Ketika ego nan Berjaya

Ilustrasi Gambar: Internet*
Ilustrasi Gambar: Internet*

“Agaknya ia memiliki orang kuat di belakangnya, coba engku-engku fikirkan, sebelum menjadi mandor di tempat kita ia dahulunya kuli jua sama serupa kita. Entah apa kelebihan atau prestasi dibuatnya sehingga ia kemudian diangkat menjadi mandor di tempat kerja kita sekarang. Tidak mudah menjadi mandor, pasti ada yang menyokongnya dari belakang..” ujar St. Pangeran ketika mereka para kuli sedang duduk-duduk berehat dari kerja.

Mereka sedang mempergunjingkan kelakuan St. Majnun, mandor baru mereka “Awakpun berfikiran demikian engku, sebab tak mungkin dia berani kegedang-gedangan serupa itu kalau tiada yang dapat diandalkannya apabila ia terdesak kelak..”  salah seorang kuli kemudian menyambung.

Setelah mendapat marah dari Engku Ketua, St. Majnun bertambah giat dalam mencari cara untuk memuluskan kezhalimannya. Berani ia melawan kepada Engku Ketua “Engku, sekarang saya tanya kepada engku! Siapa pegawai yang menjadi bawahan engku? kalau kami para mandor jelas, kami membawahi para kuli dan beberapa orang pegawai sebagai tenaga administrasi.. Hah.. sedangkan engku?!”

Tiada berperasaankah atau memang kepalanya memang tiada berisi? Baik para kuli maupun pegawai tiada yang faham, kesal mereka melihat perangai St. Majnun namun mereka tiada dapat melawan atau memberi masukan. Hati manusia nan satu ini sudah ditutup oleh Allah, jadi sekeras apapun suara takkan didengarnya. Hawa nafsu telah menguasai hatinya, yang ada di kepalanya ialah kesumat, hari-harinya tak henti memikirkan pembalasan dendam.

Sesungguhnya St. Majnun ialah seorang pengecut, surat pemindahan yang dibuatnya tak berani diberikannya kepada pegawai senior yang hendak dipindahkannya. Salah seorang kuli yang disuruhnya memberikan surat tersebut, mulanya si kuli tak hendak namun dia tak habis akal dipancingnya si kuli ini “Takut engkau dengan kuli gaek itu?!”

“Tidaklah engku, saya tiada takut. Hanya segan dan kasihan, beliau sudah tua..” jawab si kuli.

Dengan senyuman licik St. Majnun menjawab “Kalau demikian tiada yang perlu engkau risaukan. Saya pimpinan, sayalah yang memutuskan, bukan si kuli nan tak jelas itu. Tak tahukah engkau seberapa besar kekuasaan yang ada pada diri saya?! di tangan inilah..” sambil mengangkat tangan kirinya dan menyodorkan tinju ke muka si kuli “letak nasib kalian para kuli. Tiada hubungan dengan Engku Ketua, ini ialah wewenang saya. Engku Ketua saja tak memiliki staf ataupun kuli yang menjadi bawahannya. Kata saya saja tak terjawab olehnya..” sabdanya angkuh.

“Sekarang pergilah engkau antarkan surat itu, jangan risau karena sayalah yang kuasa disini..” kata St. Majnun meangkat dagunya sombong sambil menepuk-nepuk dadanya.

Sebenarnya St. Majun takut apabila berhadapan dengan kuli gaek (kuli senior) tersebut, namun ditutupinya ketakutannya itu dengan berakting di hadapan kawan-kawan sesama mandor, engku ketua, para pegawai, dan para kuli. Namun orang yang berfikiran terang dan tajam mata hatinya tiada dapat dibohongi. Semakin dijualnya kekuasaannya maka semakin teranglah betapa takut dan lemahnya dirinya.

St. Majnunpun tiada sadar kalau dirinya dimanfaatkan oleh beberapa orang mandor dan kuli. Kuli gaek yang hendak disingkirnya tersebut bukanlah jenis kuli yang disenangi dan disukai oleh para kuli dan mandor. Sudah banyak yang tersinggung dengan ucapan dan kelakuannya, apakah itu para kuli ataupun para mandor. Namun mereka tiada berani dan sekaligus kasihan untuk bersikap tegas kepada kuli tersebut “Lagipula sebentar lagi beliau akan segera pensiun..” alasan mereka.

Maka mendengar aksi yang dilancarkan oleh St. Majnun maka ramailah dukungan mengalir kepadanya. Sebenarnya bukan dukungan melainkan provokasi, mereka semua mengipas-ngipasi St. Majnun agar tak gentar mempertahankan egonya. Dan memang berdampak kepada St. Majnun yang semakin keras dalam keputusannya. Sedangkan yang lain mengambil posisi aman.. “Kita tengok, berhasil atau tidakkah ia..hehehe..”

*http://www.info-jic.org/backup/khasanah/islamic-learnings/aqidah/769-watak-iblis.html

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s