Cingkariak

Kampung Nan Indah Permai Ilustrasi Gambar: Internet*
Kampung Nan Indah Permai
Ilustrasi Gambar: Internet*

“Adat di kampung kami memperlakukan sumando[1] sangat hormat engku, tak boleh disuruh atau diparentah, apalagi di hardik, dengan kata lain dimanja. Lain dengan kampung engku dimana sumando disuruh-suruh..” ucap seorang engku yang sudah agak berumur kepada kami pada kenduri Aqiqah anak lelaki kami.

Kami terkejut, saat itu kami bantah perkataan si engku, walau dia agak mengeras [2] dengan pendapatnya. Kami yakin si engku hanya mendengar saja belum pernah mengunjungi kampung kami. Lagi pula bagi orang luar, nan Tilatang Kamang atau Kamang Magek itu sama saja semuanya, sama adatnya. Lupa dia kalau dalam satu kecamatan itu terdapat beberapa nagari dan lupa pulalah juga mereka agaknya bahwa Luhak Agam ialah tanah asal kami makna dari Luhak Agam ialah Kurang Seragam.

Kami terkenang dengan cerita salah seorang dunsanak sesuku kami. Dia mengisahkan adat di kampung isterinya – masih di Luhak Agam, di kaki Gunung Marapi – dimana Orang Sumandolah nan disuruh meangkat jamba (hidangan) dalam helat (kenduri). Berlainan dengan kampung kami bahwa nan disuruh meangkat jamba ialah kamanakan lelaki, terutama nan masih bujang pada suatu kaum. Adapun dengan sumando mendapat tempat kehormatan di tengah rumah, duduk membelakangi bilik.

Demikianlah nan Luhak Agam, Luhak artinya kurang, Agam artinya Seragam. Jadi arti Luhak Agam ialah Kurang Seragam Adatnya.

Beberapa hari selepas itu barulah terbuka agak-agak kami, tersingkap tabir yang menyelimuti fikiran kami. Rupanya si engku berpendapat demikian karena melihat mertua kami, atau salah seorang mamak isteri kami memerintah kami dengan angkuh untuk menulis nama anak kami pada sebuah kertas untuk diberikan kepada Orang Siak yang akan mengucap do’a. Kemudian pelecehan terhadap kami nan Orang Sumando ini masih berlanjut. Diperintah lagi dengan angkuh untuk membawa anak kami keluar dari bilik. Itu semua dilakukan dihadapan orang ramai.

Karena memandangi hal nan demikianlah makanya si engku berpendapat demikian. Dan memang si engku agak iba meihat kami, ketika hendak berangkat pula sehabis bercakap-cakap dengan mertua kami di teras rumah, kami berdua bersalaman. Ditepuknya punggung tangan kami dan kemudian bahu kami agak beberapa kali sambil menatap kami dengan tatapan iba bercampur bangga dan dengan senyuman kasih seorang bapak.

Isteri kami berkata bahwa mamaknya nan seorang itu memang suka menggedang di hadapan keluarga. Kedua anaknya telah berhasil dan hidupnyapun telah pula senang, lupa daratan ia agaknya. Apalagi dia memang lebih tua dari mertua kami, biasanya orang nan lebih tua suka bersikap dengan gaya senioritas kepada nan lebih muda. Nan Tua selalu benar, Nan Muda selalu salah, Jikalau Nan Tua membuat kesalahan, maka kembali ke pasal pertama.

Demikianlah,

daulu sakek nan babungo 
kini rimbang nan babuah

daulu adaik nan paguno
kini kepeang (pitih) nan batuah

 

* https://andukot.wordpress.com/2015/07/11/minangkabau/

 

[1] Suami saudara perempuan

[2] Ngotot

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s