Nasib Lemari Tua

Lemari Tua Kami
Lemari Tua Kami

Kami ialah si pengumpul barang bekas, barang-barang lama nan tak terpakai aku pelihara dan sayangi, tiada dibolehkan apabila hendak dijual ke tukang barang bekas. Pernah sekali ada satu benda usang yang dikira tak berguna oleh kedua ibu-bapa kami, mereka menjualnya kepada tukang barang bekas. Sungguh kesal sekali hati ini dibuatnya, betapakan tidak, benda itu ialah benda bersejarah dalam keluarga kami. Tidak hanya bersejarah akan tetapi juga unik karena sudah tak ada lagi dibuat ataupun dipakai oleh orang sekarang. Namun ibu-bapa kami berpandangan kalau barang tersebut memakan tempat, tak berguna, dan membuat rumah semakin berserak-serak.

Mungkin keluarga kami berpendapat “Tiada salah engkau masuk jurusan sejarah..” karena suka sekali dengan barang-barang lama, barang-barang peninggalan keluarga, memiliki nilai dan sejarah padanya.

Seperti yang akan segera berlaku, sebuah lemari lama pusaka keluarga, pernah dahulu dipakai oleh nenek, ibu, dan pernah pula kami pakai semasa bersekolah di tsanawiyah[1]. Namun telah lama, bertahun-tahun kalau kami tiada salah, tercampak di dalam gudang, tempat meletakkan kain bekas, kertas bekas, barang tak terpakai dan tiada berguna, sudah habis dimakan rayap, sudah lapuk, dan tiada harapan lagi untuk hidup lama.

Lemari tua dengan bentuk yang khas karena tiada lagi dibuat serupa ini oleh orang pada masa sekarang. Mewakili semangat zaman atau jiwa zaman kata orang sejarah.

Lemari tua, sungguh malang engkau, akan segera dipisahkan kita dengan kejam oleh takdir. Para pembuat kebijakan – dalam hal ini ibu-bapa kami – memang tiada pernah berpihak kepada rakyat kecil seperti kita, kita akan dipisahkan, sebentar lagi engkau tinggal kepingan, dijadikan kayu bakar atau dibiar terbakar panas matahari, sungguh kejam.

Kisah ini bermula tatkala gudang – yang dahulunya sebuah bilik – akan diperbaiki, akan kembali dijadikan sebuah bilik. Maka mulailah ibu bersih-bersih, memilah-milah, barang mana yang bernasib tragis maka akan dihancurkan, dibakar, atau dijual kepada tukang barang bekas. Lemari tua kami ini memiliki nasib menyedihkan, akan dihancurkan karena tiada berguna dan memakan tempat.

Walau sudah keras hati kami mempertahankannya, rupanya bunda tiada peduli. Demikianlah, suara rakyat bawah tak didengar, maka Lemari Tua kami ini akan menanti waktu eksekusi saja lagi.

*Ketika tulisan ini diterbitkan ia sudah tiada

[1] Setingkat SMP

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s