Semua Pasti Berlalu

Ilustrasi Gambar: Internet*
Ilustrasi Gambar: Internet*

“Pernah seorang raja besar meminta dibuatkan sebuah pedang, kepada tukang tempa disuruhnya untuk mengukir kisah hidup dirinya pada pedang yang dipesan tersebut. Untuk membantu si tukang tempa, sang raja memberikan tiga buah kitab yang berisi riwayat perjalanan hidupnya..” kisang Datuk Nan Sati kepada kami tatkala sedang duduk-duduk di kedai isteri Engku Leman.

“Bagaimana mungin isi tiga buah kitab diukir pada selembar pedang Datuk? Taroklah timbal-balik sisinya yang dapat diukir, tapi takkan dapat memuat kisah sepanjang tiga buah kitab engku..” jawab St. Malenggang.

Datuk Nan Sati hanya tertawa pelan, rokok daun enau dihisapnya dalam-dalam, pipinya yang cekung menjadi bertambah cekung, kemudian dihembuskannya, asap rupanya tak keluar dari mulutnya saja melainkan juga dari hidung. Diraihnya dompet daun yang dipakainya untuk menyimpan helaian daun enau dan santo[1] kemudian dilemparnya dengan pelan ke tengah meja “Kalian cobalah rokok saya itu, itu nan sebenar rokok, tidak serupa dengan rokok orang sekarang, rokok pabrik. zaman sekarang semua yang kita pakai, makan, dan hisap berasal dari pabrik. Ampun awak ini..” serunya kepada kami.

Saidi Palindih tampak bersemangat sekali mengambil dompet daun tersebut, diambilnya santo dan kemudian diletakkan di tengah-tengah dua helai daun enau yang telah disusunnya baik-baik selepas itu digilingnya dengan kedua telapak tangannya “Mana cakuih[2] engkau tadi..?” tanya Saidi Palindih kepada St. Malenggang.

Belum sempat St. Malenggang merongoh sakunya, Datuk Nan Sati telah melemparkan kotak api-api bewarna kuning dan biru yang dihiasi bahasa dari salah satu negeri di Eropa sana “Ah.. anak zaman sekarang, tiada tahu betapa nikmatnya menggasuh api-api..”

Saidi Palindihpun tersenyum, St. Malenggangpun tersurut mengambil cakuih dan mulai mengalihkan pandangan ke dompet daun yang sekarang berada di hadapan Saidi Palindih, terlambat, kami telah lebih dahulu meraihnya. Datuk Nan Sati tersenyum melihat pemandangan tersebut dan kemudian melanjutkan ceritanya “Kalau dimuat isi ketiga kitab memang tidaklahkan muat. Namun si tukang tempa agaknya orang cerdik dan berakal pula. Diambilnya saja sari pati dari isi dari ketiga kitab tersebut..” engku datuk diam memandangi kami semua

“Apa itu sari pati ketiga kitab itu engku datuk?” tanya Saidi Palindih yang kemudian dilanjutkannya menghisap rokok daun enau yang baru saja berhasil disulutnya.

Engku datuk memandangi kami semua, menyuruh kami menjalankan cingkunek[3] kami namun sia-sia, kami bertiga sama-sama bebal otaknya.

“Ketika pedang itu diberikan kepada sang raja, betapa terkejutnya ia, dibentaknya si tukang tempa ‘Sudah saya berikan tiga buah kitab untuk diukirkan kepada pedang ini, namun sekarang apa yang engkau tulis ini?!’ bentak sang raja..”

“Maka menjawablah si tukang tempa ‘Maaf tuanku, inti dari ketiga kitab yang tuanku serahkan kepada saya dahulu itu ialah segala persoalan yang kita hadapi dalam hidup ini pasti berlalu, tiada yang abadi karena keabadian itu hanyalah milik Allah semata. Dari bayi menjadi remaja, kemudian dewasa, tua, dan akhirnya meninggal. Dari berpunya menjadi tak berpunya demikian pula sebaliknya. Sehat menjadi sakit, cantik menjadi buruk, dan demikian pula sebaliknya. Intinya tuanku, Semua Pasti Berlalu..’ jawab si tukang tempa” engku datuk memandangi kami semua dengan pandangan menyelidik.

Ketika mendengar kalimat pada pedang yang diukir oleh si tukang tempa kami jadi teringat akan judul sebuah sintron semasa kami kanak-kanak, dibintangi oleh Eksanti dan Adam Jordan, kalau tak salah judulnya ialah Badai Pasti Berlalu.

Judul filem ini sempat menjadi pameo bagi orang-orang apabila berhadapan suatu masalah pelik. Digunakan untuk memotivasi orang-orang ang terkena masalah agar jangan terpuruk dalam masalahnya. Namun ada jua yang tetap pesimis dan menjawab “Memang badai pasti berlalu, namun kita tiada pernah tahu berapa lama badai menghampiri kita dan berapa besar kerusakan (penderitaan) yang ditinggalkannya kepada kita..”

Ya.. sabar menghadapi cobaan dan kemudian bangkit dari keterpurukan ialah dua hal yang berlainan namun saling berkaitan. Semoga Allah Ta’ala memberikan kelapangan, kesabaran, kekuatan, ketabahan, dan kemudahan kepada kita semua. Amin..

*http://hadadear95.blogspot.com/

[1] Tembakau

[2] Mancis, Geretan, Pematik Api

[3] otak

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s