah satu tempat penyeberangan menuju halte busway di sekitar hotel tempat St. Rajo Basa menumpang

Tidak banyak kegiatan nan dilakukan oleh St. Rajo Basa di hari terakhir. Beberapa orang kawan-kawannya ada nan datang terlambat bahkan tak hadir dalam ruangan tempat acara diadakan. Sebenarnya mereka memiliki beberapa masalah namun karena St. Palindih tak sengaja menghapus program aplikasi pada laptopnya, akhirnya tiada nan dapat dilakukannya.

Pukul 12 tengah hari mereka mesti menyerahkan kunci bilik hotel, kalau tidak maka mereka akan kena denda. Lepas itu mereka berencana akan pergi ke rumah sewaan – tepatnya bilik sewaan – kawan kosnya semasa kuliah dahulu di kawasan Radio Dalam, Dangau Rancak.

Marah Magek nama kawannya itu, memberi petunjuk untuk naik busway saja dan kemudian berganti bus (transit) di kawasan harmoni dan kemudian turun di Halte Ratu Plaza. Satu nan tak diberitahu oleh kawannya itu, sekarang bukan zamannya tiket lagi melainkan Zaman Kartu (Ingat Tuan Besar nan gemar membuat kartu). Untuk dapat memasuki halte busway maka mereka mesti membeli kartu dahulu. Harga kartunya 50 ribu telah termasuk saldo 20 ribu didalamnya. Hanya St. Rajo Basa nan membeli kartu, St. Palindih menumpang saja.

Kartu nan mesti dipunyai setiap orang nan hendak masuk ke dalam halte busway
Kartu nan mesti dipunyai setiap orang nan hendak masuk ke dalam halte busway

Kartunya serupa kartu ATM, ada merek salah satu bank swasta di sana.”Kalau kartu ATM bank hilang kita hanya kena ganti 20 ribu saja..” kata St. Palindih. Tapi usahlah difikirkan, kita terpegang pisau diujungnya, kata St. Rajo Basa dalam hati.

Bus nan menuju Harmoni rupanya Bus Trans Jabodetabek. Di Halte Harmoni rupanya telah ramai orang nan antri menanti bus jurusan Blok. M nan hendak mereka naiki. Akibatnya, tatkala berhasil menaiki bus setelah beberapa menit menanti, mereka tiada mendapat tempat duduk, tegak mereka sampai tujuan. Ramai nan tegak-tegak serupa mereka itu.

Hampir sebagian busway berupa bus gandeng, berlainan dengan dahulu – lima tahun nan silam – yang pernah dinaiki oleh St. Rajo Basa. Bagian muka bus khusus untuk perempuan, berlainan dengan dahulu nan bercampur saja. Mungkin karena telah acap terjadi kekurang ajaran terhadap perempuan.

Penat juga badannya membawa tiga tas, satu tas kecil disandang samping, tas ransel agak besar disandang ke belakang, dan terakhir tas sandang belakang hasil pembagian dari acaranya di hotel dijinjing saja, tiada tempat lagi di badannya. Ketiga-tiganya berat-berat, sungguh penat-penat badannya, tapi ditahan saja.

Salah satu patung orang Yunani
Salah satu patung orang Yunani

Beberapa menit berlalu, akhirnya Marah Magek sampai juga di halte Ratu Plaza. Marah membawa satu onda, akhirnya dipesanlah Golek, sebuah anhkutan ojek nan sedang terkenal di ibu kota republik ini. St. Rajo Basa nan meminta, biar St. Palindih diboncengi Marah saja, ia nan naik Gojek. Ia penasaran, serupa apa benar Gojek itu?

Sebenarnya selain Gojek juga ada jenis perusahaan lain nan menawarkan sistem serupa yakni Grabbake, namun Golek lebih terkenal karena pernah masuk tipi atau media lainnya. Sering pula dibahas di jejaring sosial. Dia baru tahu perihal Grabbake ini baru saat ini, tatkala malala[1] di Jakarta.

Sebenarnya jenis angkutan ini sama dengan ojek nan biasa. Nan membuat beda ialah pemesanan dan kepastian upah (tarif) saja. Ditambah sudah ada pula aplikasi khusus nan dapat diinstal di hape orang sekarang. Selebihnya sama, tiada beda, masih memakai onda[2] buatan orang Jepang.

Demikianlah, setelah mengecap manisnya keadaan jalan di kota ini, akhirnya mereka sampai juga di bilik sewaan Marah nan telah lebih lima tahun disewanya. Bilik nan sama dengan nan dahulu – lima tahun nan silam – pernah ia silau. Tiada nan berubah, masih basilemak peak [3] serupa dahulu.

Hanya sekejap di sini, lepas Ashar mereka menuju Pasar Blok. M dengan misi mencari buah tangan. Lepas itu usai magrib mereka berangkat dengan menaiki busway menuju Kota Tua di bagian utara. Sesudah itu, pukul sepuluh kurang sepuluh mereka telah kembali ke Pondok Rancak, tepatnya di Mall Dangau Rancak. Pukul tiga kurang seperempat menjelang perak siang baru mereka kembali ke bilik sewaan Marah.

Kisah mereka berikutnya akan kami tuliskan nanti, bersabarlah engku karena Si Buyuang sudah mintak diguyu[4] pula.

*Plesetan dari kata “Malala” dalam Bahasa Minangkabau

[1] Keluyuran

[2] Motor

[3] Berantakan

[4] Dirayu, digoda, dibawa bercakap atau bermain

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s