Musim Kabut Asap

Di hadapan kantor kami pada kamis pagi ini
Di hadapan kantor kami pada kamis pagi ini

Kami tiada tahu sudah berapa lama persisnya, mungkin sudah lebih sebulan, tiada yang pernah menghitungnya melainkan memperkirakan saja, serupa kami ini. Tiada pula ada nan mengeluh kecuali di jejaring sosial. Nan ada ialah pernyataan “Duhai, bertambah tebal saja kabut asap kini..” atau “Semoga hujan hari ini agar berkurang kabut asap ini..”

Sudah beberapa kali hujan dan memang terbukti mujarab, kabut asap hilang untuk beberapa saat. Begitu hujan teduh, maka perlahan-lahan si kabut asap kembali datang. Serupa saja kelakuannya dengan pedagang kaki lima ketika berhadapan dengan Satpol PP. Demikianlah nan berlaku di negeri kami, tampaknya ada pula nan membecking si kabut asap sehingga ia dapat datang kembali dengan angkuh begitu diusir oleh si Engku Hujan.

Nan paling kasihan ialah si buyung, semenjak ia keluar dari perut bundanya di akhir bulan Agustus nan lalu, paru-paru kecilnya nan masih bersih sudah berhadapan dengan asap. Sampai kini ia masih menghirup asap, bundanya cemas dan kamipun gundah gulana. Semoga saja Allah Ta’ala memberikan rahmat kesehatan, keselamatan, dan perlindungan, amin..

Kejadian serupa ini selalu berulang setiap tahun, jadi sudah serupa musim durian di kampung kami nan pasti ada setiap tahunnya, maka demikian pula dengan kabut asap ini, ada musimnya pula. Selalu ada setiap tahun, (Selamat menikmati Musim Kabut Asap engku..)

Di Jakarta ada musim banjir maka di propinsi kami ada musim kabut asap. Sungguh cantik sangat kedengarannya..

Kata nan punya berita kabut asap ini berasal dari pembakaran lahan perkebunan di tiga propinsi jiran kami. Ketiga propinsi tersebut memang terkenal dengan  Propinsi Para Investor, sebab telah semenjak lama tanah-tanah disana dijual-jual kepada para investor. Adapun dengan propinsi kami masih belum, kalaupun ada perkebunan hanya terdapat pada tiga atau empat kabupaten saja. Orang Minang memang terkenal “payah” melepas tanah mereka karena masih kolot hidupnya, Adat nan Telah Usang itu jua nan dijadikan panduan hidup, akibatnya investor enggan menanamkan modalnya dan akibatnya propinsi ini menjadi propinsi terbelakang nan jauh dari kemajuan. Demikianlah kata orang-orang nan telah “tercerahkan”, maju pemikirannya, telah mengecap kehidupan di negeri orang, berfikiran terbuka, dan tak memolak kemajuan. Tanda orang intelek..

Namun kata St. Malenggang kawan kami “Justeru merekalah nan terkebelakang, kalau menjual-jual tanah ke orang asing dianggap kemajuan, membiarkan anak-bini berpakaian sempit tanda kemoderenan, membiarkan orang kampung menjadi kuli di tanah sendiri tanda keterbukaan, maka tampaknya isi kepalanya perlu diperiksa. Telah bertukar nan hitam dengan nan putih, nan haram menjadi halal, terpantang menjadi lazim, tanda negeri kita ini akan hancur..”

“Demikianlah adanya sekarang, apalagi media menjadi kaki tangan mereka, negara kita sedang dikendalikan oleh para pedagang..” Kata engku labai

Apapun teori konspirasi yang beredar seputar kabut asap dan pemerintahan di republik ini. Nan pasti walau tiada perkebunan besar di propinsi kami, setiap tahunnya kami tetap dipaksa menikmati kabut asap nan “mempesona” ini. Sudah serupa Negeri di Atas Awan pula kampung kami, cantikkan?

Kata kawan kami “Kita buka pulalah perkebunan di propinsi kita ini, kita jual-jual pula tanah pusako peninggalan nenek moyang. Hasilnya kita bawa ke rumah anak atau kita pakai untuk senang-senang..” katanya sambil tertawa terkekeh.

“Tak berotak wak ang..!!” Kata engku Labai dengan muka merah padam, dan kami semuapun tergelak melihatnya. Si kawan kamipun semakin keras gelaknya..

Demikianlah, hampir merata beberapa daerah mendapat jatah kiriman asap, sungguh adil propinsi tetangga kami itu mengirim-ngirim asap, betapa baiknya mereka. Dalam perjalanan kami dari Bukit Tinggi menuju Padang ataupun sebaliknya, setiap negeri nan kami lalui pastilah serupa Negeri di Atas Awan itu. Kata sebagian orang, kabut asap di Bukit Tinggi lebih tebal dari yang di Padang. Kami amat-amati memang demikian agaknya.

Advertisements

9 thoughts on “Musim Kabut Asap

    1. Iya mas, mohon do’anya supaya Kabut Asap ini segera hengkang dri negeri kami. Kami dengar di propinsi jiran kami telah ada kanak- kanak nan masih bayi meninggal. Ada juabayi nan masih berusia 18 bulan terkena radang paru2. Mohon do’anya supaya Si Buyung kami sehat2 saja ya mas..:-)

      Oya mas, bisa tak, klw pawang hujan nan ada di Jakarta mengarahkan hujan ke Sumbar, hehehe..:-)

      Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s