Meratapi Masa Kanak-kanak

Ilustrasi Gambar: Internet*
Ilustrasi Gambar: Internet

Pada suatu senja di bulan puasa, tatkala kami semua sudah selesai berbuka, kami sekeluarga bercakap-cakap bersenda gurau. Adik lelaki kami mengisahkan pengalamannya bersua dengan seorang engku orang kampung kami. Ia sedang berjalan dengan anaknya dan ditawari tumpangan oleh adik lelaki kami. Adik perempuan kami mengisahkan bahwa si ayah dengan anak lelakinya yang masih kanak-kanak – anaknya piatu, isterinya meninggal ketika si anak masih bayi – selalu bertengkar bak kucing dan anjing “Terserah engkaulah, engkau mada[1]..” bentak si ayah pada suatu ketika.

Rupanya kisah adik kami tersebut memancing ingatan masa lalu dari kedua orang tua kami perihal ayah si anak. Ayah si anak hanya bertautan beberapa tahun dengan kedua orang tua kami, dia terlambat menikah. Ayahnya pernah berkeluh kesah kepada papa kami perihal madanya anak lelakinya, papa kami menjawab “Engkau dahulu serupa apa! Tak jauh bedakan..?!” tanya papa sambil tersenyum.

Si engku memang mada semasa kanak-kanaknya, suka berkelahi dan berbuat jahil kepada kawan sama gedang. Papa berkisah, di kampung kami terdapat sebuah tabek[2] yang cukup luas dan dijadikan oleh kanak-kanak masa itu[3] sebagai tempat bermain, mandi-mandi. Di tabek itulah si engku sering berbuat jahil, suka menggaduh kawan-kawannya.

Kisah perihal tabek yang dijadikan sebagai tempat mandi memancing ingatan kami serta adik lelaki kami. Kamipun memiliki pengalaman yang sama, suka mandi-mandi di tabek dan batang aia[4]. Pada suatu tabek yang terletak di hadapan salah satu surau di kampung kami, kami dan kawan-kawan suka mandi disana. Sebenarnya dilarang oleh pengurus namun apabila si engku pengurus tak tampak, kami langsung berhamburan meloncat ke dalam tabek. Tertawa riang, mandi-mandi, dan apabila kembali kedapatan, lari tunggang-langgang menyelamatkan diri sambil telanjang dengan pakaian dalam genggaman.

Pernah suatu ketika tatkala kami mandi-mandi bersama kawan-kawan di satu-satunya batang aia yang ada di kampung kami, pakaian kami diambil tatkala kami sedang asyik mandi-mandi oleh si engku yang punya anak tadi. Dia kesal karena kami mandi tatkala air sedang kecil dimana airnya kotor sehingga dapat mendatangkan penyakit. Kami dan kawan-kawan terpaksa bertelanjang saja dibuatnya, untuk kami masih memakai sarawa kotok[5], sebagian kawan yang lain malah telanjang bulat.

Demi mandi-mandi dan dapat berenang kami sampai rela dikejar-kejar sampai diambil pakaian apabila tak gesit. Namun sayangnya, walau telah berpengalaman mandi-mandi semasa kanak-kanak, kami masih tiada pandai berenang, tragis bukan engku..??

Hal demikian sudah jarang kita dapati sekarang, sekarang jaman digital jadi sebagian besar waktu anak-anak zaman sekarang lebih banyak habis di depan komputer, laptop, hape, tablet, dan berbagai jenis alat digital lainnya. Ini justeru lebih tragis, sependapatkah engku, rangkayo, serta encik sekalian dengan kami..

*https://aprianiriza.wordpress.com/2013/07/28/edisi-khusus-sekolah-memori-sewaktu-tk/

[1] Keras kepala, nakal

[2] Kolam ikan

[3] Masa orang tua kami kanak-kanak

[4] Sungai

[5] Celana dalam

Advertisements

One thought on “Meratapi Masa Kanak-kanak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s