Kisah Jam Gadang

Suasana di taman sekitar Jam Gadang
Suasana di taman sekitar Jam Gadang

Di hari ke lima hari raya ini kami putuskan untuk minta izin kepada rangkayo Des hendak ke Jam Gadang. Kebetulan kami belum bersilaturahmi semenjak hari raya pertama dengan kawan-kawan yang ada di Jam Gadang. Sekitar pukul sebelas kami berangkat ke Jam Gadang, kami dapati Engku Fauzan sedang asyik bersama seorang Polwan  di meja yang ada di bawah Jam Gadang. Sambil memegang pengeras ssuara Engku Fauzi sibuk memberitahukan berbagai hal, pada kesempatan ini perihal kendaraan yang parkir di sembarang tempat.

Dua orang polisi  perempuan ditambah dengan dua orang anak pramuka kami dapati disini. Anak pramuka ini tampaknya diarahkan oleh polisi, mungkin mereka mengikuti program khusus. Tatkala kami tanyak “Dari mana adik berdua..?” mereka menjawab “Dari kepolisian engku..” kamipun bergurau “Wah hebat ya sudah bisa bekerja di kepolisian. Banyak orang payah untuk dapat diterima disana..” mereka hanya tersenyum saja mendapat gurauan dari kami.

Jam Gadang, apakah itu pada hari biasa, libur, ataupun saat cuti bersama serupa sekarang menjadi tempat bagi orang-orang untuk mengadu apabila kehilangan. Apabila sudah demikian maka kawan-kawan yang berjaga disana sibuk berbicara seorang diri di hadapan pengeras suara, kalau tak ada pengeras suara pastilah mereka dianggap sebagai orang gila, berbicara seorang diri.

Kanak-kanak nan diabaikan
Kanak-kanak nan diabaikan

Berbagai macam yang diadadukan oleh orang, kehilangan anak, kehilangan suami, kehilangan isteri, dan parkir sembarangan. Hanya kehilangan hape dan dopet saja yang tidak dilayani. Jadi kalau engku dan rangakayo sekalian kehilangan anak, suami, ataupun isteri datanglah ke Jam Gadang dan minta tolong untuk disoraki melalui pengeras suara. Insha Allah akan segera bersua. Dengan catatan anak, suami, atapun isteri sedang berada di kawasan Pasa Ateh, di luar dari kawasan tersebut kami tidak janji akan bersua.

Kata Saidi Palindih yang mendapat tugas piket hari raya di Jam Gadang mengatakan kalau puncak dari keramaian ialah pada hari Ahad nan lalu. Adapun pada saat sekarang sudah jauh berkurang, tak seramai Ahad.

Ada beberapa kejadian menarik yang kami dengar dan dapati, kejadian pertama ialah periha seorang kanak-kanak perempuan yang berumur sekitar tiga tahun. Salah seorang pengunjung membawa anak tersebut kepada kami dan mengatakan kalau anak ini hilang, tak bersua dengan ayah-bundanya. Sungguh geram kami melihatnya, biasanya orang tua nan kehilangan anak namun sekarang anak yang kehilangan orang tua.

Hebatnya lagi, si anak sama sekali tak menangis. Kami bertambah gemas saja dibuatnya, anak serancak ini sampai disia-siakan serupa itu. kata Saidi Palindih, beberapa hari nan silam pernah berlaku kejadian yang serupa, rupanya orang tuanya ialah pedagang yang berdagang di sekitar Jam Gadang. Dan benar saja, setelah beberapa menit dinanti, dan entah berapa kali Engku Yos – salah seorang kawan kami yang bertugas di Jam Gadang – bersorak-sorak di pengeras suara, baru induak[1] anak ini muncul sambil tersipu-sipu.

Jalan Minangkabau arah ke Kebun Binatang Kinantan
Jalan Minangkabau arah ke Kebun Binatang Kinantan

Kejadian kedua ialah kisah yang kami dengar dari Saidi Palindih “Beruntung engku ditugaskan di rumah Bung Hatta, kalau disini banyak dosa yang engku dapat…” katanya kepada kami. “Iya, tengok saja Palindih itu, dahulu ada janggutnya sekarang licin dagunya itu..” sambung engku Marah – kawan nan bertugas di Jam Gadang – sambil tertawa terbahak-bahak.

Ya, sebenarnya di hari biasapun demikian juga, entah pelancong dari luar daerah atau orang sini jua. Ada yang memakai rok mini, padahal di kawasan Taman Sabai Nan Aluih – nama taman tempat Jam Gadang berada – angin bertiup sangatlah kencang. Mungkin sejuk terasa tatkala rok mini mereka ditiup-tiup angin. Nikamt di encik tapi dosa di kami..

Ada pula yang memakai pakaian serba ketat, mulai dari baju hingga celana atau memakai pakaian yang transparan atau memakai baju yang rendah lehernya. Ditambah lagi dengan tingkah mereka yang berpose membelakangi Jam Gadang apabila berfoto, tentulah memberikan pemandangan gratis kepada kami yang bertugas di Jam Gadang ini. Gratis tapi dosa..

Demikianlah, negeri kami semakin mengarah menjadi sekuler dan liberal..

[1] ibunya

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s