Berharap ke Belanda

Ilustrasi Gambar: Internet*
Ilustrasi Gambar: Internet*

Belanda, ialah sebuah negeri yang sangat ingin kami kunjungi. Bagi orang-orang yang pernah menempuh pendidikan di bidang kesejarahan pastilah faham kenapa demikian berkeinginannya kami hendak pergi negeri itu. Kagum bercampur benci tentunya.

Kagum karena Negeri Liliput itu dapat menguasai negeri yang sedemikian besarnya serupa republik ini. Benci karena mereka ialah bangsa penjajah, yang jejak kekejaman nenek moyang mereka masih dapat kita dapati dan pelajari, terutama oleh para sejarawan.

Layaknya negeri-negeri di Eropa, terutama Eropa Barat, Negara Belanda ialah negara yang makkmur,  teratur, bersih, dan nyaman untuk ditinggali. Tidak seperti di republik ini dimana semuanya serba tak beraturan. Yang paling menarik minat kami ialah Kereta Angin[1] yang menjadi salah satu kendaraan favorit di negeri liliput tersebut.

Kalau kita hendak berkereta angin di republik ini maka kita mesti berhati-hati karena belum ada jalur khusus untuk pengendara kereta angin, asap polusi yang menjadi ancaman, dan keteraturan di jalan yang masih kurang kalau tiada hendak dikatakan tidak ada, di republik ini yang menjadi idola ialah Onda.[2] Di Belanda, Kereta Angin menjadi idola sama populernya dengan onda di republik ini mungkin. Sudah ada jalur khusus serta keselamatan pengguna kereta angin diperhatikan. Sering kami berkhayal bilakah hal demikian akan berlaku di negeri kami?

Beberapa pekan nan silam kami mendapat kabar bahwa salah seorang kawan kami berkesempatan untuk datang ke Belanda. Dia masuk lima besar pada pelatihan yang diikutinya pada suatu tempat di Pulau Jawa. Sungguh terbit rasa kesal dan iri dalam diri kami, kami yang berharap, kami yang berkeinginan, kami yang punya mimpi, namun orang lain nan mendapat kesempatan. Sungguh kami mati akal, sebab sebagai pegawai pemerintah sangat kecil kemungkinan kami dapat pergi ke luar negeri. Jangankan untuk pergi ke luar negeri, untuk dinas luar daerah saja susahnya minta ampun.

Namun beberapa pekan kemudian kami mendapat sebuah informasi lomba menulis, dimana pemenang pertama dan pemenang keduanya akan dikirim ke Belanda untuk mengikuti Kemah Musim Panas, hanya ada empat pemenang, pemenang tiga dan empat mendapat hadiah telpon pintar. Sungguh kami sangat berharap untuk dapat terpilih dan dikirim ke Belanda.

Kemunginan untuk menang lombapun sangat tipis karena setelah kami tengok tulisan para peserta yang telah masuk, ya ampun.. bagus-bagus, kalah tulisan awak. Namun tak boleh putus harapan, usaha sudah, berdo’a sudah, sekarang mesti berserah diri, tawakkal..

Sering terfikirkan sendiri oleh kami “Apa yang sedang dilakukannya di Belanda?” tanya kami dalam hati. Ah.. fikiran sesat, sebab kalau terfikirkan terus bisa sakit hati ini.

Semoga Allah Ta’ala mengabulkan do’a kami, amin..

*https://punyajeungipi.wordpress.com/2010/04/15/berani-beda-di-negeri-belanda/

[1] Sepeda

[2] Sepeda Motor

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s