Ikatan nan mulai terlihat

Ilustrasi Gambar: Internet*
Ilustrasi Gambar: Internet*

Tatkala kami baru bersua dengan si buyuang – selepas satu malam berpisah – kami dapati ia sedang tertidur lelap “Baru tidur ia tuan..” lapor isteri kami. Kamipun tiada hendak menggaduh, hanya memandangi wajahnya dari balik kelambu. Kemudian tatkala kami tengah asyik-asyiknya bercengkrama dengan bundanya, tiba-tiba ia terbangun dan merengek. Segera kami pangku ia, kami ayun-ayunkan agar ia tenang dan berhenti menangis. Karena matanya masih nyalang dan tiada tanda-tanda hendak kembali tidur, maka kami pangku ia sambil duduk dengan merebahkannya ke pangkal paha. Tak berapa lama kemudian terasa ada yang hangat di celana kami, ya ampun, ini ialah pertanda ia terkencing. Benar saja, celana kami basah dan isteri kami tertawa terbahak-bahak.

Ini ialah kejadian kedua, kejadian pertama dua hari nan silam, tatkala baru tiba kamipun memangku ia ketika menangis. Dan tak berapa lama kemudian ia mengencingi kami, baju dan celana seragam kerja kami jadi basah dibuatnya, untung ada seragam cadangan kami tinggalkan di rumah mertua. Tatkala kami ceritakan kepada papa dan bunda, mereka menertawakan kami “Engkaupun dahulu serupa itu, sampai basah kuyup papa engkau buat..”

Papapun menyambung “Sekarang engkau sudah senang, sudah ada popok..” benar, kalau tak ada popok tentulah sudah basah kuyup pula kami dibuatnya. Dasar, si buyung ini segera membalas perlakuan kami dahulu kepada papa. Demikian pula pada saat tengah malam, ia terjaga dan matanya selalu nyalang membuat kami bertanggang[1] sampai perak siang bahkan sampai pagi.[2] Kata bunda kamipun dahulu serupa itu, lebih parah malah dimana kami mesti di pangku bergantian agar tetap tertidur karena begitu dilepas – bahkan secara perlahan-lahan oleh papa – ke tempat tidur maka kami akan terjaga dan kembali merengek. Kisah isteri kamipun tak jauh berbeda dengan kami, serupa perangai kami semasa bayi.

Kata adik perempuan kami “Sudah dua kali lipat di dia itu tuan..” bukannya kasihan, malah menertawakan kami ia, dasar..

Ketika kembali kami ceritakan kejadian kedua ini kepada bunda melalui telpon, bundapun tertawa “Pertanda akan lekat ia kepada engkau itu ‘jangan tinggalkan awak..’ itulah maknanya buyuang..” kata bunda kepada kami. Kamipun tersenyum simpul mendengar tafsiran bunda.

Isteri kami bujar “Semakin sayang, cinta, hormat, dan segan dinda kepada papa dan mama tuan..” kami hanya diam dan menjawab dalam hati “Demikian pula tuan, semakin cinta, sayang, hormat, segan, dan bahkan merasa bersalah kepada papa dan ibu di kampung sana..”

Mertua kami masih lebih beruntung karena ia dapat melihat cucunya tumbuh setiap hari. Adapun dengan orang tua kami tiada dapat melepas rindu pada cucu pertamanya ini. Terpaksa memuaskan rindu-dendam kepada cucunya melalui gambar-gambar yang kami kirimkan kepada adik kami. Hendak bagaimana lagi cucu di rumah orang.

*http://yanbeta.blogspot.co.id/2012_08_01_archive.html

[1] Begadang

[2] Tulisan ini kami buat pada pukul enam pagi selepas menjaga si buyung yang terjaga semenjak pukul setengah satu. Belum tidur kami semenjak itu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s