Si Tungau Berbuat Ulah

Ilustrasi Gambar: Internet*
Ilustrasi Gambar: Internet*

Kisah ini ialah perihal beberapa orang kuli yang biasa membanting tulang untuk menyambung hidup. Sebenarnya tidak pula sampai tulang, biasanya mereka membanting palu, batu, balok kayu, cangkul, dan lain sebagainya.

Pada suatu hari yang biasa ditetapkan sebagai hari pembagian upah, suatu hari yang sangat dinanti dan dirindukan oleh sekalian para kuli. Maka bersiap sedialah mandor atau bahasa kerennya supervisor namun di lidah Melayu para menjadi super profesor, untuk membagikan upah. Namun ada yang janggal “Kemana perginya wakil Super Profesor yang temok dan bohay itu?” ujar para kuli dalam hati.

Maka disebutlah nama para kuli satu persatu, sesiapa yang tersebut namanya mesti datang menghadap, berdiri dengan posisi siap grak di hadapan meja Super Profesor. Disuruh menandatangani beberapa kertas yang nantinya akan menjadi pertanggung jawaban bagi Super Profesor, menerima uang, dan kemudian pergi dengan mulut naik setiap ujungnya pertanda senyum kesenangan.

Maka tibalah pada giliran Si Pakiah, terdengar suara serupa suara si GIANT “Pakiaaaah..!!” bentak Super Profesor dengan suaranya yang membahana, bahkan koncat[1] pun akan berhenti melonjat apabila mendengar suara nan membahana itu. Si Pakiah maju tergopoh-gopoh, hatinya senang bukan kepalang, betapakan tidak isteri tersayang sudah sering memasak mie instan untuk kawan makan nasi, bahkan lado[2] pun mereka tak punya karena mahalnya. Padahal lado ialah wajib hukumnya bagi orang Minang sebagai kawan makan.

“Engku Pakiah, upah engku awak potong seringgit ya. Ini karena engku pernah tidak masuk kerja beberapa hari..” ujar Super Profesor sambil tembak ditempat.

Si Pakiah terpana, dia tiada bekal jawapan, lagi pula Pakiah bukanlah jenis orang yang pandai bersilat lidah, pandai berdebat, pandai mengelak, ataupun pandai meloncat. Dia bukan nyamuk, bukan kodok, bukan pula tupai.

Seorang kawan yang bernama Mariati membela Si Pakiah “Mana pula engku, bila ia tiada hadir bekerja?! Awak ini saksinya berserta kawan-kawan..”

“Hei.. diam engkau, awak tak tanya engkau, ada pesuruh saya tukang awasi dan tukang lapor apabila ada yang janggal..!” jawab Super Profesor panas.

Mendengar ada ribut-ribut maka keluarlah Engku Kepala Mandor dari dalam kantornya. Semenjak awal dia telah memperhatikan pembagian upah yang dilakukan oleh Super Profesor dan telah kesal pula hatinya melihat segala ketidak beresan yang berlaku dalam pembagian upah ini. Ketidak hadiran Si Temok bin Bohay telah menimbulkan kecurigaan pada dirinya.

“Hei..! Engkau Super Profesor, engkau panggil anak buah engkau tukang lapor itu!!” perintahnya kepada Super Profesor.

Si Super Profesor diam saja, merah mukanya, akhirnya salah seorang kuli memanggil tukang lapor Laknat itu. Semua orang sudah tahu akan tingkahnya, terlalu berambisi sebagai seorang kuli, dasar Katak Hendak Jadi Lembu. Si Tungau,[3] demikianlah dia digelari dan telah lekat pula sebagai pengganti nama pada dirinya. Semua orang mengenali dirinya sebagai Si Tungau, cocok dengan orangnya.

Ketika ditanya perihal ketidak hadiran Si Pakiah, Si Tungau mengatakan bahwa “Pakiah tak tiba kerja selama dua hari..” yang mana membuat kawan-kawan sesama kuli kesal bukan main.

“Hei engkau, bagaimana engkau kata Pakiah tiada hadir, sepanjang hari kami bekerja bersama-sama..!” bela Mariati.

Si Tungau yang selama ini sangat gentar apabila berhadapan dengan Si Mariati berujar kemalu-maluan “Eh.. tak pula awak tahu Engku Mandor..” ujarnya tak tahu malu. Sebelumnya dikatakannya Si Pakiah tiada hadir, sekarang dijawabnya tak tahu.

“Bagaimana engkau ini, lapor yang benar..!!” bentak Super Profesor demi menghilangkan malu.

Maka, berkat Si Mariati, Si Pakiah menerima upah bulan nan lalu secara penuh. Setidaknya isterinya yang sedang bunting dapat diberinya makanan yang sehat. Berterima kasihlah ia banyak-banyak kepada Mariati, tak henti syukur diucapnya. Memanglah selama ini, antara Si Pakiah dan Si Mariati sudah serupa adik dan kakak saja. Senasib, seperasaian, serta seiya-sekata pula.

Kesal bukan main hatinya mengenang Si Tungau “Dasar Tungau, suka sekali menyengsarakan orang..!”

* https://islamkajian.wordpress.com/2014/03/17/hilangkanlah-sifat-dengki/

[1] Kodok

[2] cabe

[3] sejenis serangga kecil yang biasa menyerang tubuh manusia dan menyebabkan gatal-gatal. biasanya menyerang bagian tubuh yang vital.

Advertisements

One thought on “Si Tungau Berbuat Ulah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s