Pabila Umur Berkurang

Ilustrasi Gambar: Internet*
Ilustrasi Gambar: Internet*

Telah sering kami dapati orang-orang mengucapkan “selamat ulang tahun” kepada kawan, kenalan, ataupun keluarga. Bagi mereka itu merupakan tanda kebahagiaan sehingga patut untuk diberi selamat.

Ada jua yang menggelar pesta besar-besaran, membuat undangan khusus, atau sekadar merayakan dengan dengan yang terkasih. Intinya ialah dirayakan, umur bertambah dirayakan karena hanya sekali dalam setahun.

Selain itu ada jua suatu fenomena atau menurut kami telah menjadi kebiasaan. Kebiasaan tersebut ialah mengompas kawan nan berulang tahun. Diminta mentraktir, membelikan makanan, membawa kue, dan lain sebagainya. Intinya tetap sama, uang keluar.

Namun bagi kebanyakan orang di negeri kami, ulang tahun ialah suatu peristiwa yang biasa bahkan cenderung dilupakan. Hanya generasi sekarang yang ingat dan merayakan hari ulang tahunnya. Bahkan almarhum inyiak aki[1] kami tiada tahu tanggal, bulan, dan tahun beliau dilahirkan.

Bagi kebanyakan orang-orang yang telah tersentuh kebudayaan “moderen”, merayakan hari ulang tahun ialah sesuatu yang wajib hukumnya. Namun bagi kami-kami nan udik ini, hari ulang tahun ialah hari bersedih karena berkurang jua umur di atas dunia ini. Bukannya bertambah seperti diyakini kebanyakan “orang moderen”.

Berlainan dengan hari ulang tahun negeri, kota, syarikat (organisasi), dan sejenisnya. Memang bertambah umurnya.

Seingat kami, hanya sekali ulang tahun kami dirayakan, sekitar 25 tahun nan silam, ketika itu kami bersekolah di Taman Kanak-kanak. Bunda membuatkan kue ulang tahun namun tiada boleh diberi lilin “Tiada sesuai dengan keyakinan kita Umat Islam..” demikian kata bunda.

Namun entah bila bermula, kami sekeluarga memiliki kebiasaan aneh ketika ulang tahun. Kebiasaan ini hanya berlaku pada kami bertiga, papa dan bunda tiada demikian, mereka mengabaikan hari ulang tahun mereka. Kebiasaan itu ialah makan Martabak Mesir.[2] Di kota kami, Martabak Mesir dijual oleh orang pada malam hari.

Tapi kami tiada pernah saling mengucapkan selamat, hanya sebagai tanda saja, atau sekadar “momen” untuk makan Martabak Mesir bersama. Maklumlah, kalau terlalu sering dimakan maka akan berakibat tidak baik untuk perut dan kantong, dibelinyapun jauh, di Pasar Bukit Tinggi.

Teringat kami tatkala menonton Drama Korea, mereka memiliki kebiasaan khas pula dalam merayakan hari ulang tahun yakni Memakan Sup Rumput Laut.

Akhirnya, berkurang jua umur kami..

*http://ulfalarasanty.blogspot.com/2014/01/ulang-tahun-dalam-islam-benarkah.html

[1] Kakek

[2] Ada jua yang menamainya dengan Martabak Kubang. Karena para pembuat Martabak ini kebanyakan berasal dari Nagari Kubang, salah satu nagari di Kabupaten Limo Puluah Koto.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s