Pengajaran Bunda

Ilustrasi Gambar: Internet
Ilustrasi Gambar: Internet

Bunda bertanya perihal sudah bisa apa cucunya, ada rasa rindu yang berusaha ditahan dari bunda ketika bertanya, demikian pula papa berusaha menyembunyikan rindu-dendam kepada cucu pertama dengan senyuman khasnya. Kata orang di Minangkabau, anak dari anak lelaki ialah “Cucu di rumah orang..” karena dalam masyarakat kami, laki-laki tinggal di rumah perempuan berarti “Tinggal di rumah orang..”

Demikianlah, bunda nyinyir mengajari kami perihal memperlakukan isteri “Engkau mesti manjakan, ia tak boleh bekerja, menyuci, termasuk sekadar melipat kain selama enam bulan ini..” khutbah bunda kepada kami.

Tatkala kami tanyakan kenapa bunda menjawab bahwa akibatnya dapat kepada dua hal, pertama air susunya akan kering dan kedua badan isteri kami akan tacido.[1] “Kasihan awak dengan isteri engkau itu nantinya, peliharalah ia, manjakan ia. Bunda saja dahulu acap mendapat nyinyir dari nek uci[2] engkau perkara tersebut..” nasehat bunda.

Lengannya mesti dipelihara, tak boleh diangkat, tak boleh membawa beban, benar-benar sepenuhnya manja. Demikianlah, namun terkadang isteri kami madar[4]. Mungkin karena kasih ia akan kami, tak sampai melihat suaminya tiada henti membasuh bajunya serta baju anaknya sepanjang hari. Ditambah lagi, apabila kami ada, maka Si Buyung kami yang menggantikan popoknya serta memandikan. Sudah serupa babu saja, tapi kami ikhlas, karena belum ada babu maka dengan ikhlas kami kerjakan pekerjaan babu. Demi engkau dan si buah hati..

Kemudian bunda juga berkata “Semalam bunda menyuruh engkau agar memaksa isteri engkau untuk tetap menyusukan anak walaupun ia sedang sakit. Gunanya ialah agar air susunya tak cepat habis, sebab kalau tidak akan banganyi[3] air susu isteri engkau itu nanti..” Memang semalam kepala isteri kami sangatlah sakitnya serupa orang masuk angin, ia tidur sepanjang magrib hingga tengah malam. Kami jadi sedih dan tiada sampai hati untuk membangunkan ia untuk menyusukan anak. Kami buatkan saja susu formula untuk Si Buyung.

“Mungkin karena masih sempat ia menyuci makanya ia masuk angin..” kata bunda kepada kami. Sesakit-sakitnya badan, anak mesti disusui sebab akan baik bagi si ibu dan si anak nantinya.

Demikianlah, banyak perkara yang tak kami ketahui. Apabila bersua dengan ibu, kami ini serupa kanak-kanak saja dibuatnya. Tak peduli bunda anaknya sudah beranak, dihadapannya anaknya tetaplah anaknya nan mesti selalu diajari. Memang demikianlah sikap orang tua, bersyukur kami dengan perlakuan bunda serupa itu. Walau terkadang kesal juga diperlakukan serupa keledai dungu. Hanya bunda nan kami izinkan, orang lain tidak, kalau ada maka hati ini akan menyimpan kesumat kepada orang tersebut.

*

[1] Tacido atau mancido ialah menyerang orang dari belakang atau tanpa sepengetahuannya. Sedangkan maksud tacido disini ialah badannya akan tidak baik lagi serupa sedia kala.

[2] Nenek

[3] Merajuk, ngambek

[4] Sebenarnya Mada, maksudnya keras hati, tak hendak tegah

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s