Pengalaman Jum’at kawan kami

Ilustrasi Gambar: Internet*
Ilustrasi Gambar: Internet*

Pada suatu hari Jum’at di awal bulan Agustsus tahun 2015 ini kami bersama kawan-kawan kantor berjalan menuju Kota Padang guna menghadiri helat pernikahan adik salah seorang kawan kantor kami. Ada dua buah oto[1] yang kami pakai, satu oto ialah oto dinas milik salah seorang Kepala Bidang sedangkan satu lagi ialah Bus Pemda. Kami menumpang pada Bus Pemda.

Pukul sepuluh lewat kami baru berangkat dari kantor, maklumlah menanti si fulan, menyelesaikan ini-itu, dan lain sebagainya. Pukul dua belas lewat seperempat kami berhenti pada salah satu kawasan antara Lubuak Aluang dengan Padang, menunaikan Shalat Jum’at dahulu. Kami shalat pada salah satu masjid yang terletak di tepi jalan, uniknya masjid ini tak memiliki dinding, lepas saja. Masjid tak berdinding serupa ini juga pernah kami jumpai di Kota Jambi dan Jogjakarta, kami yakin pada daerah lain pasti ada jua.

Masjid ini rupanya masjid tareqat[2], hal ini kami ketahui tatkala dalam berkhutbah Khatib memakai Bahasa Arab dan khutbahnya didendangkan, namun anehnya khatib tak memegang tongkat dan bentuk mimbarnya sudah menyerupai mimbar masjid Muhammadiyah. Terkenang kami semasa berkuliah di Unand dahulu, kami kos di daerah Kapalo Koto dan di sini terdapat salah satu masjid yang juga berfahamkan tareqat. Kami tiada begitu faham dengan cara khutbahnya sehingga kami lebih memilih masjid yang terletak di Pasa Baru. Cukup jauh juga berjalan untuk menunaikan shalat Jum’at ketika itu.

Namun bagi sebagian kawan-kawan mereka lebih senang di masjid ini karena lebih cepat selesai Shalat Jum’atnya. Memang demikian karena masa berkhutbah bagi khatib hanya sebentar saja, cuma membaca pada kitab yang telah ditulis dan menendangkannya. Tatkala ditanya kepada kawan-kawan “Hendak dimana engkau Shalat Jum’at..?”

Dengan senyum merekah mereka menjawab “Di Arab..” fahamlah kami dimana itu.

Selesai shalat Jum’at kami bercakap-cakap dengan salah seorang kawan sambil menanti induak-induak[3] menunaikan Shalat Zuhur. Kawan kami ini ialah mahasiswa magang yang berasal dari salah satu daerah di Pasaman. Dengan pandangan penuh kesal dan muka murung ia bertanya kepada kami “Engku, masjid apapula ini?”

Kami terkejut sekaligus geli mendengar pertanyaannya. Tampaknya ini pengalaman pertamanya berhadapan dengan masjid Tariqat ini, di daerahnya mungkin sudah tak ada lagi masjid Tariqat, serupa di kampung kami. Kami jelaskanlah kepadanya perihal masjid tariqat tersebut “Namun awak tiada tahu tariqat apa yang dianutnya, entah Syatariyah, entah Naqsabandiyah..” terang kami.

“Dahulu awakpun terkejut pula dengan cara berkhutbah yang demikian, namun sesudah mengetahui perihal tariqat ini kamipun faham..” lanjut kami kepada kawan kami  tersebut.

“Lalu kenapa semasa berkuliah dahulu engku tiada suka Shalat Jum’at di masjid yang serupa itu?” tanyanya penuh ingin tahu.

Kamipun menerangkan bahwa salah satu syarat khutbah ialah wasiat dan dalam berwasiat pesan khatib mesti sampai kepada jama’ah. Ini pulalah kiranya – menurut kami – kenapa semasa khatib berkhutbah tiada boleh bercakap atau  mengerjakan sesuatu atau lain hal. Khutbah ini ialah bagian dari pendidikan keagamaan dalam masyarakat kita, pada masa ini terjadilah transfer ilmu dari dari khatib yang mengetahui kepada jama’ah. Demikianlah menurut pandangan kami dan rupanya kawan inipun mengamini pendapat kami “Disinilah salah satunya engku, awakpun merasa ragu dengan jum’at kali ini..” kamipun  tersenyum mendengarnya.

Kemudian lepas dari masalah khutbah, kawan kami inipun membahas masalah lain, suatu persoalan yang juga kami sangat kurang suka. Kalau masalah khutbah kami masih dapat menerima dengan alasan menghormati faham dan keyakinan mereka dalam beragama. Namun yang satu ini memang benar-benar sudah di luar kemampuan kami untuk menerima. Demikianpula dengan kawan kami ini, sangatlah marah hatinya. Perkara yang kami maksudkan ialah infaq dari jama’ah yang diambil langsung dan kemudian disoraki di pengeras suara. Caranya setiap yang hendak berinfaq akan memberikan langsung kepada para pengurus yang berkeliling di dalam masjid. Setiap uang yang diterima akan mereka soraki “Dua ribu..” dan pengurus yang berdiri di depan pengeras suara akan meneruskan pemberitahuan tersebut.

“Ketika itu marah kami telah sampai ke ubun-ubun engku..” ucapnya “Tak sesatkah mereka ini engku..?” tanya kawan kami penuh amarah.

Kami hanya tersenyum, wajar ia memperlihatkan tanggapan yang demikian sebab baru bersua kejadian yang janggal dari yang biasa dia dapati. Kampun sebenarnya dapat menerima namun untuk yang satu ini kami tiada dapat menerima. Terkenang dengan kaji di surau dahulu “Kalau tangan kanan beramal, hendaknya tangan kiri tak mengetahui..” demikianlah. Dan juga beberapa kaji seputar Riya’, semakin kehabisan bahan kami untuk dapat “bertoleransi” kepada perkara nan satu ini.

Demikianlah pengalaman kami pada Jum’at kali ini, adakah engku-engku memiliki pengalaman serupa? Marilah kita berbagi carita..

[1] Mobil, bisa juga mengacu kepada bus ataupun truk dengan menambahkan nama jenisnya di belakang oto. Cth: Oto prah, maksudnya truk

[2] Maksudnya faham yang dipakai oleh jama’ah dan masyarakat sekitar ialah faham tariqat.

[3] Ibu-ibu

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s