Ayah nan terlupakan

DSCF2176Tiada pernah kami mendengar ada kaum laki-laki nan mendakwa perihal hadis nabi nan menyuruh untuk mematuhi “Ibu” dimana dalam hadis tersebut kata “Ibu” sampai disebutkan tiga kaki, selepas itu baru ayah. Dan tiada pula nan mendakwa kenapa syurga itu diumpamakan berada di bawah telapak kaki ibu, bukan di bawah telapak kaki ayah?

Tiada? Kenapa?

Mungkin karena kaum lelaki itu bukan orang nan suka menuntut berlainan dengan kaum perempuan nan tersinggung sekali agak sedikit langsung marah. Padahal setiap hati suaminya disinggungnya.

Kami terkenang dengan kisah papa kami nan baru kami ketahui tatkala papa menengok cucunya nan baru lahir. Di rumah sakit, untuk mengajari menantunya yang baru selesai di operasi, bunda mengisahkan pengalaman papa ketika operasi dahulu. Kalau kami tiada salaha nama penyakitnya “Usus Taburai” kami tiada tahu nama medisnya.

Isteri kamipun bertanya perihal penyebab papa dioperasi, ibu menjawab karena dahulu sering meangkat beban berat. Nan dimaksudkan oleh ibu ialah karena dahulu semasa kami kanak-kanak papa berdua dengan nek aki (kakek) kami bekerja membuat rumah nan kami huni sekarang. Tiada mengupah tukang karena tiada uang untuk itu, maklumlah orang tua kami bukan pegawai.

Demikianlah, kami yakin engku, rangkayo, serta encik punya pula kisah perihal pengorbanan seorang ayah. Tentunya bagi masing-masing kita, ayah kita ialah pahlawan kita.

Namun para ayah tiada pernah menuntut hadis-hadis tesebut. Tiada pula menuntut kenapa yang ada “ibu kota” kenapa bukan “ayah/bapak kota” saja? Sebab para ayah bukanlah para penuntut.

Kami kembali terkenang dengan kisah kami nan lalu, perihal kawan-kawan kami sekantor nan perempuan dimana mereka kurang sabaran apabila menanti kawan mereka nan perempuan. Padahal para lelaki acuh saja karena sudah berpengalaman menghadapi isterinya.

Ya, ayah sering dilupakan bahkan kamipun demikian. Bunda nan mengandung, bunda pula nan melahirkan, bunda juga nan menyusui. Bunda nan menanggung rasa sakit, bunda pula nan menanggung derita karena selepas melahirkan keadaan badannya masih rapuh.

Namun, ayah bukannya tak menderita, bukan pula tak merasakan sakit, serta tidak pula merasa tenang. Kami pernah mendengar seorang suami nan tak hendak lagi punya anak karena tiada sampai hati melihat isterinya menanggung derita ketika melahirkan. Cukup baginya seorang saja anak itu.

Perempuan lebih beruntung, karena cinta dan kasih anak tertumpah lebih dahulu padanya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s