Manis itu habis jua..

Manis itu habis juga, sudah cukup lama dikunyah nan namanya sepah akan dibuang dari mulut sebab tiada berguna karena tiada berasa. Maka dari itulah orang tua kita masa dahulu membuat pepatah: habis manis, sepah dibuang.

Ungkapan tersebut beranjak dari keadaan nan didapati dalam kehidupan. Keadaan nan serupa dengan orang nan mengunyah untuk menghisap manis kemudian membuang sepahnya. Mencerminkan seseorang nan tiada dihargai lagi apabila dia tiada mendatangkan faedah pada orang tersebut. Sungguh malang memang..

Ada jua pepatah nan serupa tapi tak sama: bertanam tebu di tepi bibir. Maknanya ialah seseorang nan bermanis mulut untuk mendapatkan sesuatu nan diinginkannya. Apabila telah didapat maka segera sifat aslinya ditampakkannya. Tiada lagi penghargaannya pada orang nan telah berhasil dimanfaatkannya, dipecundanginya awak.

Ada satu profesi yang banyak digeluti oleh orang-orang semacam ini. Engku semua tahu, namun tetap sekali 5 tahun kita semua dipecundangi kembali.

Demikianlah hidup pada masa sekarang yang sudut pandang sebagian orang ialah materialistik. Semuanya dipandang dari segi faedah kegunaannya. Kalau kepada barang memang bagus sangat, tapi kalau kepada manusia kami tiada berani memberi pendapat.

Engku pernah mendapati, pernah pula tersua oleh rangkayo, atau mungkin encik sedang mengalaminya? Samalah awak itu..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s