Melintasi Pulau

Dari atas pesawat, kabur gambarnya
Dari atas pesawat, kabur gambarnya

“Tunggu dahulu engku, awak balik dahulu ke kantor..” demikianlah jawaban nan didapatkan oleh St. Rajo Basa tatkala ditelpon oleh sopir travel nan akan menjemputnya ke Padang. Namun jemputan itu tak pernah tiba, kampung St. Rajo Basa terlalu jauh di kaki bukit, enggan mereka menjemputnya. Kalaupun dijemput jua, ia akan kena tambah uang jemputan nan tak sedikit jumlahnya, cukup untuk memenuhkan isi tank ondanya[1].

Akhirnya  dengan diantarkan adiknya ke perbatasan kota, pergi juga ia dengan travel, dengan perusahaan travel nan lain. Setidaknya di Padang kabutnya tak setebal di Bukit Tinggi. Ia terkenang dengan ayah, bunda, adik-adik dan seluruh keluarganya. Kedua adik dan ayahnya baru sehat dari penyakit, hanya bundanya seorang nan masih kuat.

Ia berangkat ke Bandar Padang di hari Selasa ini karena esok ia hendak ke Jakarta, ada tugas dari kantornya. Sebenarnya acaranya hari Kamis namun dia mendapat saran agar berangkat satu hari sebelum dan pulang satu hari sesudah. Namun seorang kawannya nan bernama St. Palindih memutuskan untuk berangkat Kamis pagi, tiada hendak Rabu. Esok ia telah mendapat tiket pukul setengah empat petang, begitu sampai ia akan langsung menuju Depok ke rumah ipa[2]nya. Disana ia akan menumpang semalam dan besoknya baru berangkat ke hotel tempat acara berlangsung, di Jakarta Pusat.

Terasa berat di hatinya, tatkala melihat anak-bininya. Terutama anak bujangnya nan masih dalam pangkuan, masih kuat menyusu kepada bundanya. Suaranya nan masih berupa seruan terngiang-ngiang ditelinganya, isterinya nan kepayahan penyusukan, menyasah (menyuci) pakaian si buyuang, dan memenuhi kebutuhannya sendiri terkenang-kenang pula. Kalau ada dirinya akan sedikit berkurang kepayahan isterinya. Hujan baru saja teduh tatkala ia sampai di Bandar Padang.

Seharian hari Rabu cuaca mendung, malok kata orang kampungnya. Ditambah dengan kabut asap semakin memperjelas mendungnya hari. Sempat turun hujan lebat di pagi hari, hanya beberapa menit, selepas itu tak lagi, dan nan kabut asap tetap tak berkurang. Si buyuang telah membawa-bawa ia untuk bercakap-cakap, senyumnya, ringinsannya, tangisnya, dan cemberutnya merayu-rayu ayahnya agar tak jadi pergi.

Salah satu Perumahan di Depok
Salah satu Perumahan di Depok

Setengah jam sebelum berangkat sampai ia di bandara, tak ada bagasi dan langsung menuju ruang tunggu. Ada satu keanehan nan membuat ia kesal, kebijakan baru mengharuskan semua orang melepaskan ikat pinggang tatkala melalui metal detector. Kesal ia, namun ada nan lebih kesal lagi seorang engku-engku “Sudahlah celana awak ini lapang, disuruhnya pula membuka cawek[3] tagajai[4] celana awak ini dibuatnya..”

Padahal dahulu tak ada kebijakan serupa itu, sekarang saja, semenjak bertuan besar baru republik ini.

Ruangan tunggu bandara nan kecil – apabila dibandingkan dengan nan di Jakarta –  penuh sesak, banyak calon penumpang nan tegak-tegak karena tak dapat tempat duduk, demikian pula dengan St. Rajo Basa. Tapi sebelum itu ia pergi ke kamar kecil dan memasang cawek agar celananya nan lapang tak tagajai, malulah awak.

Sekitar sepuluh menit menanti akhirnya para penumpang disuruh naik ke pesawat. Dan seperti biasa timbul antrian panjang penumpang nan berebut masuk. Sebelah pintu dibuka karena hanya ada satu orang petugas perobek tiket, seorang perempuan muda. Tatkala sampai tiba giliran St. Rajo Basa, tiba-tiba ia diserobot oleh seorang perempuan tua di sebelah kirinya. Petugas perobek karcis mengambil tiket St. Rajo Basa, mengabaikan si perempuan tua nan dari penampilannya tampak berasal dari perkampungan di propinsi ini. Begitu tiket St. Nagari Basa selesai di robek, si perempuan tua tetap berdiri agak menyilang sehingga menghalangi langkahnya untuk keluar dari barisan. Si perempuan muda perobek kertas tiba-tiba membentak St Rajo Basa dengan bahasa Indonesia logat Jakarta “Keluarnya..!!!” dengan nada kasar dan pandangan angkuh.

Terkejut ia “Ada apa pula ini, kenapa awak pula nan kena hardik!? Perempuan tua ini nan tak taat aturan, awak nan mendapat getahnya..” ucapnya dalam hati. Namun ekspresi nan diperlihatkannya hanyalah sebuah senyuman kecil, senyuman sedih dan mungkin saja senyuman mencemooh. Entah ada apa dengan orang sekarang, nan tua ataupun nan muda sama saja. Kehilangan raso, tak memiliki kehalusan budi layaknya orang Timur, Orang Minangkabau.

Di atas pesawat, di atas awan, ia melihat betapa sinar  matahari petang begitu menyenangkan. Di bawahnya, putih semata, tak ada birunya air laut seperti nan biasa ia dapati. Agak payah ia membedakan mana nan asap dan mana awan. Sepanjang perjalanan, putih segala pemandangan di bawah sana. Maklumlah, Pulau di Atas Awan, Pulau Andalas.

Pukul enam kurang sepuluh telah mendarat pesawat nan ditumpanginya, langit telah gelap. Walaupun memiliki waktu nan sama dengan Padang namun sesungguhnya waktu di Jakarta lebih cepat sekitar dua puluh menit. Hal ini karena waktu shalat lebih cepat sekitar dua puluh menit dari Padang. Keluar dari Bandara ia segera mencari bus nan menuju Depok, sekitar seperempat jam menanti akhirnya datang juga. Sekitar lima puluh menit di atas bus, melalui tiga entah empat pintu tol, dimana sebagian besar jalan dilalui bus melalui tol. Barulah di dekat perbatasan Jakarta Selatan bus keluar dari tol. Kata sepupunya waktunya macet tatkala ia lalu, namun syukur tiada bersua.

Dijemput oleh sepupunya, kembali ia lalui jalan nan lima tahun nan silam pernah acap dilaluinya tatkala berulang ke Jakarta. Dahulu, sebelum diterima menjadi pegawai ia sempat beberapa kali ikut tes kerja di Jakarta namun tiada satupun nan lulus, gagal di tes terakhir, wawancara. Di perjalanan diperhatikannya langit, nun jauh di atas sana sedang purnama bulan, bersih pemandangan tiada nan menghalangi. Inilah pertama kalinya ia dapat melihat bulan bersih tanpa ada nan menghalangi semenjak lebih dari tiga bulan nan lalu.

[1] Motor

[2] Anak dari saudara lelaki ibu (mamak).

[3] Ikat Pinggang

[4] Melorot

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s