Main Kembang Api

Barisan lilin dan Marcun Gasiang
Barisan lilin dan Marcun Gasiang

Beberapa hari menjelang malam takbiran kami telah merencanakan dengan adik kami hendak merayakan malam takbiran dengan bermain kembang api. Beberapa hari sebelumnya tiga buah jenis kembang api telah dibeli oleh adik kami.

Telah lama kami tak bermain kembang api, beberapa tahun nan silam kami selalu bermain kembang api di malam takbiran. Pada suatu ketika makdang[1] kami mencemooh kami dengan mengataka kelakuan kami serupa kanak-kanak padahal sudah dewasa. Semenjak saat itu kami menjadi sakit hati dan berhenti main kembang api bersama adik-adik.

Sekarang kami mulai kemmbali, tak peduli apa kata orang, memangnya ada aturan bahwa; yang boleh main kembang api itu ialah kanak-kanak saja?

Kami nan serupa kanak-kanak
Kami nan serupa kanak-kanak

Kami harap bermain kembang api dapat melipur lara, menjadi pengalih perhatian. Walau sebenarnya kami sangsi, dia yang disana mungkin lebih menderita dari kami. Malam ini dia menghabiskan malam takbiran seorang diri..

Selepas Isya kami dan adik-adik kami mulai bersiap-siap merayakan malam takbiran dengan kembang api. Kami putuskan lantai atas rumah bagian belakang yang entah bila akan dibangun sebagai tempat bermain. Tempat yang telah lama tak kami kunjungi.

Hari raya ini kami putuskan untuk memakai kembang api yang meletus di angkasa, biasanya kami main kembang api air mancur atau kembang api biasa yang terbakar lalu memercikkan bunga-bunga api. Mungkin karena itulah kami dianggap kanak-kanak ketika itu.

Setidaknya tiga kembang api besar kami mainkan, suaranya menggelegar dan asapnyapun banyak. Sungguh nikmat dan senang hati ini. Nun jauh disana, suara takbir saling bersahutan, seolah-olah alampun bertakbir memuji kebesaranNya.

Siluet kami, tengoklah kabut yang mengawang2
Siluet kami, tengoklah kabut yang mengawang2

Malam itu, berselang-seling lalu oto[2] berombongan sambil mengumandangkan takbir serta tak lupa mereka mengucapkan “Selamat Hari Raya Idul Fitri untuk masyarakat Pintu Koto, Kamang dan sekitarnya..” demikian seru si engku dalam oto di hadapan pengeras suara.

Sungguh kami sedih, di kampung kami tiada orang tabir keliling, apakah itu dengan kendaraan ataupun dengan berjalan kaki. Dahulu semasa kami kanak-kanak, ketika kami masih mengaji di surau pernah diadakan oleh orang di kampung kami. Namun sekarang tiada lagi. Penyebab terhenti dahulu ialah ketika banyak terjadi pengeboman terhadap rumah ibadah milik pemeluk agama lain di republik ini, akibatnya kami nan menanggung. Menurut Tukang Kaba, sekelompok teroris yang ternyata bergama Islam pelakunya. Semenjak saat itu ketika hari raya umat agama tersebut, ramai-ramai orang menjaga dan melindungi tempat ibadah mereka, termasuk dari kelompok organisasi Islam. Namun apabila hari raya Idul Fitri, tak ada yang menjaga masjid.

Akibatnya seperti yang kami dengar keesokan harinya, sebuah masjid di Irian Jaya dibakar oleh penganut agama lain. Kata Tukang Kaba lagi, pelakunya ialah kriminal – bukan teroris, aneh.. – dan berharap tidak ada yang terpancing. Kata si engku rang sumando kami, yang salah ialah Speaker Masjid disana. Ada-ada saja, akhirnya si engku rang sumando kami ini digelari orang dengan Bapak Speaker Republik. Demikianlah perangai orang tua pikun..

[1] Saudara lelaki tertua ibu

[2] Mobil

Advertisements

2 thoughts on “Main Kembang Api

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s