kenapa aqiqah anak lelaki 2 ekor kambing?

Salah seekor kambing sedang dibantai untuk aqiqah
Salah seekor kambing sedang dibantai untuk aqiqah

Pada suatu pagi menjelang tengah hari, kami dan Saidi Palindih duduk-duduk di oto[1] miliknya. Seperti biasa percakapan kian-kumari[2] mulai dari sumbangan Raja Saudi yang sangat besar terhadap korban Tragedi Crane yang tak diungkap media, kemajuan pemerintahan, ekonomi, dan militer di Negara Turki yang tengah berangsur-angsur kembali ke Jalan Islam, dan tentu saja orang yang menjadi favorit kami untuk digunjingkan Si Boneka Cantik dari Cina.

Kemudian pembicaraan kami berkisar kepada masalah Aqiqah yang dimulai dengan pertanyaan dari Saidi Palindih kepada kami. Ketika kami tanya balik, anak sulungnya tak di aqiqahkan “Kan sunat..” dalihnya. Memanglah banyak orang Islam serupa Saidi Palindih kawan kami ini pada masa sekarang “Nan wajib saja tak terkerjakan, apalagi nan sunat..”

Alasan lain ialah aqiqah disuruh pada tujuh hari setelah kelahiran, dan hari itu telah lewat. Namun kami ada pula mendapat keterangan bahwa aqiqah disunnahkan pada 7 hari kelahiran atau 14 hari atau 21 hari kelahiran. Bahkan ada ada pula yang berpendapat, jikalau belum terpenuhi maka dapat dilakukan bila saja, termasuk apabila si anak telah balig (dewasa). Namun kami tiada hendak mendebat Saidi Palindih, naik asam lambung kami, naik pula tensi, serta, tak nikmat lagi makan.

Aqiqah anak lelaki ialah dua ekor kambing sedangkan anak perempuan satu ekor kambing. Ketika kami tanya kepada Saidi Palindih perihal makna dari hal tersebut ia menjawab dengan sebuah kisah “Terdapatlah di negeri Eropa dua orang bayi tertukar, untuk menyelidiki hal tersebut maka dilakukanlah uji DNA kepada kedua bayi dan kedua orang tuanya. Hasil dari uji DNA tersebut ialah DNA mereka serupa jadi tetap tak didapat siapa anak siapa..”

“Salah seorang tim ahli dalam perkara ini pernah mendengar kalau Al Qur’an kepunyaan umat Islam dapat menyelesaikan kebuntuan dari setiap penelitian para ilmuwa. Maka dicarinyalah seorang imam di kotanya dan kemudian ditanyainya perihal perkara tersebut. Si Imam menganjurkan agar si ahli memeriksa air susu kedua ibu (kebetulan bayi yang tertukar ialah laki-laki dan perempuan)..”

“Rupanya hasil pemeriksaan si ahli, air susu kedua ibu ini berbeda kadarnya (nilainya) yang satu memiliki kadar dua kali dari nan lain. Setelah ditanya lagi kepada si imam maka dijawablah oleh imam bahwa dalam Islam setiap bayi yang baru lahir diwajibkan untuk di aqiqahkan dengan ketentuan 1 ekor kambing untuk bayi perempuan dan dua ekor kambing untuk bayi laki-laki..”

Demikianlah, kami takjub dengan Saidi Palindih rupanya cemerlang jua otaknya. Inilah berkah ia sering bercengkarama dan bertukar pendapat dengan Pak Uwo Google di masa senggang jam kerja kami.

Bahan Bacaan:

http://www.eramuslim.com/ustadz-menjawab/sudah-dewasa-beluh-diaqiqah-lebih-utama-qurban-atau-aqiqah-yang-tertunda.htm#.VfpLjtKqqko

http://achmadrieqza.blogspot.co.id/2013/03/hukum-dan-ketentuan-pelaksanaan-aqiqah.html

[1] Mobil

[2] Kesana-kesini

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s