Sawahlunto & Kereta Api di Sumatera Barat

Tema: Tanah

Kota Sawahlunto nun Jauh di dasar lembah
Kota Sawahlunto nun Jauh di dasar lembah

Sawahlunto merupakan salah satu kota yang ada di Provinsi Sumatera Barat, berjarak sekitar 95 Km dari Kota Padang Ibu Kota Provinsi, atau sekitar 84 Km dari Kota Bukittinggi yang merupakan kota tujuan utama wisata di provinsi ini. Sawahlunto dan Bukittinggi memiliki kesamaan yakni sama-sama kota yang dibangun dan dikembangkan oleh orang Belanda selama penjajahan mereka di Indonesia. Perbedaannya ialah Kota Bukittinggi berasal dari sebuah benteng yang bernama Fort de Kock yang didirikan semasa Perang Paderi, sedangkan Sawahlunto merupakan sebuah kota yang sengaja dibangun dan dikembangkan oleh orang-orang Belanda dengan tujuan pertambangan.

Pusat dari Kota Sawahlunto terletak pada sebuah lembah yang dinamai dengan nama Lembah Soegai atau lebih dikenal dengan nama Lembah Segar. Lembah ini dikelilingi oleh bukit-bukit sehingga menyerupai kuali, dasar “kuali” ini dialiri oleh dua aliran sungai.[1] Lembah inilah yang dijadikan oleh orang Belanda sebagai pusat pemerintahan dan ekonomi. Dimana pada lembah ini dibangun berbagai fasilitas, baik itu fasilitas pemerintahan maupun fasilitas yang berhubungan dengan pertambangan.

Orang Belanda datang ke kota ini seiring dengan penemuan endapan batubara di Sungai Ombilin yang letaknya sekitar 10 Km dari Lembah Segar. Penemuan endapan batubara itu ditemukan oleh seorang ahli pertambangan yang ditugasi untuk menyelidiki kemungkinan adanya kandungan batubara di sepanjang aliran Sungai Ombilin. Insinyur tersebut ialah Willem Hendrik de Greve yang menemukannya pada tahun 1868 dan melaporkan hasil penemuannya kepada Kerajaan Belanda pada tahun 1870.[2]

Demikianlah, berkat penemuan endapan batubara tersebut maka mulailah Pemerintah Belanda merancang untuk melakukan eksploitasi di kawasan yang sekarang bernama Sawahlunto. Batubara pada masa itu sama menggodanya dengan minyak bumi pada masa sekarang, demi menambang minyak di dalam perut bumi maka suatu pemukiman dapat dipindahkan, terpaksa ataupun suka rela. Hingga masa ini, Perusahaan Tambang Bukit Asam yang menguasai sebagai besar lahan di kota tersebut masih menghadapi masalah yang lebih seabad lalu dihadapi oleh orang-orang Belanda di kota itu.[3]

rel kereta dan air mancur
rel kereta dan air mancur

Penambangan batubara yang dilakukan di Sawahlunto memiliki tantangan yang berat bagi Pemerintah Kolonial Belanda. Tantangan utama ialah permasalahan pengangkutan karena Sawahlunto terletak di pedalaman. Terdapat dua solusi, pertama membawa ke Pantai Timur Sumatera melalui daerah Riau dengan memanfaatkan aliran Sungai Ombilin yang bermuara di Sungai Kuantan dan berakhir di Selat Malaka. Rencana ini gagal karena de Greve yang menyelidiki kemungkinan ini tewas ketika sedang melakukan penyelidikan di Batang Kuantan, peristiwa ini terjadi pada tahun 1872. Sebab lain ialah daerah Sumatera Bagian Timur yakni Riau dan Jambi masih bergolak, belum tunduk kepada Kerajaan Belanda.[4]

Kemungkinan kedua yang lebih hemat dari segi biaya sekaligus membutuhkan kesabaran yakni membawanya melalui Pantai Barat. Kota yang akan dijadikan sebagai pelabuhan ialah Kota Padang dengan pelabuhannya yang bernama Emma Haven atau Teluk Bayur sekarang. Kedua kota yang terpisah jarak yang cukup jauh ini akan dihubungkan dengan membangun jalur kereta api.

Pembangunan jalur kereta api di Sumatera Barat membutuhkan tantangan yang sangat besar karena keadaan alamnya yang berbukit-bukit. Pemerintah Belanda berencana hendak membangun jalur kereta api melalui kawasan yang mereka sebut dengan Soebang Pass yakni melalui daerah Solok terus ke Sitinjau Laut dan berakhir di Padang. Namun rencana ini gagal karena keadaan bukit-bukit yang terjal yang tidak mungkin untuk dibuatkan rel. Akhirnya dibuatlah jalur melingkar, masih melalui Solok namun berbelok ke Singkarak kemudian terus ke Padang Panjang, Kayu Tanam, Sicincin, dan baru berakhir di Padang tepatnya di Emma Haven.

