Datuk Angkuh

Ilustrasi Gambar: Internet*
Ilustrasi Gambar: Internet*

Pada suatu kampung sedang terjadi kegoncangan karena seorang  penghulu ingin memberhentikan hulubalangnya dan menggantinya dengan hulubalang baru. Penghulu ini ialah penghulu yang baru diangkat, beberapa bulan jadi penghulu telah banyak tabi’at aslinya yang tampak, mencibir orang kepada keluarga dan kamanakannya “Tak tahukah kalian dengan syarat-syarat orang yang dapat dijadikan penghulu?!” demikianlah cibiran mereka.

Hulubalang yang hendak digantikan ialah hulubalang tua yang keras kepala, sikapnya tak pula baik melainkan kasar, suka menang sendiri, berlidah tajam, dan suka menggedang di hadapan anak-kamanakan dan orang kampung. Telah banyak orang yang benci namun tiada yang berani menegurnya, bahkan para penghulu di sukunyapun berfikir-fikir dahulu. Apalagi sempat terdengar kabar angin kalau hulubalang tua ini juga menguasai Ilmu Batin,[1] bertambah takutlah orang-orang.

Maka, tatkala penghulu muda yang baru diangkat ini mulai menggadangkan[2] badan di hadapan anak-kamanakannya, dimana hal tersebut menyebabkan ia bersinggungan dengan hulubalang tua, orang-orang mencemooh bahwa dia merupakan seorang penghulu yang tak berkening (padahal keningnya lebar), kepala tak berisi, angkuh, sombong, dan tiada mengamalkan satupun Sifat Penghulu. Termasuk anak-kamanakannya juga ikut mencemooh.

Si penghulu yang muda yang sakit hati karena merasa tersinggung dengan sikap dan ucapan hulubalang tuapun mulai memainkan kekuasaannya. Kembali orang-orang bergunjing perihal penghulu tak babanak ini. Sudah menjadi orang Minangkabau terutama orang-orang dari Luhak Agam[3] ini untuk tidak dengan mudah patuh kepada orang lain, sifat keras kepala bercampur dengan sifat kritis tidak mudah menerima sesuatu menyebabkan mereka selalu menguji setiap hal baru yang tiba. Tiada orang di negeri ini yang menyembah orang, mengikuti telunjuk seorang datuk tanpa bertanya perihal baik dan buruk. Mereka punya falsafah, tidak hanya falsafah orang Agam ataupun orang Minangkabau saja, melainkan telah menjadi falsafah sekalian orang Melayu yakni; raja adil-raja disembah, raja lalim-raja disanggah.

Demikianlah, ketika keputusan itu keluar semua orang terkejut karena selama ini para penghulu selalu menjaga rasa dengan si hulubalang tua “Walau bagaimanapun ia mamak kita jua, kasihan kita kalau diberhentikan, telah menjadi darah daging baginya menjadi hulubalang itu. Bersabar dan berdo’a saja kita semoga beliau berubah..” pendapat almarhum penghulu sebelumnya.

Namun agaknya tidak bagi kamanakannya yang naik tahta menggantikan dirinya “Kami para penghulu ini yang menentukan hitam-putihnya anak-kamanakan..” ujarnya congkak pada suatu ketika. Mengurut dada saja orang yang mendengarnya.

Akhirnya perkara ini menjadi besar, Penghulu Pucuk[4] akhirnya tahu jua. Kena panggillah penghulu muda ini. Kesal minta ampun penghulu pucuk namun penghulu muda ini rupanya licin bak belut dan kalau terjepit ia tak segan-segan melupakan Kato Nan Ampek[5] “Mak Datuk, perkara ini ialah urusan saya. Mamakkan punya hulubalang sendiri, demikian pula saya..”

Terkejut penghulu pucuk mendapat jawapan dari penghulu muda, memang benar apa yang dikata penghulu muda namun tidak demikian caranya, kasar itu namanya. Lagipula, sebagai seorang Penghulu Pucuk, sudah menjadi kewajibannya menyelesaikan segala persoalan yang berada di bawah lingkup tanggung jawabnya.

Anak-kamanakannya yang semula tiada suka dengan keputusannya tiba-tiba memberi dukungan, namun di hadapan Penghulu Pucuk lain pula kata mereka “Petaka macam apapula yang diundang Datuk nan seorang itu..?!” ujar salah seorang kamanakannya tatkala Datuk Tua penghulu pucuk datang ke rumah mereka.

Apabila si penghulu muda yang pulang “Memang tepat keputusan datuk itu, telah banyak orang yang tersinggung oleh beliau itu, lagipula kasihan awak karena mamak hulubalang telah tua pula..” hasut mereka.

Alasan nan dikemukakan oleh si penghulu muda kepada anak-kamanakannya ialah karena hulubalang telah tua dan semestinya beristirahat menghabiskan hari tua. Padahal alasan sebenarnya karena tersinggung harga dirinya sebagai seorang datauk..

Demikianlah ia dengan segala kekurang ajarannya merajalela di tengah-tengah kaumnya. Namun ia lupa, ia hidup di tengah-tengah masyarakat beradat yang tinggi akan nilai-nilai hukum. Tiada kekuasaan yang absolut di Minangkabau ini, tunggu sajalah datuk muda, engkau akan terjungkang..

* https://zulfikri.wordpress.com/2007/07/02/komponen-perkampungan-tradisional-minangkabau/

[1] Sihir

[2] Unjuk kekuatan, menyombongkan

[3] Suatu kawasan yang terletak di lembah yang diapit oleh Pegunungan Bukit Barisan dan tiga buah gunung yakni Marapi, Singgalang, dan Sago. Pendeknya, seluruh kawasan yang terletak disekitar Kota Bukit Tinggi.

[4] Seorang penghulu yang dituakan – dijadikan pemimpin –  para datuk. Posisi Penghulu Pucuk semacam Menteri Koordinator, dan hanya berlaku bagi nagari-nagari yang menganut Kelarasan Koto Piliang.

[5] Aturan menjaga kesopanan dalam berbicara.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s