Pengalaman di Hari Raya ini

Allahu Akbar.. Allahu Akbar.. Allahu Akbar..

La.. Ilahaillah.. Huwallah.. Huakbar..

Allahu.. Akbar.. Walilla Ilham..

Kami bersama adik lelaki kami di rumah bako
Kami bersama adik lelaki kami di rumah bako

Semenjak tadi malam suara takbir telah menggema disegala penjuru negeri, suasana ini, suasana yang teramat kami rindukan. Betapa hari kemenangan berjuta rasanya, bukan hanya sekadar hari kemenangan bagi kami, melainkan juga hari pertemuan karena sekalian kerabat berkumpul, yang dirantau berhondoh-hondoh[1] pulang ke kampung. Juga hari berbagi kebahagiaan, kebahagiaan yang datang begitu saja dari hati yang digerakkan Illahi. Sungguh Allah Maha Besar..

Salah satu nikmat hari raya pada tahun ini ialah perayaan dirayakan serentak, kecuali pada beberapa aliran atau halaqah dalam Islam. Di Masjid Wustha tempat biasa kami shalat hari raya ramai dipenuhi jama’ah. Pihak pengurus masjid telah medirikan sebuah tenda di hadapan masjid untuk menampung jama’ah yang tiada termuat di dalam masjid.

Ada suatu kejadian yang menurut kami menggelikan, sakaligus mengesalkan. Tepat ketika Imam memberi aba-aba untuk rukuk, pengeras suara di dalam masjid mati. Akibatnya kami yang shalat di luar terpaksa menajam-najamkan pendengaran agar tak terlambat mengikuti irama gerakan shalat. Pengeras suara mati hingga shalat usai.

Selepas shalat, beberapa orang mencoba untuk menaikkan skring namun terjadi percikan api pertanda konsleting. Akhrinya pihak pengurus memutuskan untuk menghidupkan jenset. Namun walaupun listrik telah berhasil dihidupkan kembali suara khatib tetap tak terdengar hingga ke luar. Akhirnya kami, jama’ah yang shalat di luar memutuskan untuk segera angkat kaki meninggalkan masjid.

Demikianlah, akhirnya kami bergabung dengan yang lain. Adik lelaki kami kata “Sebenar pergi shalat hari raya saja kita ke masjid..”

Di halaman muka rumah di bawah kapuak
Di halaman muka rumah di bawah kapuak

Selepas shalat, sudah menjadi kebiasaan bagi kami sekeluarga bersilaturahim ke rumah bako,[2] ada dua rumah bako kami yang kami jalang[3] di Lubuak Jorong Nan tujuah. Selepas itu kami berangkat menuju rumah etek, anak perempuan dari adik lelaki kakek kami dari pihak ibu. Selepas itu kami semua berehat dahulu, selain karena kekenyangan juga karena waktu Shalat Jum’at sebentar lagi akan masuk.

Selepas Jum’at kami tak lagi ikut berhari raya, negara memanggil kami untuk menunaikan tugas. Ya, kami tiada mendapat hari libur semasa hari raya tahun ini, tetap bekerja. Ditugaskan untuk piket di Rumah Kelahiran Bung Hatta (RKBH) di Pasa Dama di Bukit Tinggi. Apa hendak dikata, kalau mangkir dari tugas akan menyebabkan kegaduhan dan kemaslahatan umatpun terganggu.

Jalanan masih lengang tatkala kami berangkat, demikian pula ketika sampai di RKBH, lengang. Menarik juga ketika melihat jalanan di Kota Bukit Tinggi lengang. Para pengunjung satu-satu datang, belum ramai. Syukur, pertanda mereka masih berhari raya ke rumah sanak keluarga, syukur ternyata nilai-nilai kekeluargaan masih dijaga, setidaknya untuk hari pertama ini.

Selepas Ashar, hujan lebat mengguyur Bukit Tinggi. Jalanan di hadapan RKBH tergenang air, memang sistim drainase disini perlu diperbaharui. Tak berapa lama selepas hujan reda, secara perlahan-lahan airpun surut.

Pukul enam, merupakan jam pulang, kami pulang, jalanan masih cukup lengang. Hari ini ditutup dengan kenangan pertama kami bekerja di hari raya. Kami yakin semua ada hikmahnya, dan itu pula yang kami rasakan. Setidaknya kami terhindar dari segala pertanyaan karib-kerabat yang akan membuat kami merasa sedih. Tak lengkap rasanya memang, namun hendak bagaiman, semuanya berada di luar kekuasaan kami. Akibat dendam kusumat sepasang kera, keadaan kami menjadi serupa ini. Tak hanya kami, orang tua, adik, serta keluarga lainnyapun merasakan. Hanya saja mereka semua pandai menyembunyikannya dari hadapan kami. Sungguh kami telah gagal membahagiakan orang-orang yang kami sayangi..

Kami yakin semua ini Insha Allah akan berakhir, Allah Maha Kuasa, dan Dia jua yang akan membalas segala tipu daya sepasang kera ini. Sepasang kera yang telah meluluh-lantakkan kami sekeluarga, menyebabkan orang-orang yang kami sayangi menjadi saling benci..

[1] Berbondong-bondong

[2] Keluarga Ayah

[3] Kunjungi

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s