Rasa sesal nan dalam

Ilustrasi Gambar: Internet
Ilustrasi Gambar: Internet*

Petang hari ini disaat hendak menunaikan Shalat Ashar di kantor, kami berpapasan di tempat wudhu dengan salah seorang kawan satu kantor kami, seorang rangkayo yang mungkin telah 50 tahunan umurnya. Dengan terkejut dan sedih ia meratap di hadapan kami “Duhai engku, karena sibuk bekerja jadi terlupa oleh kami Shalat Zuhur. Bagaimana ini, sungguh terlalu kami, telah lalai kami,..” ratapnya dengan wajah merana.

Dengan tersenyum kami berujar kepada beliau “Dijamak saja rangkayo, bukankah dalam agama kita dibenarkan. Apalagi kita tidak sadar kalau sudah lepas waktu shalat sedangkan kita belum lagi menunaikan kewajiban kita itu..”

Demikianlah, di ruang shalat kami dapati rangkayo ini lama sekali shalatnya – mungkin karena menjamak, do’anyapun lama pula, bahkan tampak serupa menangis ia – sambil menutup kedua tangannya yang berbalut telakung ke mukanya.

Dalam hati kami merasa malu, malu karena pernah melalaikan shalat tanpa ada rasa penyesalan sedalam nan ditunjukan si rangkayo tersebut. Betapa kami menganggap remeh saja perkara nan seberat itu. Padahal shalat adalah salah satu amalan wajib nan utama dan amalan pertama pula nan dihisab oleh Allah Ta’ala di Padang Masyhar kelak.

Semoga Allah Ta’ala mengampuni segala dosa-dosa kami beserta keluarga, menjadikan kami sekeluarga sebagai muslim nan lebih tebal imannya, serta dituntun dunia dan akhirat agar tidak keluar dari jalanNya. Amin..

* http://nikitamelida.blogspot.com.tr/2014/11/crying-everyday.html

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s