Hari Rayo Anam

Kerabat sedang bersilaturahim
Kerabat sedang bersilaturahim

Di kampung kami sepekan selepas hari raya Idul Fitri, kami merayakan hari raya yang dikenal dengan nama Hari Rayo Anam. Maksudnya ialah hari raya yang dirayakan sepekan atau enam hari selepas hari raya besar. Muasal lain kenapa dinamai dengan Hari Rayo Anam ialah hari raya ini dirayakan selepas berpuasa sunat enam hari – yang dikenal oleh orang kampung kami dengan nama Puaso Anam – di awal bulan Syawal.

Pada masa dahulu perayaan Hari Rayo Anam ini sama berarti dan berharganya dengan hari raya besar, dimana karib-kerabat yang tak sempat diziarahi ketika hari raya besar diziarahi pada hari raya ini. Beraneka jenis masakan kembali dibuat dan dihidangkan, sama dengan masakan yang dibuat untuk menjamu pada hari raya besar enam hari nan silam. Kue-kue har raya serta kacang tujin kembali diletakkan di atas meja atau tikar di ruang tamu untuk menjamu kerabat yang tiba nanti. Para perempuan kembali meramaikan jalanan, sibuk mereka hilir-mudik menenteng bungkusan yang akan dibawa ke rumah kerabat. Di kampung kami, apabila datang ke rumah kerabat tak membawa buah tangan akan malu sekali, tanda kurang rasa, kasar tak beradat, sama dengan orang rimba.

Demikianlah di kampung kami, DAHULU..

Sekarang, keadaan telah banyak berubah, beberapa hari selepas hari raya orang telah mulai bekerja. Demikianlah nasib umat Muhammad di republik ini. Akibatnya Hari Rayo Anam atau di Pulau Jawa dikenal dengan nama Lebaran Ketupat tak lagi dirayakan. Tak menutup kemungkinan perayaan ini akan hilang ditelan masa karena tiada lagi ditunaikan oleh masyarakat penganutnya.

Sibuk bekerja maka tiada sempat lagi menunaikan kewajiban, tak hanya pegawai bahkan saudagar yang bebas mengatur waktunyapun ikut-ikut pula mempersingkat hari liburnya. Bahkan ada yang tetap berniaga di satu Syawal. Kata Saidi Palindih “Pitih[1] lebih beharga di orang sekarang dibandingkan silaturahim..”

Salut kami dengan kawan kami ini, bisa juga ia mengemukakan rasa, kami sangka tiada..

Apakah gerangan yang tengah terjadi di negeri kami ini kiranya? Tiadakah yang dapat mengobati?

[1] Uang

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s