Macet &Ekonomi Rakyat

Para pedagang
Para pedagang

Pada suatu ketika kami pernah mendengar St. Pangulu dan Saidi Palindih bertukar fikiran, ketika itu kami hendak pergi makan tengah hari bersama dikala hujan deras melanda kota kami “Sebenarnya jalan nan buruk penyebab macet itu tiada perlu diperbaiki, rusak ekonomi orang nanti dibuatnya..” tingkah St. Pangulu memancing Saidi Palindih.

“Ha.. sependapat awak itu engku..” jawab Saidi Palindih. Kami yang sedang duduk di kursi belakang menjadi keheranan, sungguh ajaib makhluk nan berdua ini dapat sefaham, biasanya mereka bertengkar bersitegang urat mariah karena berlainan faham.

St. Pangulupun tertawa senang, mungkin senang dengan sejarah baru hubungan mereka berdua yang biasanya penuh sengketa “Coba saja engku-engku bayangkan. Dikala macet akan ramai para pedagang menghapiri oto awak, jual rokok, air minum, kerupuk, kacang, tahu, dan lain sebagainya. Namun apabila jalan bagus maka kehilangan lahan kawan-kawan awak ini..” terang St. Pangulu.

Saidi Palindih agaknya tiada hendak kalah walaupun sependapat “Benar engku, hidup jua ekonomi rakyat. Jadi tiada perlu orang memperbaiki jalan di negeri kita ini..” balasnya lagi. Kami semua tertawa berderai mendengarnya.

Engku Tukang Minta-minta
Engku Tukang Minta-minta

Kami terkenang kembali dengan kisah tersebut tatkala pada suatu Senin kami terjebak macet di Pasar Koto Baru, ketika oto bus yang kami tumpangi berhenti karena macet maka dengan segera para pedagang mulai berdatangan,  menawarkan segala rupa dagangan mereka. Laki-laki dan perempuan semuanya beradu peruntungan mencari rupiah berharap akan ada yang membeli dagangan mereka. Selain dari para pedagang juga tampak oleh kami salah seorang engku tua pengemis juga sedang mencari peruntungan.

Terfikirkan oleh kami, dilain hari selain hari Senin dimanakah mereka berjualan?

Dan tampaknya anggapan Saidi Palindih dan St. Pangulu agaknya tiada benar sebab jalanan bagus dan mulus, tiada rusak namun para pedagang masih dapat mencari rupiah. Menurut kami, jalanan perlu diperbagus namun dibuatlah titik-titik kemacetan serupa pekan atau pasar yang mengganggu pengguna jalan atau acara helat pernikahan yang memakai sebagian badan jalan, perbaikan jalan yang memaksa jalan ditutup sebelah, dan lain sebagainya.

Jangan dibirkan rusak karena dapat menjadi penyebab kemalangan bagi pengguna kendaraan..

Advertisements

6 thoughts on “Macet &Ekonomi Rakyat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s