Pelajaran dari Surau

Ilustrasi Gambar: Internet*
Ilustrasi Gambar: Internet*

Tengah hari ini ada yang lain ketika kami tiba di surau, setidaknya ada tiga, pertama Garin[1] yang biasanya tiada ada di surau pada tengah hari ini ada untuk menunaikan tugasnya. Kedua, engku Garin mengumandangkan adzan tanpa pengeras suara. Ada apa gerangan?

Tatkala kami selesai berwudhu dan telah ada di dalam surau baru kami sadari bahwa listrik ternyata padam. Entah kenapa semenjak sepekan nan lalu listrik acap padam di tempat kami. Walaupun padam namun jama’ah tetap masih ada yang datang “Mungkin ini buah dari latihan yang engku berikan beberapa pekan nan silam..” bisik Sutan Malenggang kepada kami.

Memanglah beberapa pekan nan silam dimana Garin tiada ditempat karena berkuliah di salah satu sekolah agama di kota ini, kami langsung mengumandangkan qamat tanpa adzan. Kami beranggapan karena adzan telah bersahut-sahutan di kota ini maka semua orang sudah tahu kalau waktu zuhur telah masuk, jadi kenapa mesti dinanti jua orang adzan? Bukankah pengajaran selama ini mengajarkan bahwa adzan itu di sambut bukan di nanti, pergilah ke surau sebelum adzan, kerjakana shalat sunat Tahyatul Masjid, dan amalan lainnya.

Kami terkenang dengan pengalaman kami ketika kuliah dahulu, terdapat sebuah surau penganut ajaran Tareqat Naqsabandiyah yang jumlahnya semakin berkurang di propinsi ini. Surau tersebut tidak mengunakan pengeras suara untuk adzan melainkan setelah memukul tabuh pertanda waktu shalat masuk maka mereka akan mengumandangkan adzan tanpa pengeras suara. Tatkala kami tanyakan kepada kawan yang tinggal disana, katanya “Walaupun telah memakai pengeras suara, tetap saja tiada seberapa orang yang datang untuk shalat berjama’ah. Tengoklah dahulu, tiada pengeras suara, namun ramai orang datang. Sebelum adzan di kumandangkan mereka sudah tahu kalau waktu sudah hampir masuk dan telah berbondong-bondong mereka datang ke surau..”

Adapun  dengan kisah yang ketiga ialah berasal dari cerita Sutan Malenggang yang berkisah kepada kami di dalam perjalanan pulang dari surau. Dia berkisah bahwa tatkala hendak menunaikan shalat sunat rawatib selepas shalat zuhur ia mendapati seorang anak es-de yang sedang menunaikan shalat zuhur. Terkenang ia dengan masa kanak-kanak yang malas sekali kalau disuruh shalat, jangankan shalat ke surau, shalat di rumahpun ia malas, Setan Gedang yang menggodanya. Dia baru dapat menunaikan shalat lima waktu dengan baik tatkala berada di kelas satu es-em-a “Ketika itu di bulan ramadhan kami rajin shalat lima waktu ke surau. Selepas ramadhan rupanya terbiasa terus hingga kini. Menjadi kebiasaan dan kebutuhan, apabila tak ditunaikan serasa ada yang kurang dan menjadi beban fikiran..” kisahnya kepada kami.

Kamipun takjub dengan kanak-kanak itu, masih kecil, seorang diri tanpa kawan telah datang ke surau sepulang sekolah untuk menunaikan shalat zuhur. Sungguh beruntung orang tuanya, malu kami dibuatnya. Karena kami dahulunya juga malas apabila disuruh shalat oleh orang tua kami, ada shalat tapi tak dibaca bacaan shalatnya, hanya tunggang-tunggik saja, atau dilakukan secara cepat yang kemudian digelari oleh orang tua kami dengan gelar “Shalat co Cakuih Api..”[2]

*http://www.arrahmah.com/news/2014/07/27/duka-gaza-jelang-idul-fitri-1435-hijriyah.html

[1] Penjaga masjid, yang bertugas mengumandangkan adzan, membersihkan masjid, dan lain sebagaiinya. Berlainan dengan Engku Bila, yang berasal dari kata Bilal, Mu’adzin nabi, yang hanya bertugas mengumandangkan adzan saja. Di Jawa dikenal dengan sebutan Takmir Masjid.

[2] Shalat serupa pematik api, Cakuih api ialah pematik api, diumpamakan serupa api yang dengan cepat hidup dari pematik tersebut, serupa itu pula shalat yang dilakukan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s