Cerah&Mendung

Ilustrasi Gambar: Internet*
Ilustrasi Gambar: Internet*

Hari Ahad ini cuaca cukup panas di Padang, jaket yang kami bawa akhirnya kami putuskan untuk memasukkannya ke dalam tas, syukur ac di dalam bus yang kami tumpangi ada hidup, padahal biasanya tiada pernah. Semenjak berulang ke Padang, hanya dua bus yang kami tumpangi menghidupkan  ac-nya, kedua bus tersebut ialah ialah bus-bus yang berangkat dari arah Padang.

Dikejauhan tampak mendung namun kami terlelap tanpa dapat mengetahui di mana perbatasan hujan dengan cerah dalam perjalanan kami. Kami baru bangun ketika beberapa orang penumpang naik di Lembah Anai, bising mereka, maklumlah induak-induak gaek.

Begitu sampai di Padang Panjang, gerimis mulai mendera dan kemudian hujan, udara dingin tambah menusuk-nusuk dan akhirnya kami keluarkan kembali jaket dari dalam tas dan memakainya.

Bus yang kami tumpangi akhirnya penuh, disebelah kami duduk seorang rangkayo yang usianya kira-kira antara lima puluh hingga enam puluh tahun. Menarik perhatian kami tatkala dalam bus, si rangkayo tampak menikmati lantunan musik yang diputar oleh engku sopir. Padahal musik yang diputar ialah musik disko dan dangdut komplo. Si rangkayo menghentak-hentakkan kadang tumit kadang telapak kaki bagian depan. Sungguh kami takjub, biasanya orang tua tiada suka dengan jenis musik seperti ini.

Kami sungguh terkejut tatkala mulai melalui Nagari Panyalaian, kabut menyelimuti nagari ini padahal hari telah menunjukkan pukul setengah dua tengah hari. Segera kami teringat, nagari inikan memang terletak di lereng bukit berada dipertemuan Gunuang Marapi dan Gunuang Singalang. Letak nagari ini memanjang sepanjang jalan yang menghubungkan Kota Bukit Tinggi dengan Padang Panjang. Sesuai dengan namanya Panyalaian yang asal mula katanya kalau kami tiada salah ialah panyalek-an artinya nagari yang terjepit diantara dua gunung.

Kabut atau embun menyelimuti setiap nagari yang kami tempuhi, dan baru berakhir di Batagak. Begitu kami lepas dari penurunan (atau pendakian) Batagak dimana kami sudah sampai di Nagari Sungai Puar, kabut embun telah hilang digantikan oleh mendung yang kami dapati hingga ke Bukit Tinggi. Angin kencang sambil sesekali rinai (gerimis).

Telah lama tiada kami dapati keadaan demikian dimana tatkala lalu ke Nagari Koto Baru dan Panyalaian kabut atau embun menyelimuti nagari-nagari yang kami lalui tersebut, padahal saat itu tengah hari (atau ada turun namun kebetulan tidak pada hari Ahad dimana kami biasa lalu). Mamanda kami pernah bercerita kalau dia pernah beberapa kali terkicuh tatkala lalu di Koto Baru yang ketika dia lalu diselimuti kabut embun tebal, dikiranya hujan lebat di Bukit Tinggi, eh rupanya tidak cerah meriah yang ada.

Kata kawan kami semenjak pagi memang telah serupa ini keadaan hari. Kami hanya tersenyum dalam hati karena terkadang apabila hujan di Padang maka sampai Bukit Tinggipun hujan pula. Atau seperti saat sekarang, di Padang cerah namun di Bukit Tinggi malok (mendung) disertai dingin menusuk tulang “Telah beberapa kali awak ke jamban (kamar kecil)..” kata kawan kami.

*https://rismarhaesa15.wordpress.com/author/rismarhaesa15/page/2/

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s