Kampungan..

Terdengar kabar dari kampungnya kalau hujan telah turun dengan lebat, mengusir kabut asap, walaupun sekelebat, namun sudah syukur sangat, karena berkurang jua racun nan didapat. Adiknya bergurau “Sepergi tuan, bersih udara di negeri kita ini. Lama-lama sajalah tuan disana..” Sungguh ther-lha-lhu..

Berharap ia agar udara semakin bersih tatkala ia pulang nanti. Cemas ia kalau kembali tebal kabut, karena pastilah seloroh nan lain nan didapat “Kembali tuan, kembali pula kabut asap.. handeeh..”

DSC09685Sebagai orang kampung ada satu hal nan di keluhkan oleh St. Rajo Basa, ia tak terbiasa buang air besar di kloset duduk. Semenjak kecil ia telah terbiasa mencongkong[1] apabila hendak melepaskan hajad besarnya. Hilang akalnya karena payah keluar nan biasa keluar dengan lancar, bingung ia karena ember dan gayung tak ada, “Bagaimana hendak membasuhnya ini..?” tanyanya dalam hati. Dia keheranan ada tisu gulung terletak di dekat tempat buang hajad, tisu yang sama bentuknya biasa terletak di beberapa rumah makan kotanya, disini diletakkan orang di dalam kamar kecil. Sungguh rendah derajat tisu ini di kota ini, sebaliknya di kotanya tisu ini memiliki derajat tinggi.

Ada juga nan membuat dia takjub, ruang rapatnya dilapisi karpet nan sangat tebal sekali dan orang-orang sama sekali tak disuruh melepaskan alas kaki mereka. Hebat, tak ada kumuh tampak dimatanya nan rabun jauh itu. Demikian pula di lorong bilik hotelnya, dilapisi karpet pula, dan tak pula ada tampak kumuh dimatanya. Sungguh berlainan kalau hal serupa di kampungnya, tentulah telah banyak lunau[2] nan menempel atau bewarna kekuning-kuningan karena terkena air. Ini tandanya orang sini kaya-kaya, berlainan dengan di kampungnya.

Diapun beruntung dapat bilik di lantai nomor sembilan, walau sebenarnya ia berkeinginan dapat lantai enam belas setelah mengetahui kalau lantai hotel ini 16 jumlahnya. Dari jendala nan cukup lebar di biliknya, pemandangan ibu kota republik tampak jelas.  Nun jauh disana ada gedung-gedung bertingkat. Sejauh mata memandang bangunan rumah, ruko, pekantoran, hotel, dan lain sebagainya. Warna hijau hanya satu-satu tampak menyumbul dari jejeran bangunan beton.

Terbayang dibenaknya, tentulah dahulunya disekitar sini ialah hutan atau rimba atau belukar semata dan hawanya tentulah sejuk tak serupa sekarang, serta tiada suara bising kendaraan. Namun inilah kemajuan, bangunan satu dengan bangunan nan lain saling berhimpitan letaknya, memperebutkan tanah nan sejengkal. Berdo’a ia dalam hati agar kampungnya, kotanya, dan negerinya tak serupa ini nantinya. Habis dijual-jual kepada para pemilik KAPITAL atas nama KEMAJUAN. Jangan sampai..

Di hotel ini terdapat sebuah tempat fitnes, St. Palindih kawannya telah coba-coba bertanya “Tiada membayar katanya engku, cukup perlihatkan saja kunci kamar awak nan serupa kartu ATM ini..” terang kawannya itu dengan bersemangat. Ada pula kolam renang namun masuknya mesti melalui tempat fitnes yang segera tutup pukul sepuluh malam. Hari pertama mereka menginap telah dicoba oleh St. Palindih untuk masuk, kena tolak ia karena memakai sandal”Mesti memakai sepatu engku, kalau tiada sepatu kami dapat menyewakan. Harganya dua puluh ribu sekali sewa..” ujar pegawai disana.

Kami hanya tersenyum saja, tak hanya sekolah, kampus, ataupun kantor nan mewajibkan memakai sepatu tapi tempat fitnes ia pula. Terkenang olehnya semasa mengikuti Latihan Pra Jabatan (LPJ) dahulu, disaat malam penutupan calon pegawai nan lelaki kesemuanya memakai sandal. Akibatnya marah kesal orang diklat, tak hendak mereka menghadiri acara malam perpisahan tersebut. Penampilan [sepatu] ialah nan utama..

Akhirnya pada keesokan harinya diusulkan oleh St. Rajo Basa “Pakai saja sepatu engku ini, sepatu inikan tak serupa sepatu nan biasa dipakai orang ke kantor..” benar saja, petang harinya dicobanya oleh Saidi Palindih dan berhasil ia. Fitneslah ia ditengah-tengah perempuan bohay nan memakai pakaian ketat. St. Rajo Basa lebih memilih tinggal di kamar, mendownload filem dengan koneksi internet nan cukup kencang di kamar hotel.

Satu hal nan dipelajarinya, lebih baik tinggal di dalam kamar atau dalam bangunan hotel daripada berjalan malala[3] keluar, sebab udara di dalam hotel lebih sejuk.

[1] Jongkok

[2] Lumpur

[3] Keluyuran

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s