Menabuh Tabuh

dahulu surau dan rumah tabuah yang terletak di samping tidak serupa ini. Ada yang bertambah bagus, ada yang berkurang..
dahulu surau dan rumah tabuah yang terletak di samping tidak serupa ini. Ada yang bertambah bagus, ada yang berkurang..

Pada suatu malam selepas Tarawiah[1] kami duduk-duduk di ruang makan bersama-sama kedua orang tua dan kedua adik kami. Bercakap-cakap sambil menghabiskan pabukoan. Ketika itu adik lelaki kami berujar perihal anak-anak yang sedang asyik mangguguah[2] tabuah[3] di surau sebelah rumah kami. Kami terkenang dengan masa kanak-kanak dimana kami tiada mendapat kesempatan untuk mangguguahi tabuah semasa bulan puasa.

Dahulu tabuah di surau kampung kami sama sekali tak boleh ditabuah,[4] dahulu semasa mengaji di surau kami dan beberapa orang kawan-kawan yang penasaran pernah mencuri-curi memukuli tabuah. Tak berapa lama kemudian, beberapa orang nenek-nenek yang tinggal di sekitar surau akan keluar membentak serta memarahi kami. Hal ini karena tabuah tak boleh dipukul sembarangan, ada masa-masa tertentu seperti beberapa hari menjelang raya serta beberapa hari selepas raya, sebagai pemberitahuan perihal kabar meninggalkany seseorang, dan lain sebagainya.

Namun anehnya, kami heran kenapa di bulan puasa kami tak dibolehkan? Bukankah masanya ini?

Sekarang anak-anak yang memukul tabuah memang dibiarkan, tak lagi dilarang. Dahulu, selain nenek-nenek yang tinggal di dekat surau juga ada seorang englu-engku tua yang suka membentak-bentak kami, namanya Engku Am (nama panjangnya Amrizal). Apabila dia sudah ke luar dari rumahnya kami segera lari dan begitu ia telah tiada kami kembali memukuli tabuh, demikian seterusnya. Kadang kami berteriak-teriak kurang ajar “Ampek..Ampek..!!” guna mencemooh dan bentuk sakit hati kami.

Ampek ialah kata ganti untuk umpatan paling kasar dalam kehidupan orang Minangkabau. Demikian kasarnya maka dipakai kata ganti “Ampek..” sebab siapapun yang mengucapkannya akan segera diselimuti kehinaan. Berlainan dengan Voldemort dalam Hary Potter dimana para penyihir memiliki kata ganti untuk memanggil namanya “Kamu Tahu Siapa..” karena takut sebab nama tersebut telah dimantrai. Maka dalam kasus ini, kata itu demikian hinanya sehingga berat atau sangat malu untuk menyebutnya. Arti dari kata tersebut ialah; kelamin perempuan..

Demikianlah, tabuah masih terus diguguahi oleh kanak-kanak di surau, sungguh nikmat terasa, kenapalah dahulu orang dewasa sampai melarang kami? Bukankah indah, nikmat, serta merdu suaranya..

[1] Tarwih

[2] Memukul

[3] Bedug

[4] Maksudnya “dipukul”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s