Kisah Engku Intan

Ilustrasi Gambar: Internet
Ilustrasi Gambar: Internet*

Petang hari ini perut nan sudah tergaduh pencernaannya ini kami coba bujuk dengan membeli mie kuah dengan kerupuk ditambah bakwan dan pisang goreng. Kami beli di kedai gorengan di dekat kantor kami. Kedai ini memang khusus buka setiap petang hari disaat orang-orang mulai pulang kantor.

Begitu sampai di kedai kami sapa rangkayo pemilik kedai sembari bertanya “Bagaimana keadaan tuan rangkayo?” tanya kami perihal suaminya. Rangkayo ini selalu berjualan bersama suaminya, engku St. Intan namanya. Si suami nan biasanya membawa segala keperluan untuk memasak ke kedai yang hanya berupa tenda ini. Mulai dari bahan-bahan dan perlengkapan memasak hingga membantu istrinya berjualan.

Rangkayo ini agaknya terkejut dengan pertanyaan kami “Tuan sudah meninggal engku..” jawabnya terkejut. Kami nan mendapat jawapanpun terkejut pula. Memang kami dengar engku Intan sakit, sampai dirawat di dua rumah sakit di kota kami. Namun hanya itu nan kami dengar. Rupanya engku St. Intan meninggal sudah sebulan nan lampau tepatnya tanggal 1 September. Kami terkejut mendengarnya karena si buyung kami lahir sehari sebelumnya.

Tanpa kami tanyai lebih lanjut, mengalirlah kisah perihal engku Intan dari mulut isterinya. Tampak isterinya berusaha melepaskan segala beban nan terasa. Memang demikianlah, kamipun terkadang kalau sedang menanggung beban berat acap kehilangan pengendalian diri. Sehingga dengan mudah menceritakan isi hati kepada orang lain, tsnpa diminta, tanpa dipancing terlebih dahulu.

Dikisahkanlah oleh isterinya bahwa suaminya semenjak beberapa hari lepas hari raya Idul Adha nan lalu telah menyebut-nyebut perkara kematiannya, padahal keadaannya ketika itu sehat-sehat saja “Kalau awak mati, tolong engkau kuburkan awak di Lasi[1] di sebelah makam ibu..”

Si isterinya terkejut nan langsung mengenengahi bahwa urusan orang mati itu kewajiban orang nan hidup. Namun agaknya suaminya kesal dan mulai marah karena perkataannya mendapat jawapan. Si isteri langsung diam, takut membuat suaminya bertambah kesal.

Sepekan selepas itu, engku Intan langsung malas makan. Tak ada makanan nan hendak lalu ke perutnya, dibuatkan oleh isterinya sambalado hijau dengan goreng jariang[2] namun tetap tak berselera “Padahal biasanya apabila dibujuk dengan kedua jenis samba itu perutnya hendak berselera..” ujar isterinya kepada kami.

Dan selepas itu keadaan engku Intan mulai menurun, dibawa ke satu rumah sakit dan dipindahkan lagi ke rumah sakit lainnya. Kata dokter suaminya kekurangan cairan sehingga mengganggu kepada ginjalnya. Sebab suaminya sudah jarang makan dan minum. Namun suaminya masih berkata “Saya tak apa-apa, tak ada nan sakit..”

Akhirnya selepas 12 hari di dua rumah sakit, suaminya minta dibawa pulang. Namun bukan ke rumah isterinya melainkan ke rumah kakaknya “Sudah 18 tahun rumah kakaknya tiada ditidurinya nan ini disaat hendak akan pergi ia tiduri” walau sudah ditegah “Masih sanggup saya merawat tuan..” pintanya pada suaminya. Namun hati suaminya telah keras.

Tentulah pilu hati isterinya, bertambah dengan malu. Orang-prangpun nantinya akan beranggapan rumah tangga mereka dalam masalah. Si rangkayo hanya dapat bersabar saja. Segala tanda-tanda sudah dinampakkan oleh Nan Kuasa.

“Mungkin karena tiada hendak menyusahkan rangkayo, karena kasih dan sayangnya kepada rangkayo..” bela kami pada almarhum suaminya.

Hanya sepekan di rumah kakaknya, akhirnya dijemput jua Engku Intan oleh malaikat maut. Sesuai dengan wasiat engku Intan ia dimakamkan di sebelah makam ibunya di kampung kelahirannya.

Demikianlah, sekarang ia berjualan seorang diri tiada nan mengawani. Hanya anak bujangnyalah menjadi penolong. Pastilah berat bagi rangkayo ini menjalani segala kebiasaan sehari-hari nan biasanya dilakukan berdua dengan sang suami.

*http://mularrasyid.blogspot.com/2014/12/tanda-ajal-telah-dekat-waspadalah-ajal.html

[1] Salah satu nagari di Luhak Agam, tak jauh dari Bukit Tinggi

[2] Jengkol

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s