Menjenguk ke Lintau

Hamparan pesawahan melepas kami dari Payakumbuah
Hamparan pesawahan melepas kami dari Payakumbuah

Petang hari Rabu[1] kami mendapat telpon dari induk semang kami, ketika itu kami sedang menyetir, jarang-jarang kami dapat telpon di jam pulang kantor kecuali dari isteri dan bunda kami. Induk semang kami mengabari kalau ayahandanya telah meninggal di kampung halamannya di Nagari Tapi Selo Lintau Buo, sebuah nagari di Kab. Tanah Data.

Maka selepas sampai di rumah, mulailah kami menyeberkan sms ke seluruh kawan-kawan kantor yang kami miliki nomornya “Agaknya esok akan pergi menjenguk[2] orang kantor..”

Benar saja, keesokan harinya kami datang agak terlambat, Saidi Palindih sudah menengok-nengok ke arah luar kantor menanti kedatangan kami. Begitu kami sampai, segera Saidi Palindih berseru “Pergi menjenguk kita lagi St. Nagari..!” lebih tepat memberikan perintah sebenarnya.

Rupanya tidak hanya kami melainkan beberapa orang kawan sekantor juga hendak pergi. Setelah bertanya kepada Kepala Bidang kami, akhirnya Palindih bersedia mengalaha, menanti kawan-kawan terkumpul. Akhirnya kami berangkat pukul setengah sepuluh dengan memakai tiga buah oto[3], oto Palindih, Oto Sekretaris Dinas, dan Oto Kepala Dinas kami bersama enam orang kawan lainnya naik oto Saidi Palindih[4] sedangkan dua buah oto  milik Pemerintah dinaiki oleh empat orang saja.

Masjid Rata Tapi Selo
Masjid Rata Tapi Selo

Ini merupakan pertama kalinya kami semua pergi Lintau, sebelum berangkat telah kami telpon induk semang kami ini, meminta ia me-sms-kan alamat lengkap rumahnya. Dikatakannya ia namun tetap disebutkan lewat telpon alamat rumahnya, kami katakan “Awak pelupa engku, engku smskan sajalah..” dijawab oleh induk semang kami ini “Ya..sambil menanti sms elok awak sebutkan saja dahulu..” dan akhirnya sms nan kami minta tiada pernah sampai, tersangkat di Tapi Selo, di atas batamg kayu di hadapan rumah orang tua induk semang kami.

Ke Lintau ada beberapa jalan, keduanya bermula di daerah Baso[5] belok ke kanan berarti ke Batu Sangka, dapat jua sampai ke Lintau, namun tidak direkomendasikan oleh induk semang kami. Lurus berarti ke Payakumbuah, merupakan rekomendasi dari induk semang kami, kejalan inilah kami lalu.

Sebelas lewat lima kami sampai di rumah orang tua induk semang kami, dia sedang melihat orang mengali kubur. Sesuai petunjuk dari induk semang kami ditambah dengan bertanya sebanyak tiga kali di tiga tempat yang berbeda ke penduduk setempat, maka disinilah kami sekarang terkejut mendapati salah seorang Kepala Bagian di kantor kami telah ada di sini. Usut punya usut, rupanya ia kamanakan induk semang kami. “Bah.. baru tahu awak..”

Simpang ke rumah Induk semang kami
Simpang ke rumah Induk semang kami

Ada cerita menarik diperjalanan pergi tadi, ketika itu kami hampir memasuki Nagari Ladang Laweh, dan kami nan di atas oto ditangkap ragu, benarkah ini jalannya? Lalu Saidi Palindih menghentikan otonya, meminta kami bertanya kepada seorang engku-engku yang sedang menyabit rumpun untuk ternak. Si engku itu menjawab “Lintau? O.. jauh lagi engku, 2 jam lagi..” kata si engku sambil tersenyum.

“Masya Allah..” ujar kami dalam hati “Bisa pulang malam awak..” ratap kami. Namun rupanya kami telah mendapat dusta dari seorang engku penyabit rumput yang entah bernamakan siapa, alamatnya dimana, siapa nama gadis ibu kandungnya,….?

Kita kembali ke Tapi Selo, rombongan plat merah rupanya sasek[6], ketika seharusnya berbelok mereka lurus. Ampun, maka kami putuskan untuk berjalan ke luar di simpang tempat kami berbelok tadi. Tak lama kemudian tibalah mereka, dua oto plat merah dalam iringan.

Tiga orang yang pergi makan.
Tiga orang yang pergi makan.

Selain mengetahui bahwa salah seorang pejabat ialah kamanakan induk semang kami, kami juga baru mengetahui kalau abang dari induk semang kami rupanya salah seorang pejabat pula di kota tempat kami bekerja. Rupanya, Engku Wali telah datang semalam dan pagi ini Engku Wakil yang sedang duduk manis di rumah, ditambah dengan Kadis, sekretaris, dan dua orang Kepala Bidang dari kantor kami, maka bertambahalah jumlah pejabat di rumah ini. Dan agaknya akan bertambah jua seorang lagi..

Tak berapa lama duduk, seorang kawan mengajak kami untuk keluar, mencari makan. Memanglah telah mulai lapar perut ini, di jalan kami tiada pula membeli makanan untuk dimamah selama di atas oto. Bertiga kami berjalan, akhirnya kami putuskan untuk makan di sebuah kedai yang terletak di simpang jalan menuju ke rumah induk semang kami. kami pesan tiga teh manis dan memakan beberapa roti dan makanan ringan yang ada di Lepau[7] itu.

