Sibiran Tulang

Son become a father, father become son..

Jpeg
Jpeg

Terkenang dengan salah satu ungkapan dalam filem Superman Returns bertahun-tahun nan silam. Ketika itu kami tiada merasakan apa-apa hanya berpendapat secara akal bahwa ungkapan itu benar adanya karena umur manusia terus bertambah dan manusia itu tumbuh menjadi sosok yang lebih tua. Oleh karena itu sebagian kecil orang yang masih sehat akalnya berpendapat, ulang tahun sesungguhnya tak hanya umur yang bertambah melainkan juga usia hidup berkurang. Sepatutnya tak dirayakan melainkan ditangisi..

Namun sekarang perasaan berlainan terasa di hati ini, ada sesuatu perasaan yang membuat diri ini mengigil. Dahulu kita hanyalah seorang anak, terlepas usia yang sudah kepala tiga, namun sekarang selain seorang anak kami juga seorang ayah. Bertambah tua saja terasa badan ini, bertambah tanggung jawab dan kewajiban, dan bertambah pula beban tanggungan.

Sungguh memang Allah Ta’ala itu Maha Besar, bagaimana Ia menciptakan manusia, menciptakan kehidupan dari setetes air nan hina dan kemudian tumbuh menjadi segumpal darah, beberapa bulan kemudian menjadi segumpal daging, dan akhirnya menjadi sosok manusia baru. Dan itu merupakan akibat perbuatan dua orang manusia yang berlainan jenis.

Senang dan bahagia, kembali kami tengok kembali foto-foto semasa kami masih bayi, serupa agaknya. Namun bagi beberapa orang keluarga isteri kami mengatakan kalau serupa dengan isteri kami kiranya. Mungkin mereka hendak mengambil hati keluarga isteri kami, maklumlah di Minangkabau kami hidup menumpang di keluarga rumah isteri, kalau ada rezeki barulah isteri dapat dibawa pergi.

Kami kesal tatkala ada yang berkata demikian – serupa dengan isteri kami – ketika kami selidiki, rupanya hanya mata dan hidung kepunyaan isteri kami. Selebihnya kepunyaan kami, bahkan cara tersenyum mencemoohnya didapat dari kami, kalau kami bibir atas bagian kanan yang dapat diangkat, maka kalau ia bibir atas bagian kiri. Namun bagi keluarga isteri kami tiada terlihat sebab mata mereka ditutupi oleh tabir sehingga tiada dapat melihat keadaan sebenarnya.

Kata bunda memang ia serupa kami tatkala masih bayi, tapi tak seutuhnya “Kalau dia mirip engkau seutuhnya maka alamat tiada akan baik…” kata orang sifat orang yang – agak – mirip wajanya ialah saling bertolak belakang. Sedangkan tafsiran orang kampung perihal wajah yang benar-benar serupa seutuhnya serupa pinang dibelah dua ialah alamat salah seorang – ayah atau anak – akan cepat meninggalnya. Entah ia entah tidak, kami belum pernah mendapatinya.

Segalanya kami pelajari sendiri, dibegak-begakkan hati, bahkan kami telah pandai memandikannya. Mertua tiada ikut kalau kami ada, memang demikianlah baiknya karena kami tiada suka diperlakukan serupa kanak-kanak yang masih bersekolah dan berseragam putih dan merah.

Namun nan paling kasihan ialah isteri kami, badannya belum pulih benar. Berjalan masih tengkak-tengkak karena lututnya bergeser sepekan nan silam. Untuk bangun dari berbaring saja susah, mesti mendapat bantuan. Sungguh kami merasa tiada berguna karena tiada dapat berbuat apa-apa untuk meringankan kesusahan isteri kami. Yang dapat kami lakukan ialah memanggil tukang urut dan mengantarkannya kembali.

Demikianlah, hidup ini berubah semenjak tanggal 16 Zulqaidah 1436 nan silam atau 31 Agustus 2015. Nan dapat kami lakukan hanya berdo’a kepada Allah Ta’ala semoga kehidupan kami sekeluarga selalu berada dalam lindungan, berkah, hidayah, dan agamaNya. Amin..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s