Upacara nan Membuat Kesal

Ilustrasi Gambar: Internet*
Ilustrasi Gambar: Internet*

Pada suatu hari Selasa St. Malenggang, salah seorang kawan kami mendapat tugas untuk ikut upacara pembukaan suatu kegiatan yang diadakan di Tanah Lapang di kota kami. St. Malenggang pergi dengan beberapa orang kawan di kantor, hanya perwakilan dua orang per-bidang.

Menurut surat tugas yang didapat, upacara dimulai pukul delapan pagi namun agaknya oto Tuan Gubernur berjalan sangat lambat dari Padang sehingga upacara baru dimulai pada pukul sepuluh pagi. Walau kota kami berhawakan sejuk namun pada pukul sepuluh itu panas matahari sudah dapat membuat saki kepala. Kata orang kampung kami, baiknya matahari hanya sampai pukul sembilan.

Upacara ini dihadiri tidak hanya Tuan Gubernur akan tetapi beberapa orang kepala daerah tingkat dua yang ada di propinsi kami. Sedangkan yang ikut upacara ialah tentara, polisi, dishub, pemadam kebakaran, Satpol-PP, pegawai pemda, mahasiswa IPDN yang berkampus di kota kami, dan murid-murid sekolah. Kesemuanya berpanas-panas ria, masih malang bagi pegawai pemda karena tiada memiliki pelindung kepala, adapun dengan peserta upacara nan lain memiliki pelindung kepala serupa topi ataupun baret.

Ada suatu kejadian menarik yang menurut kami entah lucu atau memalukan “Seluruh peserta upacara disuruh berbaris dahulu di depan kantor tentara baru kemudian diberi aba-aba untuk masuk ke tanah lapang. Seluruh barisan berbaris dengan tertib dan rapi serta masuk dengan baik dan membentuk barisan dengan rapi pula. Tiba giliran para pegawai pemda, barisan tiada rapi, berjalan seenaknya, dan tidak mengindahkan bentuk barisan. Sampai salah seorang tentara senior yang agaknya komandan dari tentara yang lain marah dan berteriak kesal ‘ini kenapa! Kalau tak mau diatur barisannya pergi saja pulang!!’ para peserta upacara yang lain hanya senyum-senyum saja mengamati kami..” kisah kawan kami.

Ada-ada saja..

Kawan kami inipun melanjutkan kisahnya, karena sudah kesal disuruh berpanas-panas ditambah jumlah pegawai sudah berkurang setengah karena kesal upacara belum jua mulai. Maka iapun pergi meninggalkan barisan memanfaatkan keriuhan acara tatkala peserta upacara sudah mulai tidak fokus karena tak tahan kepanasan. Adapun dengan kawan-kawan kami yang sekantor telah pergi melarikan diri sedari tadi. Hanya tinggal St. Malenggang dan induk semang kami saja.

Yang membuat lama ialah kata sambutan yang disampaikan oleh para pejabat, entah karena berdiri dipanggung yang teduh atau memang tiada merasa kalau panas matahari menyakitkan bagi kepala, kami tiada tahu.

St. Malenggang tertarik dengan marchine band mahasiswa IPDN ini karena disaat akhir upacara mereka mengadakan penampilan singkat dan salah satu lagu yang mereka bawakan ialah “Ginyang Mak Taci”. Tertawa kawan kami ini berkisah “Tak menyangka awak, kalau lagu ini diajarkan oleh instruktur mereka di kampus. Senang hati awak mendengarnya. Kan tidak semua mahasiswa IPDN itu orang Minang..”

Demikianlah, syukur bukan kami yang disuruh berpanas-panas ke Tanah Lapang.

*http://www.dpbbm.com-or.net/gallery/animasi-anak-sd

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s