Saidi Palindih sedang bercakap-cakap dengan Engku Tukang Minta Sumbangan
Saidi Palindih sedang bercakap-cakap dengan Engku Tukang Minta Sumbangan

Di lepau itu rupanya sedang duduk seorang engku yang rupanya tukang meminta sumbangan keliling atas nama masjid. Saidi Palindih menyapanya dan kemudian mereka terlibat dalam percakapan hangat. Si engku tukang ota[8], Saidi Palindihpun pandai pula meota. Ditanyanya kami dari mana, Saidi Palindihpun bertanya dia dari mana. Tanpa diminta si engkupun menjelaskan perihal pekerjaan yang dijalaninya. Dahulunya ia ialah seorang petani dan sekarang ialah Tukang Minta Sumbangan. Hasil dari minta sumbangan dibagi dua antara ia dan pengurus masjid. Usianya baru 59 th, kata Saidi Palindih “Sudah hampir mencapai usia nabi agaknya..”

Tatkala sedang asyik bercakap-cakap, lalulah dua orang kawan kami bersama kamanakan induk semang kami yang juga salah seorang pejabat di kantor kami. Mereka hendak mencari makanan nan lebih berisi di kedai seberang jalan nan sedang penuh oleh engku-engku. Makan soto mereka, bingik dan sial kami karena hanya mendapat segelas teh, satu roti, sebungkus kerupuk, dan satu makanan ringan. Nasib..

Sedang makan tengah hari di tarkatir Engku Wakil
Sedang makan tengah hari di tarkatir Engku Wakil

Tak berapa lama kemudian si engku pergi, dan tak berapa lama kemudian datang bergabung bersama kami salah seorang kabid. “Haa.. engku tinggalkan saja awak..” ujarnya sambil tersenyum.

“Engku sedang asyik maota tampak oleh kami..” jawab kami sambil tersenyum pula.

Tak berapa lama kemudian bergabung pula dengan kami Engku Sekretaris dengan seorang kawan, lengkaplah kami berenam di lepau itu. Tatkala sedang asyik maota-ota, lalulah seorang pejabat dengan nomor polisi otonya angka sembilan terbalik, disapanya kami dengan sanyum berwibawanya dan kami yang ada di dalam kedaipun menyapa pula. Engku Wakil agaknya, dan lengkaplah dua orang engku wakil bersua di rumah induk semang kami.

Nanti selepas zuhur, rombongan kami ditambah dengan engku wakil beserta romobongan ditraktir oleh engku wakil sini makan tengah hari. Tak jadi dipakai oleh Rangkayo Bendahara uang yang telah disediakan semenjak berangkat dari kantor tadi.

Sedang makan tengah hari di tarkatir Engku Wakil
Sedang makan tengah hari di tarkatir Engku Wakil

Lepas makan, kami kembali ke rumah induk semang kami, jenazah belum jua dikuburkan namun tatkala kami kembali jenazah sedang dikafani. Namun tak berapa lamanya kami duduk, beberapa orang kawan-kawan telah bergerak hendak pulang, dan kami semua mengekor. Tinggallah engku kadis, dua orang kabid, dan seorang kawan kami menanti sampai jenazah dikuburkan, demikian pula dengan dua orang engku wakil.

Maka berangkatlah kami pulang, tak jauh berjalan oto sekretaris yang ada di hadapan kami putar arah, lupa kalau jalan ditutup karena Hari Pakan [9] di Pakan Balai Tangah. Tadi ketika kami hendak berangkat jua tertumbuk di pasar ini namun ditunjuki oleh orang jalan lain.

Demikianlah, sepanjang jalan pulang kami coba melihat-lihat nama nagari nan kami lalui. Ada Nagari Ladang Laweh, Labuah Gunuang, Mungo, dan eh.. ada pula nagari nan bernama Gadut, nagari bernama serupa jua ada di Bukit Tinggi dan Padang, kalau di Padang terkenal sebagai tempat beradanya rumah sakit untuk orang yang kurang sehelai atau beberapa helai alias GILA.

Akhirnya kami sampai kebali di kantor pukul empat petang, demikianlah perjalanan hari ini. Semoga hari-hari besok kami semakin sering berjalan-jalan..

[1] 8 April 2015

[2] aslinya manjanguak (Min) artinya pergi Takziah untuk orang yang meninggal, membesuk untuk orang sakit.

[3] Mobil

[4] Sebenarnya Saidi Palindih tiada suka dan tiada pernah mengakui kalau oto itu miliknya, melainkan ia selalu menjawab “Punya mertua awak ini..”

[5] Baso ialah sebuah kawasan di Kabupaten Agam, tak jauh dari Kota Bukit Tinggi

[6] Sesat

[7] Lepau, Kedai (Min), warung dalam bahasa Indonesia

[8] Ota (Min), berbincang-bincang, bercakap-cakap, ngobrol

[9] Hari Pakan maksudnya ialah hari pekan atau hari pasar. Pasar yang dimkasud ialah Pasar Tradisional yang diadakan hanya sekali sepekan atau dua kali sepekan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s