Mengurut dada sajalah awak..

Ilustrasi Gambar: Internet*
Ilustrasi Gambar: Internet*

Terkenang dengan sebuah foto yang diunggah di jejaring sosial dan kemudian menjadi berita pada beberapa media nasional. Hal serupa tapi tak sama Sabtu[1] ini juga kami alami, sebuah mobil L300 putih yang dikendarai oleh orang ndak babanak[2] yang parkir di tempat kami hendak memutar oto[3], sebuah truk prah yang tak punya rasa sabar sehabis membongkar pasir mendesak kami yang hendak memutar oto padahal sudah didim, dan terakhir orang-orang kampung yang tak punya belas kasihan yang tertawa-tawa di lepau melihat kami kepayahan memutar oto.

Entah siapa yang hendak disalahkan, jalanan yang sempit, pengguna jalan masa sekarang yang tiada kenal dengan kata sabar, orang-orang yang tiada punya belas kasihan, atau manusia sekarang yang telah menjadi makhluk mekanis saja.

Hal serupa tapi tak sama juga telah kami alami bulanan nan silam, ketika itu kami hendak keluar dari sebuah kedai (ruko) namun roda depan oto yang kami kendarai rupanya masuk ke dalam lubang di atas saluran gorong-gorong. Malang nasib kami karena gardan belakang yang berputar, payah menggas namun tiada bergerak oto malang ini.

Pegawai kedai yang baru kami kunjungi dan beberapa orang nan lalu hanya memandangi saja, bahkan ada yang sempat tersenyum. Sempat kami melihat pegawai kedai itu tersenyum simpul berbicara kepada salah seorang pelanggannya yang baru datang tatkala roda oto kami terperosok ke dalam lubang.

Di hadapan ruko tersebut juga ada kedai, orang ramai disana, mulanya mereka hanya melihat-lihat saja dari kedai sambil sibuk minum dan maota[4]. Namun beberama menit kemudian atas arahan dari salah seorang dari mereka, sekelompok engku-engku keluar dari kedai membantu kami.

“Kita angkat saja bagian depan oto ini, engku mundurkan ketika itu..” seru salah seorang engku.

Kami faham, dan setelah diberi aba-aba, oto kami diangkat dan kemudian kami menggas agak sedikit. Hampir kena kaki salah seorang engku nan meangkat “Tiada mengapa..” katanya.

Ada jua salah seorang dari mereka yang tiada ikut meangkat berlagak pula “Kena kaki engkau..!!” tanya kepada kawannya sambil mengeraskan suara, hendak meminta uang mungkin kepada kami.

Salah seorang dari engku-engku tersebut berujar “Ini pasti proyek odong-odong lagi..” katanya sambil melihat lubang tempat oto kami terperosok.

Selepas itu kami mengucapkan terima kasih dan langsung pergi. Keperluan kami dengan kedai sialan tersebut kami batalkan dan kami putuskan untuk pergi saja ke kedai langganan kami yang cukup jauh jaraknya.

Demikianlah, kesal bukan main namun apa hendak dikata, demikianlah dunia zaman sekarang..

*http://danshinoblog.blogspot.com/2013_11_01_archive.html

[1] 11 April 2015

[2] Tak berotak

[3] Mobil

[4] bercakap-cakap, berbincang-bincang, ngobrol

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s