Dilema Guru Honor

Ilustrasi Gambar: Internet*
Ilustrasi Gambar: Internet*

Ini ialah kisah yang kami dapatkan dari curaian kawan kami, perihal kisah salah seorang kawannya sesama mengajar di sekolah tempat ia mengajar sekarang. Kawannya tersebut ialah seorang guru honor, usianya setahun di bawah kami namun menurut cerita kawan kami wajahnya lebih tua dari usianya “Mungkin karena beratnya tantangan hidup yang dialami oleh kakak itu engku..” ujar kawan kami.

Sebut saja namanya Kak Ria, tinggal sekitar kurang lebih satu kilometer dari sekolah tempat mereka mengajar. Kalau hendak pergi sekolah ia diantar oleh adiknya yang juga seorang tukang ojek, kalau adiknya bertingkah maka terpaksalah ia menyewa ojek sendiri. Kalau hendak pulang, jika nasib sedang elok dimana  kawan-kawan bermurah hati maka ia akan diberikan tumpangan, apabila tidak maka terpaksalah ia naik angkot. Jarak sekolah dengan jalan besar sekitar setengah kilometer kurang lebih, dan itu harus ditempuh dengan berjalan kaki.

Suaminya bekerja tak tentu, terkadang mencari belut atau ikan, namun lebih banyak tak jelas. Pergi pagi dan pulang petang, terkadang ada membawa terkadang tidak, “Pernah suatu ketika suami Kak Ria membawa ikan atau belut yang tiada seberapa yang membuat kesal hati Kak Ria engku..” kisah kawan kami.

“Tak baikan serupa itu rangkayo, suaminya telah berusaha dalam sehari walau itulah rezki yang didapat..” bela kami kepada sesama lelaki dan sesama suami serta pemimpin rumah tangga.

“Benar engku, mungkin karena himpitan keadaan yang tak tertanggung, kedaan di sekolah serupa itu, keadaan di rumah serupa tapi tak sama. Pernah suami Kak Ria memberikan saja hasil pencariannya yang sedikit kepada kawannya karena takut dimarahi isterinya..” jawab kawan kami.

Demikianlah, mereka telah memiliki dua orang anak dengan si sulung yang baru berumur sekitar lima tahun. Tinggal masih bersama orangtuanya dan inipun menjadi sumber masalah lainnya, si anak rupanya dimanjakan oleh orangtua dan adik-adik Kak Ria. Hal ini membuat dirinya menjadi serba salah dan geram, dibiarkan maka si anak akan tumbuh menjadi anak yang tak tahu diuntung, tak berbudi, dan mengesalkan banyak orang. Apabila disapa atau ditegah maka orang tua serta adik-adiknya yang akan marah.

Untuk menambah penghasilan keluarganya maka Kak Ria menyiasati dengan membawa dagangan ke sekolah. Bakwan, tahu isi, mie goreng, nasi goreng, lapek, agar-agar sipulut, [1]kue lapis, dan sala[2] kesemuanya dibawa dalam keranjang yang biasa dipakai di supermarket. Oleh karena itulah maka pada pagi hari terpaksa ia memakai ojek dan baru pada saat hendak pulang baru dapat naik angkot yang lebih murah harga sewanya. Terkadang jualan Kak Ria habis terkadang tidak, demikianlah untung perasaiannya.

Namun dahulu pernah ada orang yang mempermasalahkan kegiatan berjualan Kak Ria, ujung-ujungnya ialah karena persaingan usaha, terhimpit gelombangnya. Yang punya ulah ialah salah seorang pedagang yang berjualan di dekat sekolah mereka. Mengadu ke sekolah dan komite dan akhirnya Kak Ria ditekan untuk tak berjualan lagi.

“Sungguh sedih dan geram hati ini engku, ada salah seorang anggota komite telah tua engku itu, ikut pula menyudutkan Kak Ria, sungguh aneh zaman sekarang..” kesal kawan kami.

Memang zaman sekarang telah banyak membuat kita tak habis fikir, yang tak biasa menjadi biasa terdapati. Orang yang kita sangka dapat menjadi payung tempat berteduh justeru bersikap sebaliknya. Dan kisah Kak Riapun belum usai, Kepala Sekolahpun ikut-ikutan pula, alasan mereka sama “Tak patut seorang guru berjualan serupa itu, malu awak..!”

