Nan penting niat sampai

aqiqahKata orang “Walau tak seperti yang diharapkan, tak seindah yang dibayangkan, dan tak sesuai dengan yang direncanakan tak usah berkecil hati, nan penting niat awak kan telah sampai..” kata-kata demikian terngiang-ngiang di kepala kami sehari nan kemarin.[1]

Betapakan tak, acara aqiqah nan berlangsung di rumah mertua kami untuk si buyung berjalan tak sesuai dengan yang diharapkan. Sejauh pengetahuan kami – dan sesuai pula dengan sunnah nabi – dalam aqiqah rambut si anak digunting serta diberi sedikit bedak dan kemudian sekalian nan hadir diperkanankan untuk ikut menggunting atau membedaki. Dahulu kami pernah mendapati, kalau tak hendak ikut menggunting rambut si bayi, cukup diusap-usap saja kepala atau bagian tubuhnya nan lain tanda perkenalan dengan si bayi.

Demikian pula tatkala kami bercakap-cakap dengan salah seorang orang tua di perumahan ini “Biasanya sebelum Orang Siak itu mendo’a si anak dibawa keluar untuk dipotong rambutnya, selepas itu baru mendo’a. Telah tiga orang cucu awak ini engku, demikian ketiga-tiganya..” Dan ketika acara sudah hendak berakhir, si engkupun menolong kami untuk bertanya perihal memotong rambut kepada Orang Siak nan menjadi ‘Orang paling penting’ pada kenduri kali ini.

Adapun jawab si Orang Siak “Itu tujuh hari[2]..!!!”

Diijawab oleh si engku “Dalam sunnah kan 7, 14, dan 21 hari engku dan sekarang baru 19 hari. Takkan engku potongkah rambutnya..?”

“Tujuh hari nan utama, orang tuanya sajalah nan memotong. Saya ada keperluan selepas ini..!” jawab Orang Siak dengan raut wajah dingin serupa patung, raut nan sama kami dapati kemarin. Mungkin sudah pembawaannya namun pada keadaan serupa sekarang membuat kami bertambah benci saja kepada jenis orang nan mengaku ustadz. Kejar setoran ia agaknya.

Dikiranya pandir awak-awak ini, sungguh kami tiada habis fikir. Tak berhatikah ia? tak tahukah ia bagaimana perasaan kami. Sungguh pada saat sekarang ini jenis orang serupa ini semakin banyak, agama itu untuk bisnis saja.

Ketika duduk-duduk di luar rumah, kami bercakap-cakap dengan mamak isteri kami. Dia yang mula berkeluh kepada kami “Tak biasa orang nan tadi[3] mengaqiqahkan anak agaknya Sutan Nagari..”

Kami hanya tersenyum “Entahlah mak, katanya ia ada keperluan selepas dari rumah kita ini..”

“Mana dapat demikian, mestinya ia menyediakan waktunya di tempat aqiqah. Semasa cucu mamak dahulu aqiqah, semenjak selepas Jum’at hingga Ashar Orang Siak itu di rumah..” terang mamak isteri kami ini.

Sungguh pernyataan dan cerita dari mamak isteri kami ini menambah pilu  hati ini. Betapa tidak, aqiqah anak kami nan hanya sekali seumur hidup berjalan kacau serupa ini. Ditambah gulai kambingnya tak pula nikmat serupa nan dimasak oleh orang di kampung kami. Memang seluruh Alam Minangkabau ini mengakui “Tak ada masakan seenak nan dibuat oleh orang Agam..”[4]

Namun kami berusaha menyenangkan hati “Nan penting niat kita kan telah sampai mak..” dengan mencoba memberikan senyuman kami nan termanis. Dan si mamakpun mengamini.

[1] Sabtu, 06 Zulhijjah 1436 H / 19 September 2015

[2] Maksudnya 7 hari kelahiran

[3] Maksunya Orang Siak

[4] Nan dimaksud Agam ialah Luhak Agam dimana Kota Bukit Tinggi dan Nagari Pandai Sikek masuk di dalamnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s