Kenangan di Akhir Ramadhan (1436)_Bag.2

Satu keluarga yang sedang berbuka di teras Masjid Raya
Satu keluarga yang sedang berbuka di teras Masjid Raya

Selepas Shalat Magrib di Masjid Raya, kami semua berjalan menuju Kampuang Cino menuruni Janjang Pasenggrahan. Di Masjid Raya kami dapati dipenuhi oleh jama’ah, kami dapati pada terasnya beberapa keluarga berbuka puasa disana. Sungguh asyik pula kelihatannya, suatu pengalaman yang takkan pernah tersua ataupun terulang kembali. Berbuka di rumah makan, restoran, ataupun sejenisnya sudah biasa namun berbuka puasa di teras masjid? Atau serupa yang kami lakoni tadi bersama kawan-kawan, berbuka puasa di parkiran? Tentulah suatu pengalaman yang menarik.

Kami dapati beragam keadaan orang dalam berbuka puasa, ada yang sambil duduk-duduk di atas onda[1] mereka, ada yang berbuka di teras lepau, dan ada yang berbuka di bawah Jam Gadang. Semakin malam, Bukit Tinggi semakin ramai, tiada henti orang datang, tak Shalat Tarwihkah mereka ini?

Semula kami hendak makan pada sebuah rumah makan kepunyaan orang India di Kampuang Cino namun karena menunya tak ada nasi putih, Magex keberatan. Berbuka puasa kemarin ia telah makan nasi goreng pula. Ya.. kemarin ia berbuka puasa bersama seorang juniornya di es-em-a yang dikenalnya dalam perjalanan yang saat ini tengah melanjutkan studi magister di salah satu universitas ternama di Jakarta. Kelakar Tageh dan Ustad kalau gadis yang S-1nya BP.2009 ini ialah calonnya Magex.

Jam Gadang di kala malam
Jam Gadang di kala malam

Akhirnya diputuskan untuk makan di Rumah Makan Limpapeh yang letaknya tak jauh dari Jambatan Limpapeh. Rumah makan ini ialah tempat kami berbuka puasa dua tahun nan silam, ketika itu malam takbiran dan kami baru balik dari Great Wall mengantar Magex yang sudah sangat berkeinginan. Di rumah makan inilah akhirnya Rajo Mulia dan Katul (Satu sekolah dengan Tageh dan Magex dan sering main ke kos kami dahulunya) bergabung dengan kami. Dengan bertambahnya dua orang ini, pembicaraan kami menjadi hangat. Eh.. maksud kami Tageh, Magex, Rajo Mulia, dan Katul sementara kami, adik lelaki kami, serta ustad lebih banyak menyimak saja.

Cukup lama kami disini, pukul setengah sembilan kami putuskan untuk beranjak karena pemilik rumah makan sudah hendak menutup kedainya. Kami putuskan untuk melanjutkan nostalgia ketempat lain di kawasan Jam Gadang. Ustad minta diri dahulu karena rumahnya jauh di Bukik Batabuah, maka tinggallah kami berenam.

Suasana Pasar Atas masih sangat ramai, lalu lintas padat merayap, belum ada tanda-tanda hendak berhenti. Setelah berkeliling mencari tempat untuk duduk-duduk akhirnya kami putuskan untuk duduk pada salah satu kafe di dekat Jam Gadang. Café ini cukup ramai, terutama didominasi oleh pengunjung yang berasal dari usia 40 tahun ke bawah. Pada bagian belakang cafe ini menghadap ke arah Gunung Marapi. Kerla-kerlip lampu rumah penduduk di lerang Gunung Marapi menambah pesona Bukit Tinggi malam ini. Disini kami serasa tak berada di Minangkabau yang berlandaskan Islam melainkan sudah berpindah ke sebuah negeri sekuler yang tak mengenal hukum tuhan.

Kami duduk di lantai atas, berbincang-bincang melanjutkan percakapan yang terhenti. Ada satu cerita lucu yang diceritakan Tageh yang membuat kami tergelak. Begini ceritanya: Ada seorang engku yang baru kematian isteri, ketika itu tatkala orang sedang ramai bertakziah ke rumahnya, tiba-tiba ia berdiri dan kemudian melangkahi mayat isterinya beberapa kali.

Pemandangan ke arah Gunung Merapi di kala malam
Pemandangan ke arah Gunung Merapi di kala malam

Orang yang hadir menjadi tercengang, didekati si engku “Duhai engku, apalah yang perbuat ini! Kalau engku bersedih, kita semua pun ikut pula bersedih, tapi usahlah serupa ini pula engku..” kata salah seorang pentakziah.

“Bukan..” kata si engku “Semasa ia hidup isteri awak pernah berucap; Kalau engku hendak kawin lagi, langkahi dahulu mayat awak ini..!!” lanjut si engku.

Mendengar kisah demikian, kami semua tertawa terbahak-bahak, ada-ada saja Si Tageh “Esok engkau perkenalkan awak dengan si engku itu ya..” Kata Rajo Mulia.

Demikianlah, dengan dikawani lantunan musik dari penyanyi yang sedang bernyanyi di lantai bawah kami habiskan malam hingga pukul sebelas kurang. Hujan rinai memaksa kami untuk bubar pada malam ini. Namun walaupun demikian kawasan Pasa Ateh menjadi lengang, masih ramai serupa takkan berhenti saja sampai esok hari. Demikian pula jalanan pada malam ini masih juga ramai.

Pukul setengah dua belas kurang kami sampai di rumah, ramai orang tampak oleh kami di hadapan surau, rupanya malam inilah masanya digelar Perlombaan Garitiak Tabua[2] di surau sebelah rumah kami. Tentulah ribut malam ini, namun syukur mata ini masih dapat terlelap.

Catatan Akhir Ramadhan:

1. 2003_1 : https://ordinarymanjournal.wordpress.com/2014/08/20/kenangan-di-akhir-ramadhan-1434-h-permulaan/

2. 2003_2: https://ordinarymanjournal.wordpress.com/2014/08/19/kenangan-di-akhir-ramadhan-1434-h/

[1] motor

[2] Pukul bedug

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s