Tukang Minta-minta

Tukang Minta-minta
Tukang Minta-minta

Hujan semakin deras saja, tidak lagi rinai seperti sebelumnya. Tibda-tiba seorang engku berteriak menyeru kepada Saidi Palindih dari dalam sebuah lepau. Engku itu ialah kawan kerja kami yang satu kampung dengan Saidi Palindih, sedang makan tahu isi ia. Saidi Palindihpun mengajak kami ke lepau tersebut, maota-ota.[1]

Mantap agaknya ota mereka, kami hanya mendengarkan saja sambil sesekali tersenyum dan mengiyakan entah apa yang mereka perdebatkan. Sama-sama keras urat leher mereka berdua, terkadang tertawa terkadang serius, demikianlah. Tak lama kemudian bergabung seorang engku, tukang parkir di kawasan ini, sudah empuluhan kiranya umur si engku.

Tak lama setelah engku tukang parkir ini bergabung maka minta permisilah si engku kawan kami ini. Belagak pula minta dihitung semua yang dimakan dan diminum dan kemudian dia berkata “Si Palindih yang bayar..” yang mengundang gelak tawa kami semua.

Kemudian kembali kami khusyuk dengan percakapan dengan ota yang beraneka ragam. Hingga kemudian kami melihat seorang pengemis yang dituntun oleh seorang anak masuk ke dalam kawasan objek wisata tempat kami sedang bertugas, kami ambil gambarnya. Si Pengemis telah acap kali tampak oleh kami, berbadan besar dan sehat dengan mata yang dipicing-picingkan serta lebay dalam meminta sedekah.

Si Engku Tukang parkir agaknya faham dan mengisahkan bahwa Si Pengemis itu pernah sekali bertengkar dengan preman sini. Ceritanya tatkala hendak menyeberang, anaknya yang menjadi penuntun berseru “Menyeberang kita lagi yah..”

Lalu mendapat jawapan dari sang ayah “Menyeberang apa di kamu ini, tengoklah onda sedang melaju dari arah sana..”

Mendengar jawapan yang demikian maka bersoraklah para preman membongkar tipuannya. Namun si pengemis tiada hendak kalah “Saya ini mantan preman di kamu..!”

Namun para preman disana tiada hendak kalah, dibabat habisnyalah si pengemis yang mantan preman ini. Akhirnya dia pergi sendiri membawa kalah.

Ada pula kisah yang lainnya dari si engku tukang parkir, dahulu pernah ada seorang tua yang meminta sumbangan untuk pembangunan sebuah surau. Lalu dimintalah ke sebuah kedai di tempat ini, kebetulan pula di kedai tersebut sedang duduk salaha seorang pengurus surau yang suraunya diijadikan kambing hitam oleh si engku tua peminta sumbangan.

“Awak tengoklah surat dari engku ini ya..” kata si pengurus tersebut. Si engku tua peminta sumbanganpun memberikan. Begitu sampai di tangan si pengurus, surat itu langsung dicabik-cabiknya sembari berkata “Ini surau sudah tidak serupa dengan yang difoto itu lagi engku. Sudah bagus sekarang dan telah lama selesai pembangunannya. Awak ialah salah seorang pengurusnya dan kami tidak pernah meminta engku untuk meminta sumbangan untuk surau kami ini..!”

Terdiamlah si engku tua peminta sumbangan, langsung dibawa ke kantor polisi. entah bagaimana kisah selanjutnya namun si engku tua tersebut tiada lagi pernah datang ke sini, mungkin sudah pensiun.

1. Bercakap-cakap

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s