Hujan nan penuh cerita

hujanPetang hari ini, kami terkenang dengan masa kanak-kanak, berlari-lari di tengah hujan. Itulah yang kami lakoni dengan Saidi Palindih kawan kami pada petang hari ini tatkala balik dari surau. Berlari-lari di tengah hujan lebat serupa kanak-kanak yang sedang tagia[1] bermain hujan.

Sebenarnya hujan telah turun petang hari ini tatkala kami hendak berjalan ke surau bersama Saidi Palindih. Mulanya berdengkang-dengkang bunyi air hujan beradu dengan atap, kemudian perlahan-lahan mulai lebat. Melihat kekerasan hati Saidi Palindih hendak Shalat Ashar di surau, kamipun malu. Kalaulah tak dibawa oleh Saidi Palindih, mungkin kami akan memutuskan shalat di kantor saja.

Namun ada yang aneh tatkala kami shalat di surau, ada seorang yang masbuk namun dia shalat malah menjauh dari kami yang kebetulan berada pada shaf paling tepi. Siapakah orang ini? Bencikah ia dengan kami? Busukkah bau badan kami ini? Ada kesam[2] apakah ia dengan kami?

Entahlah namun selepas salam kami pandangi orang ini, kami tiada kenal. Entah dari mana dan bernama siapa serta beraliran apapula ia. Bercelana levis sampai ke tapak kaki, berbaju kaos, dan berkulit sawo matang, rambut agak panjang menutupi telinga dan agak ikal pula. Adakah engku tahu siapa gerangan orang ini?

Hujan tiada berhenti sampai kami tiba di rumah, pada beberapa bagian jalan tampak air tergenang tanda banda[3] agak tersumbat, ada juga yang tak memiliki saluran air sehingga wajar air tergenang.

Tatkala sedang khusyuk mengemudi kami dapat seorang engku membawa onda menatap panjang dengan tatapan permusuhan kepada sebuah oto yang baru saja berselisih dengan kami. Kena kapacak-an[4] air yang tergenang di jalan ia. Hal ini karena oto tersebut melaju agak kencang. Dahulu kami pernah kena picaruik-i[5] oleh seorang engku pengendara onda karena kami tiada sengaja memercikkan air kepadanya.

Hujan tiada rata, pada satu tempat lebat, kemudian di tempat lain hanya rinai. Ada jua tampak oleh kami sarok[6] yang dibawa oleh air ke tengah jalan, tanda tadinya hujan lebat di tempat itu. Demikianlah, begitu beranjak mendekati magrib hujan mulai reda dan hilang sama sekali.

Demikianlah kenang-kenangan untuk hari ini, bagaimana dengan engku, rangkayo, serta encik sekalian?

[1] Suka, senang

[2] Dendam

[3] Selokan

[4] Percikan

[5] Umpatan Paling Kasar

[6] Sampah

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s