Kawan kami nan Petani

Ilustrasi Gambar: Internet*
Ilustrasi Gambar: Internet*

Senang hati mendengar seorang kawan lama kami telah menikah, telah tiga puluh tahun agaknya usia kawan kami ini. Lambat menikah bukan karena tiada hendak namun karena jodoh itu yang belum jua dapat. Apa hendak dikata, awak bukan pegawai.

Jodohnya bukanlah perempuan kampung kami melainkan perempuan dari kampung bakonya. Sehari-hari kawan kami ini bekerja sebagai petani, di tanah milik sendiri. Anak sulung dari tiga orang bersaudara, semenjak kanak-kanak telah hidup menderita. Dia tiada berkuliah, selepas tamat sekolah di Es Te Em di Bukit Tinggi ia langsung pergi merantau ke Batam. Namun tak lama sekitar empat tahun lalu dia kembali pulang kampung.

Terkenang kami dengan masa kanak-kanak kami, disaat kawan-kawan sedang asyik bermain-main, dia malah sibuk membantu orang tuanya ke parak[1], itu membantu ayahnya. Sedangkan ibunya ia bantu jua, memasak, mencuci pinggan[2], menyasah[3], dan lain sebagainya. Adakalnya ia tolong ibunya membuat dagangan untuk dijual ibunya ke pakan[4], karena menggunakan air panas tangannya jadi melepuh dibuatnya.

Dia anak yang penurut, tiada pandai membantah kedua orang tuanya. Walau anak sulung ia menjadi tukang suruh saja di rumahnya. Disuruh membeli ini dan itu dia lakukan dengan ikhlas. Orang-orang saja yang memandang kasihan karena dia masih memiliki dua orang adik, kedua adiknya dapat jua disuruh namun entah kenapa selalu dia yang tampak hilir-mudik di tengah kampung.

Pernah dahulu dimasa bulan puasa kami menjemput  ia hendak pergi Shalat Tarawih bersama ke Masjid Jami’ di kampung kami. Sebenarnya di dekat rumah kami ada mushalla namun kami pilih Masjid Jami’ karena dapat bermain-main disana, bukan pergi Tarawih tujuan kami melainkan pergi bermain. Diperjalanan dia berkata “Kalau bukan engkau nan menjemput awak, tiada dibolehkan awak pergi ke Masjid Jami’..”

“Kenapa” tanya kami

“Karena kita dikira akan bermain saja bukan pergi shalat..”jawabnya polos.

Memang demikian kerja kami semasa kanak-kanak, tatkala orang sedang Shalat Tarawiah, kami kanak-kanak sibuk bermain-main dengan kawan. Atau mencoba-coba merokok, suatu kebiasaan yang sangat diharamkan kepada anak-anak.

Sudah semenjak lama terfikirkan oleh kami nasib kawan kami ini, kami menikah sudah setahun empat bulan. Kami pegawai sedangkan ia tidak, bekerja sebagai petani pula, manakan ada orang tua yang hendak melepas anaknya menikah dengan seorang petani?

Zaman sekarang, anak muda sudah tiada hendak menjadi petani, lebih baik bertukang atau menjadi pedagang. Namun kawan kami ini tiada demikian “Gengsi takkan mengenyangkan perut awak..”

Demikianlah kisah salah seorang kawan kami, Barakallah.. kawan ku. Semoga rumah tangga engkau dilindungi dan mendapat rahmat dari Allah Ta’ala

*http://fiksi.kompasiana.com/puisi/2014/05/17/puisi-petani-657255.html

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s