Pegawai nan Saudagar

Ilustrasi Gambar: Internet*
Ilustrasi Gambar: Internet*

Pada suatu ketika kami mendapati Saidi Palindih kawan kami sedang bercakap-cakap dengan beberapa orang kawan sekantor kami di tempat parkir onda. Pembicaraan mereka tampak asyik sekali, yang menjadi tema percakapan mereka ialah perihal gaji pegawai yang sedikit dan pensiun yang rencananya akan dihapuskan. Sudah sama pula awak dengan pegawai swasta.

“Kalau ditimbang-timbang untuk masa sekarang, awak mesti punya penghasilan di luar penghasilan sebagai pegawai. Sebab kalau bergantung kepada dari gaji sebagai pegawai saja maka tiadakan terpenuhi kebutuhan setiap bulannya. Apalagi anak-anak sudah beranjak gedang[1] tiada sedikit kebutuhan mereka itu..” terdengar oleh kami seorang kawan memberi ujaran.

Pendapat demikian dibenarkan oleh yang lain, terutama Saidi Palindih yang segera melihat kami. Kamipun tersenyum karena memang demikianlah adanya. Kata orang gaji pegawai itu besar, namun hanya sebatas kata orang, karena gaji yang demikian hanya dapat menutupi kebutuhan seorang diri saja. Banyak diantara para pegawai yang cerdik, pandai mengambil kesempatan, dan berjiwa saudagar telah memiliki usaha di luar lingkungan pegawai. Bahkan lebih besar pula penghasilan mereka setiap harinya dibandingkan gaji sebagai pegawai setiap bulannya.

Menjelang tangah hari kami dan Saidi Palindih kembali bercakap-cakap bertukar fikiran. Telah lama kami mencari-cari rancangan usaha apa yang dapat kami lakukan sebagai pegawai. Usaha berjalan namun pekerjaan sebagai pegawai tiada tergaduh, demikianlah harapan kami. Telah banyak ide nan kami perbincangkan namun hanya sebatas perbincangan saja balum ada langkah nyata yang kami lakukan.

“Serupa kata Engku Bob, kalau hendak berniaga maka mulailah dengan tindak nyata jangan hanya sabatas kata-kata saja. Ini awak masih bercakap dan berkhayal perihal jenis niaga yang hendak kita usahakan..” ujar Saidi Palindih sambil tersenyum sedih. Kata-katanya menertawakan nasib kami berdua, dua orang pegawai panjang angan-angan yang tiada puas dengan gaji dan berkhayal menjadi orang kaya dengan berniaga.

Di tengah kejenuhan tersebut kami telah mulai meancang-ancang gerangan jenis usaha apa yang cocok untuk kami. Akhirnya fikiran kami melayang ke masa beberapa malam nan silam tatkala kami makan nasi goreng di sebuah kedai tenda tatkala baru sampai dari Padang. Maka terucaplah oleh kami “Awak sudah payah berfikir namun belum jua dapat. Bagaimana kalau begini, kita menjual nasi goreng, banyak peminatnya itu. Kita buka tenda selepas pulang kerja hingga magrib sudah cukup itu..”

Mendengar ide dari kami, Saidi Palindih langsung nyalang matanya, merah mukanya, dan tersungging senyum di wajahnya “Haa, cocok engku, cocok. Modalnya Cuma nasi, garam, bawang, lado[2], bawang perai, kecap, dan beberapa bumbu lainnya..” ujarnya bersemangat “peminatnyapun banyak, tengoklah betapa banyak kedai yang menjual nasi goreng..”

“Tapi tempatnya dimana engku? Lapangan Kantin sudah penuh, Stasiun demikian juga, Simpang Yarsi apalagi. Lagipula modal keluar tidak hanya itu saja, gerobak, kompor, tabung gas, bangku, kursi, peralatan makan, dan lain sebagainya..” kenang kami.

Rupanya hal tersebut tiada mengendurkan semangatnya, Saidi Palindih mengamalkan petuah; punya niat, amalkan dan usahakan, serta jangan berpangku tangan. “Hm.. ada satu tempat engku, di rumah etek isteri awak. Namun berbicaralah awak dahulu kepada dia dan mertua, apakah dapat tempat itu kita pinjam saja. Tempatnya strategis, terletak di batas kota dan sering menjadi tempat berhenti angkot..”

“Ya.. ramai pula tempat orang berlalu-lalang..” tambah kami karena sering melalui tempat yang dimaksud oleh Saidi Palindih tatkala hendak berangkat dan pulang kerja “Rundingkanlah dahulu dengan isteri dan mertua engku, awakpun akan merundingkannya pula di rumah..” ujar kami.

Seharian itu Saidi Palindih tampak bersemangat sekali, hilang rusuh di hatinya. Maka mulailah ia berangan-angan “Apa nama tempat usaha awak itu engku..?” tanya Saidi Palindih kepada kami, kamipun tersenyum. Beragam nama dikemukakannya dan membuat kami tersenyum dalam hati “Biasanya kalau sudah diangan-angankan serupa ini tiada akan berlaku..” ujar kami dalam hati.

Nama-nama yang dikemukakan oleh Saidi Palindih itu bermacam-macam; Nasi Goreng Batas Kota karena terletak di perbatasan kota atau Nasi Goreng Manenggang karena diniatkan harganya murah saja. Namun kami lebih suka namanya ialah Nasi Goreng Napal yakni singkatan dari Nagari-Palindih, gelar kami berdua. Namun Saidi Palindih tiada suka, lalu kami tukar “Kalau Pana saja bagaimana engku..?”

“Apa itu Pana?” tanyanya

Dengan tersenyum kami menjawab “Palindih-Nagari..” sama saja, dan kami berduapun tertawa karena Pana dalam bahasa Minangkabau berarti terpana.

Hari itu, dua orang pegawai pandir sedang berangan-angan hendak membuka usaha guna menambah penghasilan mereka yang tak seberapa. Dan tampaknya Allah Nan Kuasa masih hendak menguji mereka, karena keinginan mereka tersebut tak mendapat restu dari keluarga mereka berdua. Dan kembalilah mereka kembali menjadi Tukang Khayal serupa Pak Belalang, mudah-mudahan saja nasib mereka sama dengan Pak Belalang nantinya, menjadi Orang Kaya Besar, Amin..

* https://teguhalkhawarizmi.wordpress.com/2013/01/24/kita-dan-mindset-menjadi-pns/

[1] Gadang (min),besar, dewasa

[2] Lado (min), cabe

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s