Pengalaman di Puskesmas

Ilustrasi Gambar: Internet*
Ilustrasi Gambar: Internet*

Pada suatu hari Jum’at di hari terjepit[1] kami izin tak masuk kantor, semenjak sepekan ini badan kami demam dan puncaknya ialah hari Rabu nan lalu. Kami putuskan untuk pergi ke puskesmas dengan rumah mertua. Sesuai saran isteri kami maka kami pergi pagi-pagi agar tidak terjebak dalam antrian, pukul setengah delapan kami sudah sampai, parkiran masih lengang, dan kami mendapat nomor antrian lima. Pagi ini kami menjadi satu-satunya pasien laki-laki selebihnya ialah amai-amai.

Terakhir kami ke puskesmas ialah di kota tempat kami tinggal dahulu, ketika itu kami kena sakit diare, telah lebih pula setahun nan silam kalau kami tiada salah. Tatkala masih menanti kami berfikir “Gerangan samakah kiranya pelayanan yang kami dapatkan dengan nan lalu?”

Dahulu kami hanya diperiksa tensi dan diwawancarai saja oleh dokter selepas itu diberi resep obat. Adapun dengan pelayanan yang lain baik, memuaskan malah. Rangkayo penanti pasien sangat ramah sekali, sudah lima puluh tahunan kira-kira umurnya. Ditanyai dengan ramah serta diberi nasehat agar berhati-hati dengan air yang diminum, sering-sering memeriksa dan membersihkan galon.

Rupanya berbeda memang, pelayanan masih sama baik, dokter yang memeriksa ialah seorang lelaki, selisih dua tahun di atas kami umurnya. Bahkan tatkala kami tengok nipnya pada surat keterangan sakit yang kami minta sama pulang beberapa angka dibelakangnya. Diterima ditahun nan sama awak rupanya. Orangnya ramah, ditanyai apa penyakit kami kemudian kami disuruh menggolek untuk diperiksa dengan stetoskop, kami juga disuruh membuka mulut, dilihatnya apa saja isi mulut kami. Ada lengkap rupanya.

Selepas itu dokter menerangkan apa penyakit kami sambil menuliskan resep berikut apa saja gejala dan pantangannya. Rangkayo asisten dokter yang telah berumur sekitar limapuluh tahunan juga ramah orangnya. Tidak hanya kami, pasien yang lain juga dilayani dengan baik.

Syukurlah, tidak hanya diwawancarai saja kami serupa yang dahulu. Mungkin dokter yang dahulu memiliki kemampuan ilmu bathin yang tinggi sehingga dengan melihat dan menanyai kami sudah tahu ia apa penyakit dan apa pula obatnya.

*http://kesehatan.kompasiana.com/medis/2011/04/08/perlunya-cek-kesehatan-pra-nikah-353347.html

[1] Hari yang berada di dua hari libur namun tidak dijadikan cuti bersama.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s