Teror kepada Kawan Kami

Ilustrasi Gambar: Internet*
Ilustrasi Gambar: Internet*

Ketika masuk kantor sehabis berehat mencari-cari angin di luar kami dapati St. Parmato sedang duduk-duduk sambil termenung di meja Engku Ketua. Kebetulan Engku Ketuanya sedang keluar, ada rapat di Balai Negeri. Kamipun menghampiri sambil bergurau menyapanya “Wah.. panjang menung Engku Ketua pagi ini..” gurau kami sambil tersenyum.

“Ah.. tidak engku..” jawabnya sambil tersenyum.

Kami faham kalau itu hanya basa-basi saja, maka bertanyalah kami perihal apa yang sedang dimenungkannya itu.

“Perihal kejadian tadi pagi engku..” jawabnya.

Kamipun heran, sebab tiada yang ganjil terjadi tadi pagi. St. Parmatopun heran pula, kenapa kami sampai tiada tahu. Bertanyalah St. Parmato kepada salah seorang kawan, “Tidak engku, St. Nagari tiada bersama kita di lepau tadi pagi..” jawab kawan nan ditanya.

Kami diam sambil penasaran, St. Parmato tersenyum lesu, karena melihat muka ingin tahu kami maka mulailah St. Parmato berkisah;

Sekitar pukul setengah sepuluh, St. Parmato mendapat telpon dari seseorang yang mengaku bernama Handoko yang merupakan pegawai salah satu rumah sakit pemerintah di kota kami. Si penelpon mengabarkan bahwa anak St. Parmato terjatuh di kamar mandi di sekolahnya dan sekarang sedang ditangani oleh petugas kesehatan. Lukanya cukup parah, di belakang kepala, dan kemungkinan akan dioperasi.

St. Parmato terkejut bukan kepalang, bagaimanakan tidak, anak kandung sibiran tulang sendiri yang sedang terancam nyawanya. Ditanyalah siapa guru yang mengawani anaknya ke rumah sakit, si penelpon yang mengaku bernama Handoko tersebut memberikan nomor telpon dari guru yang dimaksud.

Si guru menjawab telpon sambil menangis tersedu-sedu, semakin lemahlah jantung St. Parmato. Hendak bertanya lebih rinci, kawan kami ini kasihan karena mendengar suara tangis dari guru perempuan tersebut.

Telpon kembali kepada Handoko, dia berkata anak kawan kami mesti dioperasi saat ini juga, namun rumah sakit tiada memiliki alat-alatnya. Mesti dibeli dahulu sebesar 35juta ke salah satu apotek yang ada di kota kami dan tak jauh pula dari kantor kami. Handoko menawarkan kalau tiada sempat membeli alat tersebut sebab operasi mesti dilakukan saat ini juga maka alat tersebut dapat diupayakan dikirim langsung ke rumah sakit olehnya, tentunya mesti ia yang melakukan pembelian.

Kawan kami yang sudah hilang akal inipun menyetujui, tatkala ditanya perihal bagaimana cara pembayarannya kawan kami menjawab “Sebut saja nama saya, orang se-nagari ini sudah tahu dengan saya..”

Namun ketika hendak berangkat, tiba-tiba kawan kami ini ditangkap keraguan “Kenapa orang-orang ini saling mengoper telfon?” dan kawan-kawan yang ketika itu sedang duduk-duduk bersama dengan dirinya di lepaupun memberi saran agar melihat dahulu ke sekolah anaknya. Maka pergilah ia ke sekolah anaknya, sebelum berangkat ia sempat menelpon Kepala Sekolah namun tidak diangkat.

Sesampainya disekolah dilihatnya anaknya baik-baik saja, Kepala Sekolahpun menghampiri mengatakan kalau dia tadi sedang dijalan makanya tak dapat meangkat telfon, telah dicobanya menelpon kembali namun giliran kawan kami yang tak meangkat karena sedang mengendarai onda. Demikianlah akhirnya diceritakannyalah kejadian tersebut kepada Kepala Sekolah dan barusan kepada kami.

“Sungguh jahat cara orang sekarang mencari uang..” seru kami berdua bersamaan..

* http://www.solopos.com/2012/03/05/laporkan-bupati-kampar-dosen-mengaku-diteror-167860/teror-telepon-ilustrasi-bisnisdok

Advertisements

One thought on “Teror kepada Kawan Kami

  1. Reblogged this on shahira site's and commented:
    Bunda dahulu pernah mendapat telpon dari orang yang mengaku salah seorang saudara kami yang tinggal di salah satu kabupaten di Sumsel. Isinya meminta tolong mengirimkan uang karena dia kehabisan uang dalam perjalanannya hendak pulang kampung. Suara dan gaya bicaranya sangatlah mirip namun hati bunda tiada senang, diberi tahu papa, guna dimintai pendapat.

    Namun kecurigaan semakin menjadi tatkala ditanya bunda dimana dia sekarang. Dengan agak ragu dijawabnya “Di tempat biasalah tek, di Pakan Baru..”

    Maka yakinlah bunda kalau sedang berhadapan dengan Tukang Tipu. Telpon segera ditutup tatkala bunda membalas menyudutkan si Tukang Tipu.

    Yang membuat kami heran, bagaimana dia tahu perihal sanak-keluarga kami. Orang dekat kamikah ia???

    Entahlah, hanya kepada Allah Ta’ala saja tempat mencari perlindungan..

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s