Pembangunan jalur kereta api ini dimulai pada tahun 1887  dan baru selesai pada tahun 1895.[5] Cukup lama pembangunan jalur kereta api di Sumatera Barat ini karena tidak hanya membangun rute dari Padang menuju Sawahlunto saja melainkan juga dibangun juga jalur kereta api dari Padang menuju Pariaman, Bukittinggi, dan Payakumbuh. Jalur dari Padang Panjang menuju Sawahlunto diselesaikan paling akhir. Orang yang paling berjasa dalam pembangunan jalur kereta api ini ialah seorang insyinyur yang sebelumnya telah membangun jalur kereta api di Pulau Jawa, nama orang tersebut ialah Ir.M.Ijzerman.[6]

jalur kereta api ke sawahlunto12Berbicara mengenai jalur kereta api di Sumatera Barat maka kita akan berbicara mengenai suatu revolusi yang dijalankan oleh orang-orang Belanda di propinsi ini. Sebelum alat transportasi yang bernama kereta api diperkenalkan, masyarakat Minangkabau pada masa dahulunya terbiasa mengandalkan kuda beban ataupun pedati untuk mengangkut barang. Sebagai contoh ialah pada masa dahulunya garam-garam dari Pariaman diangkut dengan menggunakan pedati ke Padang Panjang. Jalan-jalan yang biasa ditempuh ialah jalan kuda yang tak jarang menggandung bahaya seperti perampokan. Salah satu kawasan yang dilalui jalur kereta api ialah Lembah Anai yang pada masa dahulunya dikenal sebagai tempat bersarangnya para perompak.

Namun berkat dibangunnya jalan kereta api oleh Pemerintah Belanda maka hal tersebut berdampak juga kepada kehidupan masyarakat pribumi. Memendeknya jarak serta tingginya mobilitas orang Minangkabau – apakah itu mobilitas sosial, ekonomi, atapun pendidikan – menjadi tampak pada tahun-tahun berikutnya. Hal ini terutama dirasakan oleh masyarakat yang berada di Kota Bukittinggi, kota yang menjadi tempat kelahiran beberapa orang Founding Father Republik ini.

Penyebabnya sederhana menurut pandangan awam, yakni sebuah benda berbentuk batu hitam yang digelari dengan Emas Hitam dan dinamai dengan Batubara serta sebuah Kota yang bernama Sawahlunto. Keduanya telah memotivasi orang Belanda untuk memikirkan cara agar Emas Hitam tersebut samai juga ke negeri mereka. Akibatnya, untuk mencapai itu semua maka mereka bangunlah jalur kereta api yang aneh dalam pandangan masyarakat pribumi, mereka bawa lokomotif untuk menarik gerbongnya. Masyarakat pribumi heran, ada yang memanggilnya dengan nama “Kereta Api” ada juga yang menggelari dengan Mak Itam. Mak berasal dari kata Mamak (saudara lelaki ibu), Itam berarti hitam. Mungkin karena warna dari lokomotif tersebut hitam makanya digelari dengan gelar Mak Itam.

Pada perkembangannya Kereta Api menjadi alat transportasi utama dan favorit dikalangan masyarakat Minangkabau pada masa itu. Menjadi penghubung antar kota dan meningkatkan laju perpindahan dan mobilitas penduduk. Kereta api merupakan salah satu jasa dari Pemerintah Belanda untuk masyarakat Minangkabau yang berpengaruh terhadap segenap aspek kehidupan mereka ketika itu.

Sumber Bacaan:

Andi Asoka, dkk. Sawahlunto; Dulu, Kini, dan Esok. PSH Univ. Andalas, 2005

Erwiza Erman. Membaranya Batubara. Desantara. 2005

Sumber Gambar:

http://media-kitlv.nl

[1] Nama dua sungai yang mengaliri lembah tersebut ialah Sungai Lunto dan Sungai Sumpahan, namun Sungai Luntolah yang memiliki aliran paling panjang dan lebar. kepada nama sungai inilah nama kota ini dinisbatkan.

[2] Erwiza Erman. Membaranya Batubara.Desantara. 2005 (Hal.32-34)

[3] Andi Asoka, dkk. Sawahlunto; Dulu, Kini, dan Esok. PSH Univ. Andlas, 2005 (Hal.29)

[4] Ibid, Hal. 45-46

[5] Ibid. Hal.50

[6] Patung dada Ijzerman dibuat oleh Pemda Sawahlunto dan diletakkan di depan Museum Kereta Api di Kampung Teleng.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s