Mesin Waktu..

Salah satu kawasan di kampung kami
Salah satu kawasan di kampung kami

Pagi ini kami kembali berjalan-jalan keliling kampung kami, embun masih tebal menyelimuti, terasa sejuk tatkala menyentuh kulit. Orang masih lengang, apalagi jalanan dapat kita bermain sepak bola di tengahnya. Satu dua kami dapati beberapa orang petani ke sawah, sekarang sedang musiim bertanam agaknya. Sungguh hebat mereka, di pagi nan dingin menusuk ini mereka tiada gentar menginjaki kaki mereka ke dalam lunau[1] di sawah.

Kami ambil jalur yang berlainan dengan yang kemarin, hendak menyilau jalan tembus dari salah satu jorong. Dahulunya jalan tembus ini hanyalah jalan setapa berlunau. Jangankan onda,[2] kareta,[3] bahkan orang susah melaluinya, Rumah Tinggi namanya jorongnya dan jalan tembus itu menuju ke Jorong Binu. Sungguh menenangkan berjalan di jorong ini, kami tiada tahu entah apa yang membuat itu menyenangkan terasa, namun nan jelas hati kami terasa sejuk saja.

Di jalan kami sempat bersua dengan beberapa orang, salah seorangnya ialah Pak Tangah kami, beliau ialah sepupu dari bunda kami, tepatnya kamanakan dari Nyiak Aki kami. Kami berhenti sebentar, menyapa, bertanya seputar kabar. Tak jauh dari tempat kami bercakap-cakap, berjalan beberapa orang engku-engku ke arah kami. Rupanya dua orang diantara mereka ialah saudara sesuku dari papa kami, dan kamipun menyapanya bercakap-cakap sebentar. Rupanya mereka sedang berjalan-jala pagi saja, maraton.

Demikianlah hingga akhirnya kami sampai di Gobah yang terletak di Jorong Rumah Tinggi. Kawasan ini merupakan pintu masuk ke jalan pintas yang kami maksudkan tadi. Bernama Gobah berarti Tempat yang Tinggi, dinamakan demikian karena tempat itu berada di ketinggian apabila di tengok dari kawasan persawahan. Disinilah kami bersua dengan salah seorang rangkayo, bunda dari dua orang kawan kami semasa mengaji dan bersekolah di SMA dahulu. Beliau sedang menyapu-nyapu di hadapan rumahnya.

Semula kami hanya berniat menyapa saja, namun tampaknya ekspresi yang diberikan rangkayo ini ialah terkejut, tercengang, dan juga bahagia. Kami berhenti dan segera bersalaman dengan rangkayo ini. Sungguh apabila bersua dengan beliau kami terkenang dengan kedua anak lelakinya yang merupakan kawan kami semasa mengaji dan bersekolah dahulu. Kedua anak lelakinya bekerja di Jakarta pada salah satu Rumah Makan Padang yang sangat terkenal. Si adik telah menikah sedangkan abangnya belum, mereka hanya bertaut umur satu tahun. Di tempat mengaji dan di surau mereka selalu satu tingkat, terkadang kelas saja yang dibedakan.

Kembali kami ditarik ke masa lalu, sungguh mesin waktu ini membuat kami merasa merana sekaligus bahagia. Betapa masa lalu terutama masa kanak-kanak terasa manis apabila kita kenang. Kemarin pagi kami telah ditarik kembali ke masa lalu, dan sekarang berlaku hal serupa. Sebenarnya, memang ini yang kami cari pada pagi ini. Ada semacam energi yang mengalir ke dalam tubuh kami apabila berada dalam mesin waktu ini.

Demikianlah, cukup lama kami bercakap-cakap bertukar kabar dengan rangkayo bunda kawan kami ini. Selepas itu kami pamit hendak melanjutkan perjalanan. Kenangan itu masih ada dan kami yakin akan tetap ada, menemani sisa umur kami, ratapan hanya dalam hati saja tiada sampai ke luar, nanti bisa batal puasa awak.

[1] Lumpur

[2] Motor

[3] Sepeda

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s