“Dahulu pernah Kakak ini berjualan di tepi  jalan di hadapan sekolah, menimbulkan permasalahan akhirnya, ada yang tiada suka..” kisah kawan kami.

Dan akhirnya “Tak patut seorang guru berjualan..” menjadi senjata terakhir.

Kami tergelak, entah apa yang menjadi dasar dan pertimbangan dengan mengatakan “Tak patut seorang guru berjualan..” entah apa yang ada difikiran orang yang berpendapat demikian. Kami berseru kesal kepada kawan kami “Dipandangnya semua orang sama dengan dirinya, memiliki penghasilan cukup, kehidupan yang tiada berat, dan berbagai rezki yang disangkanya juga didapatkan oleh orang lain..”

Bukankah cara yang ditempuh untuk menambah penghasilan dirinya dan keluarga ialah cara yang halal? berdagang, berniaga, nabi kita ialah seorang saudagar. Tiada pula melanggar hukum, entahlah kalau ada hukum yang tiada kami ketahui, tiada pula melanggar norma-norma adat ataupun sosial, entahlah  kalau ada norma baru hasil ciptaan “Guru-guru Sertifikasi”.

Banyak kisah guru-guru yang bekerja sambilan untuk menambah penghasilan keluarga, jadi tukang ojek, pedagang, pemulung, dan lain sebagainya. Memang kasus-kasus yang mengemuka banyak terjadi sebelum “Zaman Sertifikasi” setelah ada “Sertifikasi” maka jumlah guru yang hidup melarat mulai berkurang bahkan sudah banyak yang dapat membeli oto[3]. Namun hal itu hanya berlaku bagi guru-guru PNS yang mendapat “Sertifikasi”, bagi guru-guru Non PNS nasib mereka menggenaskan, serupa Kak Ria.

“Kalau dahulu sebelum Zaman Sertifikasi Guru Senior berkata; untuk yang muda-muda sajalah Jam Mengajar itu, kami yang tua-tua ini apalah, sudah hampir pensiun. Sedangkan pada zaman sekarang para Guru Senior yang hendak mendapatkan sertifikasi berburu jam, tiada cukup di sekolah mereka maka mereka melakukan penjajahan ke sekolah lain. Kepada guru PNS, serupa kami yang belum mendapat sertifikasi saja mereka sudah semena-mena, apalagi terhadap Guru Honor engku, nasib mereka lebih parah. Bahkan ada satu orang guru honor telah mengundurkan diri karena telah patah hatinya..” kisah kawan kami pada suatu ketika.

Demikianlah, yang kaya bertambah kaya, yang miskin bertambah miskin. Yang telah sengsara bertambah melarat.

Pernah suatu ketika Kepala Sekolah memerintahkan Kak Ria untuk menghentikan segala kegiatan berjualannya, namun untuk sekali ini berkatalah Kak Ria “Untuk yang ini tiada dapat saya memenuhi keinginan rangkayo, inilah cara saya menambah penghasilan keluarga yang tiada menentu..”

Entah karena tiada memiliki pilihan atau hatinya memang baik, akhirnya Kepala Sekolah mengusulkan agar dagangan Kak Ria diletakkan di koperasi saja. Dan tentu saja disetujui, senang malah hatinya. Hingga kini Kak Ria masih berjualan di koperasi..

*http://illmuislam.blogspot.com/2012/10/umar-pun-pernah-mengubur-anak.html

[1] Di atas agar-agar ditaruh sipulut (beras ketan)

[2][2] Sala memiliki beberapa pengertian di Minangkabau, lazim mengenal sebagai sebuah makanan (gorengan)  yang terbuat dari campuran beras dan ikan yang ditumbuk kemudian dibentuk bulat-bulat seperti bakso dan digoreng. Hasil akhirnya akan berwarna kuning dan terkadang berminyak. Adapun sala menurut pengertian sebagian penduduk di daerah Ketaping (Sebuah nagari yang terletak di dekat simpang menuju BIM) ialah sejenis kerupuk (keripik) yang digoreng dimana di dalamnya ditaruh ikan kecil atau udang.

[3] Mobil.

Advertisements

2 thoughts on “Dilema Guru Honor

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s